Kolom

Tidak Ada Tempat Bagi Teroris di Negeri Ini

2 Mins read

‘Saya telah memerintahkan kepada Panglima TNI dan Kapolri, untuk meningkatkan kewaspadan. Sekali lagi, tidak ada tempat di Tanah Air kita ini bagi terorisme’. Kata Presiden Jokowi Dodo, melalui video berdurasi 2 menit tersebut, sebagai keterangan resminya di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (30/11/2024), untuk mengecam aksi terorisme di Kabupaten Sigi, Jumat (27/11/2024).

Pernyataan Presiden Jokowi Dodo tersebut, merupakan gambaran jelas bahwa pihak keaman kali ini terkecoh dengan apik oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dengan menyamar sebagai warga biasa dan berkerumun seperti masyarakat pada umumnya. Lagi-lagi tragedi yang tidak manusiawi tersebut meletus di Kabupaten Sigi, dengan alasan kekurangan bahan pokok dan pangan dari kelompok MIT.

Penerjunan pasukan dalam Satuan Tugas Operasi Tinombala (Satgas Tinombala) merupakan pilihan terbaik saat ini, sebagai upaya menekan peregerakan kelompok MIT. Menurut Panglima TNI Marsekal Hadi, para prajurit TNI dan Polisi tersebut diterjunkan di daerah hutan dan gunung daerah Kabupaten Sigi. Walaupun demikian, hal ini merupakan desakan dari beberapa pengamat dan tokoh politik agar Presiden Jokowi Dodo segera menurunkan Satgas Tinombala.

Selain itu, desakan terhadap tragedi Sigi bukan sekadar menurunkan TNI serta Polisi. Namun, lebih kepada pernyataan Presiden Jokowi Dodo dalam menilai tragedi Sigi yang dilakukan oleh kelompok teroris, apalagi kelompok teroris MIT merupakan salah satu dalang dari berbagai kekerasan dan aksi teror terhadap masyarakat Indonesia.

Menurut Direktur International Associaton for Counterterrorism and Security Profesionals Indonesia, Rakyan Adibara, mengatakan bawha pelibatan TNI sangat penting untuk mempercepat pemburuan kelompok MIT dan Ali Kora. Polri sangat baik kemampuannya membongkar terorisme di perkotaan dan perdesaan, tetapi bukan dalam konteks gerilya hutan. TNI memiliki kapabilitas yang lebih baik dalam hal tersebut, kata Rakya.

Jika kita bawa lebih luas lagi, kelompok terorisme seperti MIT dan NII dalam sejarahnya memang hutan menjadi bungker pertahanan dari penyerbuan pihak keamanan seperti TNI dan Polri. Selain itu, kelompok MIT merupakan kelompok yang sangat sering berpindah-pindah baik di hutan maupun daerah pegunungan, sebagai upaya melindungi kelompok dari kejaran pihak keamanan.

Dalam sejarah kekejian kelompok teroris di Indonesia, kelompok MIT merupakan kelompok ulung dalam melakukan aksi teror terhadap perdamaian di Indonesia. Kelompok MIT juga merupakan yang paling pertama berbaiat atau mengangkat sumpah setia terhadap Abu Bakar al-Baghdadi pimpinan terteingi Islamic State Irak and Syiria (ISIS). Terafiliasinya kelompok MIT kala itu diwakili oleh Santoso, kelompok ini menjadi teroris yang paling diperhitungkan dalam memburu, selain mempunyai persenjataan lengkap seperti senjata serbu AKA-47 dan beberapa senjata lainnya.

Direktur Celebes Institute Adriany Badrah, dalam menyikapi tragedi di Kabupaten Sigi, mengatakan ‘Mobilisasi pasukan begitu banyak, anggaran begitu luar biasa, bantuan TNI ada, TNI punya ilmu gerilya, bisa menangkap para pelaku serta orang-orang yang masuk dalam daftar pencarian, itu sudah cukup indikatornya. Jadi, memang ada pembiaran,’ katanya Adrian, dalam artikel yang diterbitkan oleh Tirto ID.

Jika dilihat secara fakta, memang prajurit diterjunkan lebih banyak dibandingkan kelompok MIT yang berjumlah 14 orang saja, namun prajurit yang bekerja 3-6 bulan tersebut tidak bisa mengatasi Ali Kora dan teman mujahidnya. Apalagi prajurit terlatih, berkemampuan intelegent, menguasai taktik perang modern maupun gerliya, menguasai medan dengan bantuan alat perang yang mempuni dan cangih dalam kategori persenjataan. Motif penyerangan kelompok MIT di Kabupaten Sigi tersebut masih sangat simpang siur, beberapa media swasta maupun nasional mengungkapkan bahwa kelompok MIT kekurangan pasokan makanan sehingga memaksa warga untuk memberikan, dengan engan meningalkan jejak kelompok MIT lebih memilih membunuh warga tersebut.

Hal ini mungkin bisa saja terjadi, tetapi yang perlu diingat bahwa kelompok teroris sejatinya bukan saja berpijak pada ideologi belaka agar bisa hidup tetapi juga berpijak pada uang. Beberapa pengamat terorisme di Indonesia, menyikapi penyerangan di Sigi, merupakan aksi teror terhadap agama.

Walaupun demikian, masyarakat muslim ataupun agama lainnya yang berada di Indonesia mengutuk atas kekejaman yang menghabisi nyawa seseorang, baik yang dilakukan individu maupun kelompok terlebih lagi kelompok teroris. Agama sejatinya tidak pernah mengajarkan keburukan kepada pemeluknya, walaupun kelompok teroris acap kali mengunakan isu agama sebagai pelindung dalam aksi-aksi yang dilakukan.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.