Fenomena interaksi antara agama dan politik di Tanah Air kini terasa semakin keruh, apalagi agama menjadi pengerak narasi-narasi untuk mengajak orang melakukan jihad dan melakukan keributan dimana-mana. Kekhawatirin ini memang sudah nampak jelas ditengah-tengah masyarakat kita ditambah lagi semenjak kepulangan Rizieq Syihab dari pelariannya ke Arab Saudi selama 3 tahun 7 bulan lebih.
Kehadiran Rizieq Syihab dan Front Pembela Islam (FPI) di negeri ini, membuat kian banyak ormas memainkan agama sebagai asas pergerakannya, apa-apa kembali ke hukum Al-Quran, Hadis, dan Rizieq Syihab sebagai Imam Besarnya. Rizieq dan Ormasnya memang mendapatkan tempat tersendiri, apalagi bagi kelompok-kelompok memahami agama mengunakan cara-cara kekerasan.
Fenomena yang muncul ditengah-tengah masyarakat saat ini, memunculkan berbagai diksi sehingga menguatkan kebencian antar sesama. Beberapa contoh yang terbaru adalah azan mengunakan lapaz haya ala jihad, dan pengerudukan rumah orang tua Mahpud MD. Disinyalir bahwa, pelaku azan memang salah satu pendukung Rizieq Syihab, tampak jelas foto Rizieq Syihab dalam video yang trending diberbagai media sosial.
Beberapa kalangan mengecam atas tindakan yang meyelewengkan lapaz azan tersebut, termasuk tokoh-tokoh ulama yang terkenal nasionalis dan loyal terhadap ibu pertiwi. Kita tahu bahwa simbol-simbol agama di Indonesia sangat melekat pada masyarakat, terlebih khusus agama Islam. Waluapun dikecam dimana-mana, Rizieq dan FPI tidak ambil pusing serta berpura tuli dari kecaman tersebut.
Jihad yang biwakan Rizieq Syihab yang dibungkus safari ‘Revolusi Akhlak’ memang terdengar asing ditelinga kita, apalagi kaum non-Muslim. Beberapa pengamat politik dan kebangsaan mengangap syafari ‘Revolusi Akhlak’ merupakan pelarian Rizieq serta mengalang dukungan bagi Rizieq dalam kontestasi politik ia di tahun 2024 mendatang. Menurut Lembaga Survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang diterbitkan pada 18-21 November 2020, bahwa lebih 54 persen orang tidak menyukai Rizieq Syihab begitupula dengan ormas yang dipimpin oleh Rizieq yang mengantongi hanya 30 persen.
Hal tersebut, imbas dari berbagai kelakuan ormas FPI dan Rizieq Syihab yang terkenal arogan dalam menilai seseorang, dan asal-asalan melakukan swiping dan arogan dalam bertidak terhadap pedagang kaki lima. Selain itu, beberapa anggota FPI terkenal akan tindakan main hakim sendiri, walaupun demikian banyak sekali orang-orang mengagung-agungkan Rizieq Syihab, mungkin pepatah ‘manusia menjadi keras kepala ketika jatuh cinta, membela tokoh pujaannya’ pengambaran ini secara kasat mata terlihat fenomenanya, seperti beberapa video menampilkan orang-orang (anggota) FPI bersedia hormat kepada baliho.
Beberapa keilmuan mengartikan bahwa jihad digunakan untuk seseorang mengangkat senjata dan berperang dikala itu, dimana masyarakat arab sedang mengalami kekisruhan yang ditimbulkan oleh keyakinan dan membela tanah air mereka. Namun apa jadinya jika kata jihad dikumandang pada era modern, dimana tidak ada lagi perang dan hanya ada kedamaian dimana-mana walaupun tidak semua negara merasakan perdamaian hingga saat ini.
Dalam pertemuan antara Rizieq Syihab pada acar reuni 212 mengartikan makna jihad tidak bisa mengunakan terminologi secara sempit dengan memaknai sebagai seruan perang.
“Kalau orang katakan jihad diidentikkan dengan teroris, ISIS, penggal kepala, nggak begitu. Mendengar kata jihad dikaitkan hal merusak itu nggak betul. Di Indonesia ini bukan darul jihad, bukan negeri jihad. Ini darul dakwah, negeri dakwah. Nggak ada genoside kan, kan itu nggak dilakukan pemerintah. Selama tak ada pembantaian ulama kyai kita tak bicara soal perang bersenjata, itu semua fitnah,” ujarnya dalam pidatonya dalam Dialog Nasional 100 Ulama dan Tokoh dalam peringatan Reuni 212 dikutip dari siaran Front TV, Rabu 2 Desember 2020.
Walaupun Rizieq Syihab telah memberikan pemahaman makna kalimat jihad kepada anggota FPI dan simpatisannya, bagi masyarakat pemahaman tersebut tidak akan membekas pada FPI dan simpatisan bak ibarat kalimat tersebut masuk telinga kanan keluar telinga kiri alias sia-sia belaka. Apalagi sekarang Rizieq Syihab mendapatkan tekanan dari berbagai arah, nampak dari kalimat Rizieq tersebut yang mulai memainkan narasi damai, kalem, ulama yang baik dan lainnya.