Kolom

Jangan Terhasut ‘Adzan Sesat’

3 Mins read

Jagat media sosial kembali di hebohkan dengan beredarnya beberapa tayangan video yang menampilkan sekumpulan orang yang melantunkan adzan yang tak biasa. Dalam video itu, muazzin yang melantunkan adzan, mengganti lafadz hayya alaash sholaah dengan lafadz hayya alal jihad, lalu diikuti pekik takbir jamaah yang berdiri di belakangnya. Tak hanya itu, dalam salah satu video, terlihat sekelompok orang yang menyelipkan lafadz hayya alal jihad sembari mengacung-acungkan senjata sejenis pedang dan berteriak takbir.

Tak ayal, video itupun ramai diperbincangkan publik dan menuai banyak kontroversial dari berbagai kalangan ulama. Adzan, yang kita semua tau adalah sebagai pertanda masuknya waktu sholat, ajakan untuk sholat. Secara filosofis, adzan mengandung nilai kemanusiaan yang amat dalam. Tak hanya penanda masuknya waktu sholat, namun juga sebagai kohesi sosial masyarakat.

Habib Novel Alaydrus sebagai salah satu tokoh ulama dari kalangan habaib melalui kanal Youtubenya ikut menyampaikan keperihatinannya terhadap fenomena ini. Menurutnya, mengganti seruan untuk sholat diganti dengan seruan untuk jihad, adalah sesewatu yang bertantangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, juga bertentangan dengan ajaran alawiyin dan para kiai.

Sesungguhnya ulama-ulama kita tidak pernah mengajarkan hal-hal buruk yang menyalahi syariat Islam semacam hal diatas. KH. Kafabihi Mahrus, pengasuh Ponpes Lirboyo, Kediri ndawuh, “Tidak bisa dibenarkan hayya alash-shalah diganti dengan hayya alal jihad, dan syariat itu ada tuntunannya. Yang menuntun adalah Rasulullah. Sekarang yang mengubah siapa itu? Berani-beraninya dia mengubah adzan yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah dan para sahabat, para Ulama. Mereka siapa berani-beraninya mengubah adzan?”

Senada dengan KH. Kafabih Mahrus, wakil pengasuh PP. Salafiyah Syafi’iyyah Situbondo, KH. Afifudin Muhajir, menyatakan pendapatnya, “sepanjang sejarah dalam kondisi segenting apapun tidak ada yang berani mengubah redaksi adzan.”

Fenomena adzan ajakan jihad jika dibiarkan berkembang, akan dapat berdampak buruk pada keberlangsungan hidup masyarakat. Akan menggoyahkan ketentraman dan ketertiban bangsa. Adzan ajakan jihad jelas sangat tidak relevan dalam keadaan negara yang sedang damai ini.

Dewasa ini jihad seringkali dimaknai secara serampangan, tidak dipahami sebagaimana semestinya. Kondisi ini di picu oleh interpretasi yang salah terhadap makna jihad. Mereka menilai jihad dalam Islam merupakan situasi yang tidak terkendali, irasional, dan konotasinya adalah perang. Pada akhirnya, konsep jihad yang komprehensif sebagaimana yang dikatakan ulama pun menjadi salah di mata mereka. Akibatnya Islam dituduh sebagai agama yang ditegakkan dan dikembangkan dengan jalan kekerasan.

Memplesetkan adzan dengan panggilan jihad bisa menjadi sinyal bahaya jika kita abaikan. Tindakan itu yang harus di tenggapi secara cepat dan tuntas, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu kita berharap, kejadian ini tidak menjadi persoalan besar dan diikuti oleh masyarakat secara luas. Tanpa kita sadari, doktrin-doktrin keagamaan yang salah kaprah, yang mengedepankan aspek kekerasan dalam penyelesaian masalah, nyatanya masih banyak diminati oleh sebagian orang.

