Jumat, 27 November 2024 kembali kita di pertontongkan kejadian yang sangat tidak manusiawi, dimana 6 orang menjadi keberingasan kelompok teroris yang diduga Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Penyerangan terhadap warga sipil oleh kelompok MIT tersebut, berlatar belakang kekurangan kebutuhan dan pasokan makanan dari kelompok MIT.
Hal ini menjadi pertanyaan kita semua, apakah nyawa dan keaman warga sipil di Indonesia seharga segoni beras? Secara umum, hal ini mungkin terjadi di semua tempat, baik di Indonesia maupun luar negeri. Namun, sangat sedikit sekali, apalagi setiap kelompok memiliki pendanaan tersendiri yang terafiliasi berbagai organisasi pendukung ataupun simpatisan dari segala bidang, termasuk lini masyarakat itu sendiri.
Jika dilihat secara geografis, Tempat Kejadian Perkara (TKP) masih dikelilingi oleh hutan yang lebat. Tentunya akan sangat membantu kelompok teroris berkeliaran secara leluasa, dalam sejarah berdirinya kelompok MIT, hutan menjadi markas terbaik bagi mereka. Saat kelompok MIT masih di pimpin oleh Santoso, pegunungan daerah Poso menjadi markas dan medan geriliya atau perang secara sembunyi-sembunyi serta berpindah-pindah.
Pada 18 Juli 2016, pimpinan MIT yaitu Santoso berakhir tewas dalam Operasi Satuan Tugas Tinombala, serta beberapa pengikut Santoso berakhir pada timah panas Satgas Tinombala. Setelah kematian Santoso, huru-hara kepemimpinan memicu pecahnya kelompok MIT menjadi dua faksi. Faksi Santoso-Basri berisikan kelompok yang setia terhadap pimpinan pertama MIT tersebut, selain itu ada faksi Ali Kora dan Umi Farel, kelompok yang berisikan 16 anggota yang setia terhadap MIT, namun berbeda pandangan atas asas organisasi yang di pimpin oleh Santoso. Faksi ini dipimpin oleh Ali Kora dan juga istrinya yaitu, Tini Susantika alias Umi Farel.
Suburnya kelompok teroris di Indonesia merupakan cambuk bagi Pemerintah, walaupun hanya muncul sekali-kali, tetapi sangat menyita atensi publik domestik hingga nasional. Hanya saja, nampaknya seperti dibiar-biarkan begitu saja oleh pemerintah dan kita, sehingga isu keamanan untuk sipil sangat relatif terancam.
Kasus terorisme terlihat meningkat jumlahnya secara nasional, dalam triwulan ke belakang, terlihat berbagai penangkapan terduga terorisme semakin marak. Penangkapan di beberapa wilayah yang di lakukan oleh Densus 88 seperti Lampung, Jawa Barat, Solo, dan Jawa Timur serta wilayah lainnya.
Jika ditelusuri lebih lanjut, antara kelompok MIT dan beberapa terduga teroris yang telah berhasil di tangkap oleh Densus 88 akhir-akhir ini, merupakan hasil dari kekecewan serta kesalahan dalam memahami arti kata jihad, sehingga menjadi mudah masuknya paham-paham radikalisme dan terorisme.
Selain itu, minimnya dukungan dari kelompok lintas agama dan tokoh lainnya membuat kurangnya kesadaran isu terorisme yang siapa saja bisa menjadi korban. Kita tahu, bahwa kelompok terorisme seperti MIT, JI, JAD, dan JAT merupakan kelompok teroris yang tidak memiliki target terstruktur dan sejauh ini kelompok sipil yang paling banyak menjadi korban.
Dalam tragedi Sigi, pelajaran terbaik untuk bangsa ini, bahwa teroris tidak akan pernah mati. Walaupun Indonesia tak separah negara Timur-Tenggah. Jika dibiarkan terus-menurus, Indonesia akan menyusul lambat laun. Dalam agama-agama yang diyakini oleh penduduk dunia, terorisme merupakan kejahatan yang tidak boleh dibenarkan apalagi didukung. Walaupun kelompok terorisme mendeklarasikan diri sebagai pembela agama serta kekhalifahan yang mereka agung-agungkan, namun itu hanyalah sebagai tandem dan legitimasi agar tidak dimusuhi oleh kelompok-kelompok agamawan dan nasionalis.
Menyempitkan ruang gerak kelompok teroris, seperti kelompok MIT dan lainnya, salah satunya dengan memutus pendanaan dari dalam maupun luar negeri, serta memutus mata rantai jaringan komunikasi para kelompok tersebut, sehingga apa yang dicita-citakan sebagai negara yang aman, sesuai keinginan para pendiri bangsa ini.