Teror pembantaian keji satu keluarga di Sigi satu pekan yang lalu, Jum’at (27/11/2024) sungguh memilukan hati kita. Pasalnya, di era semodern sekarang masih saja ada oknum-oknum yang bersifat hewan, membunuh sesama manusia. Dengan dan atau tanpa motif sekalipun, pembunuhan terhadap sesama tidak dapat dibenarkan. Apalagi, jika pembunuhan itu berdiri di atas dalih agama. Sungguh, ini adalah kesalahan!
Bukankah, pembunuhan tidak lain daripada sifat jahiliyah? Perbuatan yang hanya dapat dilakukan di atas hawa nafsu dan ketidakmerdekaan. Sedangkan, sudah jelas kita hidup dalam ruang lingkup bangsa yang merdeka. Bangsa yang menjamin hak hidup warganya. Bangsa yang menjunjung tinggi perbedaan dan kemanusiaan, bukan emosional. Karean itu, sungguh ironi jika teror dan aksi pembunuhan masih saja kerap terjadi di negeri ini. Padahal, para pendiri bangsa kita, khususnya Bung Karno telah secara tegas agar kita dapat menjaga keharmonisan di atas kebinekaan (perbedaan).
Dan hal ini sudah diajarkan jauh sebelum tragedi Sigi dan tragedi-tragedi kemanusiaan lain di Indonesia oleh Bung Karno. Tentang bagaimana kita harus dapat menerima kenyataan bahwa kita berbeda. Sebab, perbedaan adalah rahmat. Kebinekaan harus terus kita bina, karena justru kebinekaan inilah unsur menjadikan keekaan. Bhinneka Tunggal Ika harus kita pahami sebagai satu kesatuan dialektis. Demikian yang ditegaskan Bung Karno dalam Di Bawah Bendera Revolusi (2005).
Dalam meletakkan pondasi berbangsa dan bernegara, Bung Karno mendorong terciptanya masyarakat plural. Sebaliknya, menolak keras perilaku masyarakat yang rasialis. Sebab, pluralis (perbedaan) merupakan karakteristik bangsanya. Bangsa kita tidak akan menjadi satu kesatuan tanpa adanya perbedaan. Perbedaan pula yang dulu dapat menjadi kesepakatan para pendiri bangsa menciptakan satu konsensus berbangsa-bernegara, Pancasila.
Dalam pandangan Bung Karno, nilai-nilai pluralisme dan menyadari akan perbedaan adalah kewajiban yang harus disadari oleh setiap warga bangsanya. Sebab, Tanah Air kita adalah surga dunia, rumah tempat pulang dan berteduh bagi berbagai etnis, suku, agama, dan bahasa di Indonesia. Jika founding father bangsa Amerika Serikat memiliki istilah Plelibus Unum sebagai semboyan pemersatu, maka para pendiri bangsa kita dengan Bhinneka Tunggal Ikanya. Dan ini merupan manifestasi yang diwariskan oleh para pendiri bangsa, yang salah satunya adalah Bung Karno.
Setidaknya, Bung Karno telah mempraktikkan itu dalam masa hidupnya sebagai pengabdi rakyat. Seperti tatkala ia menyusun kabinet pemerintahannya yang terdiri dari beberapa tokoh lintas suku, etnis, agama, dan bahasa. Ia juga, sebagaimana dikatakan Sigit Aris Prasetyo dalam Bung Karno dan Revolusi Mental (2017), menekankan bahwa suatu bangsa tidak ditentukan oleh persamaan warna kulit ataupun agama.
Bung Karno selalu mengajarkan dan mengingatkan kepada kita agar bangsa Indonesia terus dapat membina dan menjaga perbedaan dan keharmonisan dari dulu hingga nanti. Sebab, hanya dengan perbedaan inilah kita dapat kuat dan bersatu. Dengan membina persatuan pula, kita tidak dapat tercerai-berai. Perbedaan menurut Bung Karno adalah fitrah bangsa Indonesia yang terdiri dari ribuan suku, budaya, dan bahasa.
Yang perlu ditegaskan, Bung Karno sangat tidak menyukai dan menantang segala bentuk rasialisme, terorisme, dan perpecahan. Sebab, bagi ia perilaku demikian sama sekali bukan karakteristik bangsa kita. Bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman. Sekali lagi, bangsa kita adalah bangsa yang berdiri di atas perbedaan. Karena itu, sudah sepatutnya di antara kita saling menjaga perbedaan itu, merawat keharmonisan, saling mengasihi terhadap sesama, bukan malah membunuh sesama manusia. Yang jelas-jelas memiliki fitrah dan hak yang sama untuk hidup.
Tragedi berdarah dan keji di Sigi tidak hanya menciderai nilai-nilai kebangsaan kita yang menjunjung tinggi perbedaan, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap para pendiri bangsa. Bagi Bung Karno, semua suku yang ada dan mendiami Tanah Air Indonesia adalah satu keluarga besar. Yang mana semuanya harus dapat saling mengisi dan melengkapi. Masing-masing suku, menurut Bung Karno harus bisa memberikan sumbangsihnya kepada bangsa. Pun tiap-tiap suku harus pula dapat menerima keberadaan suku-suku lain selain sukunya. Semua suku, kata Bung Karno dalam Di Bawah Bendera Revolusi (2005) harus mengintegrasikan diri sebagai satu kesatuan keluarga besar bangsa Indonesia.
Pendek kata, Indonesia lahir dari perbedaan. Perbedaan suku, ras, agama, dan bahasa, dan ini adalah keniscayaan. Bung Karno telah mengajarkan kita bagaimana merawat dan menciptakan persatuan dalam perbedaan. Karena itu, sudah seharusnya kita sadar, untuk dapat menerima dan merawat keberagaman itu, bukan malah memporak-porandakan. Dharma Eva Hato Hanti, bersatu karena kita kuat, kata Bung Karno. Kita kuat karena bersatu, bukan berseteru!