Sejak dulu Muhammad Rizieq Syihab (MRS) oleh Gus Dur dikenal dengan sebutan teroris lokal. Hal ini pun diakui MRS atas gelar yang diberikannya dari Gus Dur. Karena itu, tak heran MRS dalam ceramahnya kerap menyuarakan doktrin jihad dan mati syahid meski keberadaan manusianya dalam situasi aman. Jauh dari situasi hiruk-pikuk peperangan serta hujaman panah, doktrin tersebut tetap digencarkan. Ceramah demikian, tentu menyalahi aturan dan pemaknaan jihad serta dapat berbalik menjadi kajian terorisme yang justru mencederai jihad dalam Islam itu sendiri.
Dalam kanal Youtube Mutiara Penerang yang kini juga trending di Twitter, MRS mengatakan dalam ceramahnya untuk menghimbau agar para orang tua tidak takut dan mendorong dengan restu apabila sang anak hendak pergi berjihad, terlebih bersyukur bila sampai tidak kembali lagi dari peperangan atau wafat. Sebab mati saat jihad menjadikan seseorang mati syahid di jalan Tuhan, yang mana dapat membawa 70 orang masuk surga (28/11). Kendati video yang beredar dalam media sosial hanya penggalan ceramah MRS. Namun, dari sekian narasi ceramah yang panjang, ia hanya lebih condong pada kesimpulan menggaungkan jihad peperangan secara fisik.
Terkait hadis jihad yang disampaikan MRS saya masih koperatif, tetapi interpretasi kesimpulan MRS tentang hadis tersebut tidak bisa dibenarkan untuk meliarkan peperangan terjadi tanpa diberi pengetahuan yang cukup kapan peperangan dapat dilakukan dan dilarang serta apa konskuensinya. Andai MRS paham benar tentang hadis jihad, sebagaimana yang selama ini digendangkannya, tentu dapat dijelaskan secara rinci bahwa untuk menjadi syahid bukan saja meninggal dalam peperangan.
Selain terbunuh di jalan Tuhan, ada tujuh macam Syahid lainnya. Dari Jabir Ibnu ‘Atik, bahwa Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah dan mati karena penyakit menular adalah syahid, Muslim yang tenggelam adalah syahid, orang yang mati karena pleuritis, sakit perut, terbakar, tertimbun reruntuhan adalah syahid, termasuk wanita yang mati karena melahirkan adalah syahid. (HR. Ahmad: 5/446, Abu Dawud: 3111, An-Nasai: 4/13-14 dan dishahihkan al-Hakim 1/352 disetujui Adz-Dzahabi).
Berdasarkan hadis tersebut, mestinya makna syahid jangan dipersempit hanya dalam peperangan fisik. Seorang yang tengah menuntut ilmu juga berada dalam jalan Allah. Mestinya, MRS memahami bahwa masyarakat awam sedikit tahu jika mati syahid bisa dalam banyak hal. Sebab itu, mereka harusnya diberi penjelasan yang gamblang agar jihad fisik tidak disalahgunakan. Atau mungkinkah pemahaman terorisme ini sengaja dilegalkan upaya agar terjadinya aksi saling serang? Perlu diketahui menuntut aksi berperang demi mati syahid di kawasan aman adalah tindakan kriminal paham teroris.
Apa yang terdapat dalam ceramah MRS sejatinya bernuansa terorisme. Berani memerintah menumpahkan darah apa yang diklaim tidak sejalan dengan pahamnya adalah ekstremisme yang menafikan segala perselisihan dengan cara yang humanis. Sebab itu, patut dinyatakan bahwa ceramah-ceramah MRS yang mendorong untuk mati syahid dan berdampak pada munculnya korban aksi penyerangan, bukan diserang merupakan ceramah kajian terorisme.
Meminjam istilah populer Pramoedya Ananta Toer dalam buku Bumi Manusia, seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan (1975). Bila dorongan mati syahid harus dengan cara memulai lebih dahulu membunuh pihak lain demi mendapat surga, sementara pihak yang terbunuh, baik yang menyerang maupun diserang memiliki orang tua renta yang perlu diurus, anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan orang-orang sekitar yang perlu penghidupan dari tanggungannya.
Maka dari itu, jelas mati syahid yang diimpikannya termasuk ketidakkadilan sejak dalam pikirannya. Sebab boleh jadi ia menyengsarakan orang yang ditinggalkan tanpa memikirkan nasib orang lain. Catatan lain yang perlu ditandai tentang syahid, tentunya kita tidak mempunyai hak menentukan seseorang masuk surga atau neraka, meski yang meninggal dinilai masuk dalam kriteria syahid, seperti hadis yang tersebut di atas. Sebab kita bukan panitia akhirat dan itu hak progretif Tuhan yang keputusannya tidak bisa diganggu gugat manusia siapa pun.
Para orang tua pun demikkan, sudah patutnya memelihara anak-anak dari doktrin mati syahid sebagaimana ceramah MRS yang berpotensi pada terorisme. Masa anak-anak adalah masa untuk bermain, belajar dengan tekun, berbakti kepada orang tua, dan menciptakan hal-hal brilian upaya dalam memajukan peradaban bangsa-negara dari keterbelakang pemikiran dan ketertinggalan pesatnya kemajuan teknologi.
Oleh karena itu, ceramah bernuansa terorisme mesti diwaspadai karena dapat membahayakan dan merugikan banyak orang. Indonesia jangan sampai seperti Suriah yang negaranya selalu digempurkan oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria), yakni jaringan teroris yang dikenal paling tidak berkemanusiaan. Pada akhirnya, semoga kita senantiasa dapat terjaga dari benih-benih terorisme yang bersumber dari manusia berjubah agama. Dan yakin bahwa Indonesia dapat mewujudkan negara damai dengan anti-terorisme.