Nasihat

Poros Petamburan, Anies, JK, dan Rizieq?

3 Mins read
poros petamburan  Poros Petamburan, Anies, JK, dan Rizieq? anies rizieq

Trend pemberitaan kepulangan Rizieq Syihab ke Indonesia, berhembus hingga sampai sekarang. Bermacam-macam pemberitaan yang timbul baik, yang menyudutkan ataupun yang membela, hal ini terpampang dengan apik tigle dan foto Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) tersebut di berbagai media.

Di mana seorang yang pergi keluar negeri dan menetap kerena terjerat kasus hukum, disambut seperti pahlwan yang baru pulang dari medan perang. Nampaknya definisi tokoh pahlawan semakin defisit akan makna yang baik dan relevan, sebab tidak ada pahlawan yang lari dari kasus hukum apalagi menjadi terduga kasus pornografi.

Selain itu, banyak pengamat politik di Indonesia, kepulangan Rizieq Syihab akan membentuk poros baru yang akan ditempa pada tahun 2024. Memang masih jauh, namun angin-angin konsiliasi antara Rizieq, Front Petamburan, dan Anies semakin nampak jelas dan sangat terang-terang. Bagi masyarakat umum, kepulangan Rizieq hanya seperti orang-orang yang rindu kampung halaman. Tetapi berbeda jika dilihat dari sudut pandang politik dan bursa Capres – Cawapres 2024.

Setidaknya, lebih dari enam kali Rizieq menyatakan akan kepulangan ke Indonesia. 14 November 2024 secara resmi dan tidak mengbohongi umat FPI, Rizieq menapakkan kaki kembali ke tanah air. Tak ayal, penjemputan yang gila-gilaan itu, setidaknya lebih 3 kilo meter jalan macet menuju Bandara Udara Seokarano-Hatta, Cengkareng. Selain itu, beberapa fasilitas Bandara Soetta hancur dan beberapa penerbangan baik domestik maupun internasional terpaksa harus di tunda. Menurut beberapa media mainstream mengkonfirmasi, aksi penjemputan tersebut menimbulkan kerugian hingga ratusan juta sampai miliaran rupiah.

Berberapa tokoh politik maupun masyarakat umum secara sukarela bedesak-desakan demi menyambut Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) tersebut, termasuk orang nomor satu di DKI Jakarta, Anies Baswedan. Aneh terasa saat kunjungan Anies Baswedan tersebut, apalagi seorang Gubernur sowan kepada pemimpin ormas yang terjerat berbagai kasus termasuk kasus penghinaan terhadap lambang negara dan lainnya. Pengamat saya, Anies sengaja sowan agar bisa mengamani kursi Capres atau Cawapres RI 2024.

Bagi saya, Anies memang sudah memainkan catur politiknya semenjak Jusuf Kala (JK) masih menjabat sebagai Wakil Presiden. Kedekatan antara Anies Baswedan dan JK sudah sejak lama terbangun, emosional kedua-duanya memang sudah ditempa apalagi sama-sama memiliki garis ke-organisasian yang sama. Selain itu, permain politik identitas sudah menjadi menu utama semenjak Anies mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta, dengan FPI sebagai aktor utamanya.

Bursa Capres dan Cawapres 2024, memang masih jauh tetapi euforia politik sangat ketara dan semakin panas, apalagi isu-isu yang akan dimainkan masih di dominasi oleh politik identitas dan isu pribumi. Selain itu, isu-isu pekerja asing, kinerja pemerintah, isu HAM, dan isu lapangan pekerjaan masih relevan untuk dimainkan. Nampak sengitnya persaingan dalam bursa RI 1 untuk tahun 2024 akan mengalahkan panasnya pertarungan politik di tahun 2014 dan 2019.

Bukan angan-angan, terbukti bahwa kedatangan Anies Baswedan ke markas FPI untuk menyambut Habib Rizieq Syihab berbuah hasil dengan dideklarasi melalui digital. Dengan menaikkan hastag Anies Baswedan for Presiden 2024 yang digaungkan oleh kelompok pengiat sosial media dari pasukan FPI. Selain itu, nampak Anies Baswedan mendapatkan kepercayaan dari poros Petamburan dan umat fanatik Rizieq Syihab, walaupun survey Anies secara nasional masih jauh dari harapan, untuk mencalonkan sebagai Presiden Indonesia 2024 dan masih jauh di bawah dari survey milik Prabowo Subianto secara nasional.

Hemat saya, jika Anies maju sebagai calon Presiden di tahun 2024, akan didominasi oleh pendukung Rizieq Syihab dan Partai Keadilan Sejahtera, yang memang terkenal loyal terhadap Anies dan Rizieq Syihab. Berbagai poros lain akan mendukung Anies, demi memuluskan ia menjadi orang nomor satu di Indonesia, poros-poros tersebut lebih dominan akan kelompok sakit hati terhadap Jokowi dan kelompok Islam garis keras, seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Untuk mencegah maraknya politik identitas yang dimainkan oleh poros petamburan, diperlukan formula yang efektif dan berkelanjutan. Apalagi politik identitas bisa mematikan demokrasi secara perlahan-lahan, salah satu formula yang dapat diterapkan oleh pemerintah adalah mengenalkan atau mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keterbukaan informasi dan hak suara sedini mungkin.

Tantangan dahulu dan sekarang akan serasa sekali, jika di tahun 2014 Pilpres diisi dengan gencarnya media mainstream yang bermain isu. Berbeda tantangan saat sekarang, digitalisasi menjadi peranan penting dalam membangun engagement politik kaum muda. Hanya saja, kaum muda sekarang kebanyakan terbawa arus yang diciptakan oleh pemain politik dalam dunia digital. Walaupun demikian, poros manapun sama-sama berpeluang menangkan pertarungan untuk merebut kursi panas istana merdeka. Cuma saja, jika dimainkan menggunakan isu agama kapan politik Indonesia akan dewasa, begitulah kira-kira.

Related posts
KolomNasihat

Merehabilitasi Sifat Narsis

Media sosial telah menjadi candu bagi masyarakat modern, khususnya anak muda. Banyak peningkatan terjadi setelah munculnya Medsos, salah satunya, meningkatnya narsisme dalam…
Dunia IslamKolomNasihat

Ramadhan, Momentum Memperbaiki Diri

Hingga detik ini, masih banyak orang menyia-nyiakan keberkahan bulan suci Ramadhan. Masih banyak orang yang berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga. Masih…
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa Membentuk Akhlak Mulia

Dalam tulisan yang sederhana dan singkat ini, ada baiknya kita merenung dan mengingat kembali tujuan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan yang…