Oleh mereka, agama telah dibajak kesakralannya. Agama diredukasi, seolah agama hanya urusan politik saja. Demi nama agama, demi nama Allah, berbohong, cara-cara kekerasan, membunuh, memenggal kepala, membantai, dan meneror adalah halal. Bila ada pihak-pihak yang mengentikan gerak mereka, pasti dijadikan musuh bersama. Mereka mereduksi agama, makna jihad dipersempit, dan kata ‘umat’ dibatasi hanya untuk golongan mereka.

Makna jihad pun diredukasi, seolah-olah jihad adalah perang dan perang adalah jihad. Cara-cara kekerasan tidak jadi masalah, bahkan dianggap sebagai bagian dari perjuangan. Jihad pada awalnya adalah perjuangan yang total dalam segala aspek hidup manusia. Kini dipersempit untuk menegakkan khilafah, mengkritisi pemerintah dan demo berjilid-jilid.

Kita memang belum tau persis apa motif sebenarnya dibalik video memplesetkan lafadz adzan tersebut, namun dalam kondisi bangsa yang tengah gerah dengan banyak isu-isu radikalisme, perbuatan semacam ini bisa memancing tindak kekerasan. Apalagi kita tau, kelompok-kelompok intoleran yang berpaham radikal cenderung militan, pendek akal, tak segan berbuat keji, seperti membunuh dengan sadis dan melawan siapa saja yang menentangnya, tanpa peduli ia salah atau benar.

Ada kemungkinan kuat bahwa video memplesetkan adzan itu sengaja dibuat sebagai aksi teror, sebagai perang urat saraf yang dijadikan sebagai alat propaganda untuk tujuan politik. Kelompok itu berusaha mengambarkan bahwa kondisi negara saat ini sedang genting, mencekam, dan memposisikan pemerintah saat ini adalah pemerintahan yang dzalim, sehingga ada alasan bagi mereka untuk membangkang atau melawan dengan mengtasnamakan jihad.

Peran pemerintah pusat dan organisasi-organisasi keagamaan dalam hal ini tentu sangat dibutuhkan. Sikap pemerintah harus tegas dan berani terhadap siapa saja yang coba mengusik ketertiban dan keamanan bangsa Indonesia. Negara jangan mau kalah oleh kelompok-kelompok yang ingin memecah belah bangsa. Sebaliknya, organisasi keagamaan harus hadir memberi pencerahan melalui ceramah-ceramah, kajian-kajian, dan majlis-majlis ilmu yang mengajarkan kasih sayang terhadap sesama, mencintai keberagaman, toleransi, mencintai Tanah Air, dan menjaga persatuan dan kesatuan.

Apapun motif dan tujuan dari ajakan jihad dengan memplesetkan lafadz adzan itu, hendaknya tidak membuat kita terprovokasi dan terhasut. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang merdeka, mengimplementasikan jihad di negara yang telah merdeka adalah dengan mewujudkan perdamaian dunia dan mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia, bukan malah merusaknya. Jangan terhasut ‘adzan sesat’!

Related posts
Kolom

Kaum Milenial Harus Mencontoh Nasionalisme Jenderal Soedirman

Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah pahlawan kebanggaan bangsa yang terkenal dengan strategi perang gerilyanya untuk melawan musuh pada zaman penjajahan. Walau mengalami sakit parah hingga harus ditandu, dia berjuang tanpa pamrih, tak kenal lelah, pantang menyerah serta rela berkorban demi negara. Moral yang dia miliki tersebut, perlu dijunjung tinggi dengan penuh kebanggaan dan diamalkan dalam berbagai kegiatan kehidupan sehari-hari. Perjuangannya dan namanya akan selalu diingat oleh anak bangsa. Oleh karena itu, kaum milenial harus mencontoh nasionalisme Jenderal Soedirman.
Kolom

Melawan Buzzer dengan Gagasan, Bukan Fatwa Haram

Beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI), menyampaikan tentang hukum aktivitas buzzer di media sosial (medsos). Hal ini ditetapkan dalam Fatwa Nomor…
Kolom

Revisi UU ITE, Angin Segar Demokrasi Kita

Permintaan Presiden Jokowi untuk tetap dikritik beberapa hari yang lalu, membawa angin segar bagi demokrasi. Pasalnya, di tengah jerat UU ITE kebebasan…