Kolom

Indonesia dan Defisit Guru Bangsa

3 Mins read

Dua tiga kali tagar #IndonesiaTerserah mengemuka di media sosial. Sebuah perihal sederhana yang mengekspresikan ambang batas kebingungan masyarakat terhadap kompleksitas iklim kebangsaan. Negeri kita saat ini, ibarat anak ayam yang kehilangan induk semangnya. Atau bak bahtera yang jarum kompasnya terlepas. Tak tahu arah. Hal ini menjadi wajar karena minimnya–untuk tidak menyebut kosong–sosok yang erat dan tulus dalam memeluk kepentingan bersama. Kita mengalami defisit guru bangsa.

Keprihatinan itu kian menjadi di masa pagebluk Covid-19 seperti sekarang. Wabah yang menjadi musuh bersama, di mana seharusnya menyatukan psikologi perjuangan kita, nyatanya malah diwarnai dengan serangkaian ironi yang dipertontonkan sebagian pembesar negara. Misal teranyar, menteri kelautan yang tenggelam oleh ulahnya sendiri. Di tengah wabah, pejabat pembantu eksekutif ini kian menambah deret panjang kemuakan rakyat dengan ditangkapnya ia oleh KPK. Semua itu mengacaukan perhatian pada perkara yang amat mendesak untuk dikawal ketat mitigasinya, pandemi.

Tidak sedikit pejabat pemerintahan ataupun politisi yang beralih peran dari pelayan masyarakat menjadi pengkhianat rakyat. Mengelola publik dengan janji, bukan bukti dan keteladanan. Suburnya korupsi, mengguritanya oligarki, serta jamaknya praktik politik transaksional menjadi salah satu indikator krisis komitmen kebangsaan para pejabat. Oleh mereka, negara ini hanya dianggap sebagai papan monopoli yang sumber dayanya bebas dijual dan dibeli.

Tak mau kalah, ada pula kalangan agamawan yang lazimnya identik dengan kematangan spiritual, malah turut unjuk kontribusi dalam memperkeruh keadaan. Keberadaan seorang pemuka agama sepatutnya menjadi tuas peredam gejolak masyarakat. Menjadi penengah keributan dan selalu membawa serta misi maslahat, apalagi dalam keadaan serba sulit seperti sekarang.

Idealnya, orang-orang tersebut di atas yang menjadi figur percontohan. Di mana kepada mereka kita layak berguru, tentang bagaimana hidup berbangsa secara baik dan benar, bagaimana memimpin secara bijaksana, serta bagaimana memperlakukan kekuasaan yang semestinya menjadi ladang pengabdian.

Dalam falsafah Jawa, guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru (dipercaya dan diteladani). Kedekatannya dengan ilmu menjadi sinyal kuat akan aktualisasi sikap budi yang luhur. Mereka adalah agen pengelola ilmu dan amal untuk membentuk anak didik yang berkeadaban.

Guru bangsa bukanlah sosok yang terikat dengan struktur baku ataupun konvensional. Mereka adalah pengajar dalam sebuah universitas kehidupan. Pemikir andal dan penuh kebijaksanaan. Patut menjadi kiblat moralitas bagi banyak kalangan. Selain itu, guru bangsa adalah mereka yang selalu mengunggulkan kepentingan kolektif untuk memajukan peradaban bangsa. Aspek mental-spiritual dan sosial-intelektual mereka pun amat layak untuk ditiru.

Kepiluan keadaan saat ini, mengundang kerinduan kepada para guru bangsa yang inspiratif dan berjiwa besar. Sebagiannya bahkan hanya kita kenal melalui catatan. Namun, denyar ketokohannya abadi. Rakyat haus akan pengabdian tulus yang mendobrak kemapanan, seperti halnya Gus Dur. Dialah pejuang kemanusiaan yang tak gentar untuk melawan arus. Selalu mendasarkan langkah pada semangat keadilan. Ketulusan, akan dengan sendirinya melahirkan kepercayaan, sehingga bahkan kelakarnya saja adalah muatan nasihat.

Generasi sebelum Gus Dur, kita mengenal H.O.S. Tjokroaminoto yang lekat dengan gelar guru bangsa. Tjokro adalah seorang pemikir. Dialah pelopor pergerakan di Indonesia. Di bawah asuhannya, lahir tokoh-tokoh besar bangsa. Tercatat Soekarno, Kartosuwiryo, Tan Malaka, Semaun, dan Muso pernah menyerap ilmu darinya. Tjokro sang maha guru, penggagas Sarekat Islam (SI), sebagai wadah perjuangannya dalam menghidupkan perekonomian masyarakat yang bernafaskan Islam kala itu.

