Setelah sekian lama tidak terdengar kabar, nama ustadz Abdul Somad atau akrab dipanggil UAS mulai menarik perhatian publik. Hal ini dilandasi atas beredarnya video dimedia sosial facebook dan twitter yang menyatakan dukungan politiknya terhadap pasangan calon (paslon) nomer urut 1. Video itu diunggah ke media sosial oleh Tim Pemenangan Akhyar-Salman atau AMAN. Beberapa video itu mulai muncul pada Senin (30/11/2024). UAS secara terang-terangan mendukung paslon Ahyar-Salman di pilkada kota Medan.
Tak hanya menyampaikan dukungan langsung pada paslon pilkada di kota Medan lewat unggahan video, UAS juga masuk dalam tim kampanye pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Hafit Syukri-Erizal ST di pilkada Rokan Hulu, Riau. UAS telah legal menjadi juru kampanye (jurkam). Hal itu disampaikan oleh Ketua KPU Rokan Hulu, Elfendri pada Jumat (27/11/2024). Menurut Elfendri, posisi UAS dalam SK Tim Kampanye Koalisi Rakyat Bersatu nomor: 01/SK/H-E/IX/2020 hanya sebagai tim, bukan ketua tim.
Selain menjadi jurkam di Rokan Hulu dengan mendukung paslon Hafit-Erizal, menurut video yang beredar, UAS juga menjadi jurkam di kabupaten Pelalawan. Dalam video itu UAS menegaskan mendukung paslon Haji Sukemi-Rais. Alasan UAS mendukung paslon tersebut, pertama karena paslon mengusung konsep peningkatan SDM di Pelalawan. Kedua, konsep agamis yang dinilai tak dapat dipisahkan dari Tanah Melayu.
Kabar terjunnya UAS ke ranah politik memang bukan sesewatu yang mengagetkan. Sah-sah saja, itu hak setiap orang masuk ke dunia politik, tidak ada larangan khsusus. Namun yang menjadi perhatian penulis adalah sikap dan pernyataanya UAS dalam satu ceramahnya tempo hari. Dalam kanal Youtube “Mustika Islam” dengan judul “Reaksi UAS saat dituduh ustadz politik” menampilkan ketika UAS menanggapi salah satu permintaan jamaahnya agar UAS tidak ikut-ikutan berpolitik.
UAS menjelaskan, bahwa dirinya tidak pernah ikut politik, “Saya tidak pernah ikut politik. Dengarkan ceramah saya dari A-Z. Saya tidak pernah ikut politik, saya bukan orang partai. Saya tidak pernah menyebut calon, tidak menyebut partai.” Video itu diunggah pada 18 April 2020, atau sekitar sembilan bulan yang lalu.
Membandingkan pernyataan UAS sembilan bulan yang lalu dengan keadaan UAS sekarang, tentu kita bertanya-tanya, ada apa dengan UAS ini? Masih layakkah ia disebut sebagai ustadz? Bagaimana tidak, seorang ustadz, tokoh agama, tetapi seakan ia menjilat ludahnya sendiri, atau dalam istilah al-Quran disebut Kabura Maqtan. Mengajak tetapi tidak melaksanakan.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 44, Mengapa kalian mengajak orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri (akan kewajiban) mu sendiri, padahal kalian membaca al-kitab? Maka, tidakkah kalian berfikir?
UAS nyata telah mengingkari apa yang telah ia ikrarkan. Terlebih janji itu ia sampaikan dihadapan jamaahnya, disaksikan Allah SWT. Atas dasar alasan apa dengan gampangnya ia berubah haluan? Sedang dalam ayat lain Allah SWT mengingatkan, Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS. As-Shaff:3)
Kejadian semacam ini juga pernah terjadi pada masa Rasulullah, seperti di ceritakan Imam Al-Qurthubi. Saat itu sebagian kaum Yahudi Madinah menyerukan kepada keluarganya, mertuanya, saudara susuannya untuk menjadi Islam; “teruskanlah, tetap konsistenlah terhadap apa yang kamu anut dan apa yang orang ini (Nabi Muhammad) perintahkan. Perintahnya adalah benar.”
Mereka memerintahkan seperti itu kepada orang-orang, padahal mereka sendiri tidak melakukannya. Ibnu Abbas juga mengisahkan, “para pendeta (Yahudi) memerintahkan kepada para pengikutnya untuk mengikuti kitab Taurat, padahal mereka sendiri tidak melaksanakannya, karena mereka sendiri mengingkari sifat Nabi Muhammad SAW.”
Bukan bermaksud menyamakan UAS dengan kaum Yahudi zaman Rasulullah, namun setidaknya dari kejadian-kejadian semacam itu dapat mengambil pelajaran dan menjadikan pengingat bahwa seseorang yang menyeru kebaikan, sekelas UAS pun tidak selalu berpegang pada omongannya sendiri. Maka hendaknya, kita mesti pandai-pandai memilih da’i. Silakan para da’i, ustadz, kiai, habaib berpolitik, namun tidak seperti seperti ini caranya.
Ketika memang ia akan terjun pada suatu hal yang sekiranya tidak bisa ia hindari, seperti politik misalnya, alangkah lebih bijak dengan bersikap terus terang dan terbuka sedari awal. Jangan menjadi munafik, hanya dengan tujuan untuk mendapat simpati dari para pengikutnya. Tak elok betul sikap semacam ini.
Kedepannya, UAS diharapkan menjadi seorang da’i yang benar-benar bisa menjaga setiap ucapannya. Jangan lagi menjadi kabura maqtan. Kalau toh ingin masuk ke dalam politik lebih jauh, jangan pernah mencampuradukkan urusan agama dengan urusan politik. Jangan politisasi agama demi kepentingan politik dan kekuasaan.
UAS sebagai tokoh agama harus menjadi contoh yang baik dalam segala hal. Ucapan dan tindakan harus sesuai, supaya tidak menjadi bumerang dikemudian hari. Namun menyaksikan UAS sekarang, setidaknya kita telah dapat menilai kualitas dari seorang UAS. Apabila lelaku dan ucapannya saja tidak sesuai, mau bagaimana lagi? Mungkin UAS ingin banting setir dari seorang ustadz menjadi politikus atau semacamnya, saya pun tidak tau. Atau mungkin job cermah sedang sepi, kantong makin kering, sehingga ia memanfaatkan momen pilkada untuk menjadi jurkam supaya dapat pemasukan lebih? Hanya UAS dan Tuhan yang tau.
Terlepas dari sikap dan ucapan UAS yang tidak selaras, itulah UAS yang kita lihat dan kita saksikan hari ini. Saat UAS kabura maqtan,tidak hanya membuat publik bertanya-tanya, namun juga publik dapat menilai kualitas dari seorang da’i kondang asal Riau ini. Ustadz yang sebelumnya seolah sangat anti sekali dengan perpolitikan, ternyata seiring bergantinya hari, minggu, dan bulan, dapat dengan mudah luluh dan menceburkan diri ke politik, menjadi jurkam, menyebut paslon dan mengajak masyarakat dengan sangat percaya diri.
Tidak ada alasan yang gamblang yang menjelaskan mengapa UAS berani meleburkan diri menjadi jubir paslon-paslon pilkada tahun ini, namun semoga ini tidak lantas berdampak pada penurunan kepopuleran UAS dimasa yang akan datang. Bagaimana pergerakan UAS selanjutnya dalam dunia politik? Apakah paslon-paslon yang ia dukung akan berhasil memenangkan pertarungan? Kita lihat saja nanti.