Peristiwa pembunuhan sadis satu keluarga di Sigi, Sulawesi Tengah pada Jumat (27/11/2024) diyakini banyak pihak dilakukan oleh kelompok Mujahid Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin oleh Ali Kolera. Hal ini dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Didik Suparnoto, Sabtu (28/11/2024) setelah melakukan olah TKP dan berdasarkan keterangan sejumlah saksi di lokasi.
MIT adalah kelompok teroris sempalan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang beroprasi di wilayah pegunungan Kabupaten Poso, Sulteng. Kelompok ini diperkirakan didirikan pada akhir 2012 oleh salah satu Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) bernama Abu Wardah atau Santoso. Selain mendirikan MIT, Santoso juga merupakan pemimpin pertama kelompok itu. Pada 18 Juli 2016, Santoso tewas saat baku tembak dengan Satgas Oprasi Tinombala. Pasca tewasnya Santoso, tambuk pimpinan diambil alih oleh Ali Kalora. Di tahun yang sama, melalui rekaman video, kelompok MIT menyatakan sumah setia pada ISIS.
Kelompok teroris Ali Kalora memang sudah cukup lama masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) setelah tewasnya Santoso. Ia dan kelompoknya diduga bersembunyi di hutan belantara di sekitar Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Mautong, Sulteng.
Melihat serangan dan teror yang dilakukan oleh kelompok MIT di Sigi, menjadi bukti ideologi ISIS yang sangat radikal masih ada di bumi pertiwi ini. Meski ISIS sendiri di negara asalnya telah dinyatakan kalah oleh Pasukan Demokrat Suriah (SDF), kelompok ini masih dipandang sebagai ancaman keamanan di wilayah tersebut dan seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Ideologi pendukung ISIS di Indonesia sendiri, mayoritas berpaham salafi jihadi. Paham yang memiliki beberapa prinsip dasar dalam keyakinan beragama mereka, yakni jihad, paham takhfiri, hakimyiyah, dan tauhid. Dalam pandangan kelompok salafi jihadi, jihad adalah puncak dari Islam, kelompok lain selain dirinya adalah musuh. Satu-satunya cara merealisasikan tauhid menurut mereka adalah dengan berperang. Kedaulatan sistem politik dan aturan kehidupan hanyalah ketetapan Allah. Penegakkan hukum Allah, adalah upaya untuk mengamankan hak Allah dan cita-cita mereka adalah mendirikan negara Islam di Indonesia.
Paham radikal ala ISIS yang dianut kelompok MIT jelas akan mengancam keberagaman, persatuan dan kesatuan NKRI. Negara harsus lebih tegas dan lebih serius dalam menumpas kelompok-kelompok yang mengganggu ketertiban dan keamanan bangsa. Terlebih, beberapa hari yang lalu ada kalangan tokoh agama yang menyeru menghalalkan ‘pemenggalan kepala’, bukan tidak mungkin narasi-narasi semacam ini akan membangkitkan sel-sel radikal yang selama ini tertidur.
Dan terbaru, beberapa video bertebaran di media sosial (Instagram dan Twitter), ajakan untuk jihad. Mengganti lafal adzan dengan lafal ajakan jihad (hayya ala shalah di ganti hayya ala jihad), dibarengi dengan sekumpulan orang yang memegang pedang dan senjata lainnya. Ini sangat berbahaya. Karena bisa memicu perpecahan antar anak bangsa, juga bisa menjadi pemantik kaum intoleransi lainnya untuk berbuat tindak kekerasan.
Ditengah keadaan bangsa yang terengah-engah menghadapi wabah covid-19 yang tak kunjung usai, persoalan-persoalan baru terus bermunculan. Kita mesti kembali perpegang pada nilai-nilai Pancasila, bersatu, saling bahu-membahu, saling ingat mengingatkan bahwa NKRI adalah harga mati. Siapapun yang mengancam keutuhan, keamanan, ketertiban NKRI harus ditindak tegas tanpa pandang bulu. Jangan lagi ada narasi-narasi yang berisi hasutan, caci maki, provokasi dan lainya yang berpotensi besar memecah belah bangsa.
Kasus pembantaian di Sigi yang di lakukan oleh kelompok MIT, tidak saja menyakiti keluarga dekat mereka, tetapi menjadi luka dan duka bersama, duka Indonesia. Kita mesti hati-hati terhadap paham radikal ISIS di Sigi. Tidak hanya hati-hati akan aksi terornya, namun yang lebih penting adalah hati-hati akan paham yang dibawanya, jangan sampai ikut terbawa dalam paham radikal itu.
Oleh karena itu, perlu adanya keseriusan dari pemerintah yang dilakukan secara berkelanjutan dalam menanggulangi penyebaran dan teror kelompok radikal ISIS di Sigi utamanya, umumnya seluruh Indonesia. Badan Nasional Penangulangan Terorisme (BNPT) sebagai lembaga yang menaungi pembrantasan teroris harus lebih fokus dalam tugasnya. Meonitoring dan perhatian yang berkelanjutan terhadap kelompok radikal seperti MIT, baik yang masih aktif ataupun yang eks tahanan. Selama ini prosoes itu saya rasa masih lemah dan cendrung diabaikan. Saya sendiri bertanya-tanya, mengapa bisa kecolongan seperti ini? Kemana saja BNPT, TNI, dan Polri? Namun memang, kita tidak bisa hanya mengandalkan BNPT, TNI, dan Polri saja, tetapi perlu kesadaran semua pihak, bahwa menjaga keamanan, ketertiban, dan keutuhan bangsa adalah tugas bersama.
Selain memperbaiki sektor monitoring yang berkelanjutan dan peningkatan fokus terhadap kelompok-kelompok radikal berpaham ISIS, penguatan ideologi Pancasila harus terus dibumikan. Pancasila harus menjadi dasar dari tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Peran Pancasila sebagai ideologi negara sangat diperlukan sebagai upaya menyelesaikan masalah radikal yang membabi buta itu.
Melihat betapa kejam dan tidak manusiawinya kelompok yang berpaham ISIS di Sigi, kita layak meningkatkan kewaspadaan dan pengamanan diberbagai lini, baik penguatan ideologi, maupun penguatan bidang ekonomi, sosial budaya, politik, keamanan dan pertahanan nasional. Tindakan separati MIT di Sigi tidak hanya mengancam nyawa manusia, namun juga mengancam ideologi negara, mengancam keutuhan, kemanan, dan ketertiban bangsa. Maka dari itu, pemerintah dan kita semua harus berhati-hati terhadap ideologi ISIS di Sigi.