Bukan hanya Tjokro dan Gus Dur. Kita masih memiliki tokoh-tokoh yang kuat dengan karakter luhurnya masing-masing, baik yang tersebut di sini maupun tidak. Di antaranya, Bapak proklamator, Bung Karno yang pemberani, Mohammad Hatta dengan kejujurannya, seorang Agus Salim yang pandai, Sutan Syahrir yang lihai dan cerdik, serta Tan Malaka dan militansinya. Tak lupa, Cak Nur dengan intelektualitas dengan kerendahan hatinya, dan yang masih bisa kita dengar petuahnya, Buya Syafi’i Ma’arif yang bersahaja. Sederet nama ini adalah figur yang diharapkan akan muncul duplikatnya.

Sulit kini menemukan figur yang mampu menjadi katalis kebaikan universal. Umumnya politisi dan pejabat nun jauh dari harapan sebagai teladan masyarakat. Yang ada, tingkah polah mereka kian membikin masyarakat apatis dengan terma politik. Ini adalah sumbangan besar bagi kemunduran demokrasi. Minimnya referensi panutan membuat masyarakat mudah ditarik ulur pihak-pihak yang memiliki kepentingan pribadi atau komunal. Akar rumput yang tak menahu arah, akhirnya saling tuduh dan menyalahkan satu sama lain.

Dinamika politik dan kekuasaan yang dimainkan para pembesar negeri ini, telah jauh dari misi transenden politik, yakni pengabdian. Nasionalisme hanya sekadar menjadi lips service, tidak dibumikan. Republik ini tidak kekurangan orang yang terlahir dengan kehendak berkuasa, tapi amat langka yang berpikir tentang Indonesia. Dengan demikian, yang dipertontonkan adalah mentalitas pecundang saja.

Dengan segala kompleksitas problematika negeri kita, tidak ada kata terlambat untuk menangani krisis yang kronis ini. Diawali dengan komitmen kuat semua pihak untuk menampilkan diri sebagai figur teladan yang baik di setiap ranah kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang kemudian diharapkan akan membentuk kesadaran kolektif untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas segala kepentingan lain.

Penulis teringat sebuah sabda Nabi yang menyatakan, bahwa akan selalu ada tokoh pembaharu yang memiliki daya pengaruh dan daya jangkau yang luas. Ia akan memperbaiki yang keliru dan memertahankan yang baik. Sosok ini akan hadir di tiap penghujung 100 tahun. Sabda ini menjadi isyarat bahwa harapan dan angin segar akan selalu berhembus.

Terma guru bangsa yang rasanya jauh dari jangkauan, semoga akan segera menemukan relevansinya. Sejatinya, siapapun yang mengajarkan kearifan dan kebijakan adalah guru kita bersama. Selamat Hari Guru, teruntuk semua teladan bangsa. Wallahu a’lam. []

Related posts
Kolom

Vaksinasi Lintas Agama, Memperkuat Persatuan Bangsa

Masjid Istiqlal menjadi tempat untuk melakukan vaksinasi para pemuka agama. Kegiatan tersebut dilaksanakan bukan hanya kepada yang beragama Muslim saja, tetapi untuk semua agama. Aktivitas yang melibatkan tokoh lintas agama ini menjadi salah satu alat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Pasti, nantinya hal tersebut akan menambah kerukunan warga antar agama. Sebab, para pemuka agama memiliki peran sentral demi meyakinkan masyarakat untuk membuktikan keamanan vaksin, sehingga program vaksinasi dapat berjalan dengan lancar.
Kolom

Indonesia Sehat Tanpa Hoaks

Angka penyebaran berita bohong atau hoaks masih terus tumbuh dengan pesatnya. Hoaks telah banyak menguasai media-media sosial, meracuni akal sehat pikiran manusia…
BeritaKolom

Edukasi Komunikasi Netizen Indonesia

Hasil laporan tahunan Microsoft tengah menampar netizen Indonesia. Pasalnya, netizen Indonesia dinilai paling tidak sopan se-Asia Tenggara oleh Microsoft dalam laporan yang…