Sejak kepulangan Rizieq Shihab dari Arab Saudi (10/11/2024), banyak baliho bergambar Rizieq Shihab bertebaran di sejumlah titik di Ibukota. Baliho tersebut tak lain untuk menyambut kedatangan pemimpin Front Pembela Islam, Muhammad Rizieq Shihab. Namun demikian, pemasangan baliho tersebut mendapat sorotan dari pemerintah, yang pada akhirnya berujung pada pencopotan baliho Rizieq Shihab oleh anggota TNI atas perintah Pangdam Jaya Jakarta.
Di sisi lain, munculnya baliho Rizieq Shihab tersebut memunculkan fenomena baru di masyarakat. Fenomena tersebut adalah fenomena hormat kepada baliho bergambar Rizieq Shihab. Bahkan, lebih parah lagi adalah munculnya beberapa orang yang berdoa di depan baliho Rizieq Shihab tersebut. Ini adalah fenomena baru yang sangat konyol sekaligus menggelitik. Apakah sudah sedemikian parah cara pandang beragama masyarakat kita, sehingga Rizieq Shihab dijadikan layaknya berhala yang pantas dipuja dan disembah?
Tentu saja jawabnya tidak, bagi orang yang punya pikiran waras. Pemujaan dan penyembahan terhadap sesuatu selain Tuhan adalah perbuatan syirik. Bukankah syirik merupakan salah satu dosa besar yang tidak terampuni? Sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran, Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar (QS. Luqman: 13).
Fenomena munculnya masyarakat yang hormat dan berdoa di depan baliho Rizieq Shihab tersebut telah mengingatkan penulis terhadap masyarakat Arab era jahiliyah. Yang mana, masyarakat Arab masa jahiliyah memiliki keyakinan yang mengkultuskan benda-benda alam seperti pohon, sumur, gua, dan batu yang dianggap sebagai objek yang sakral, karena mereka menjadi media bagi para pemujanya untuk berhubungan dengan dewa (Hitti, 2018: 121).
Seperti yang banyak diceritakan, kebudayaan Arab adalah kebudayaan yang identik dengan mistik. Di sekitar Mekkah terdapat Bukit Qaf yang dikenal sebagai media antara manusia dengan alam ghaib. Mereka menjadikan bukit itu sebagai tempat untuk mengajukan hal-hal yang menjadi problem dalam kehidupan mereka dan memecahkan masalah yang pelik. Mereka meyakini tempat itu sebagai tempat keramat.
Karenanya, tak heran bila masyarakat Arab jahiliyah dikenal sebagai penyembah berhala. Seperti yang disebut oleh Philip K. Hitti (2018), ada tiga berhala yang populer pada saat itu, yaitu Al-Uzza, Al-Lat, dan Manat. Ketiganya diyakini sebagai anak perempuan Tuhan dan memiliki tempat pemujaannya masing-masing yang disakralkan di daerah yang kemudian yang kemudian menjadi tempat kelahiran Islam.
Dalam konteks ini, Rizieq Shihab yang oleh para pengikutnya direpresentasikan seperti berhala yang layak dipuja dan disembah adalah bentuk perilaku primitif dari masyarakat Arab jahiliyah pada masa itu. Masyarakat yang gemar mengkultuskan suatu benda sebagai sebuah hal yang sakral dan keramat. Masyarakat yang memuja dan dan menyembah benda mati. Masyarakat yang tidak memiliki rasionalitas dalam berpikir.
Fenomena di atas juga merupakan sebuah bentuk kefakiran akal sehat yang nyata. Bahkan, Buya Syafii menyebut perilaku mendewa-dewakan seorang yang dianggap keturunan Nabi adalah bentuk perbudakan spiritual. Lebih lanjut, Buya Syafii juga mengutip pernyataan Bung Karno bahwa sikap masyarakat yang terlalu mendewakan seseorang sebagai keturunan Nabi adalah bentuk kehidupan bermasyarakat yang tak sehat di NKRI.
Kiranya, pernyataan Buya Syafii bisa menjadi pemantik nalar waras kita semua, tak terkecuali para pengikut fanatik Rizieq Shihab. Sudah semestinya mereka menyadari bahwa Rizieq Shihab adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan dosa. Bebarapa kasus pidananya menjadi bukti bahwa Rizieq adalah manusia seperti pada umumnya yang juga pernah melakukan kesalahan.
Rizieq Shihab bukanlah Nabi yang maksum, yang terhindar dari kesalahan, dosa, dan dijamin masuk surga. Apalagi kok sampai menganggap Rizieq seperti berhala yang layak dipuja dan disembah meminta doa. Karenanya, para pengikut Rizieq Shihab harus tetap menggunakan nalar warasnya untuk menyaring setiap seruan Rizieq Shihab. Apakah seruan dakwahnya mengarah pada kebaikan dan kemaslahatan, atau sebaliknya malah mengundang permasalahan dan perpecahan?
Boleh saja dan bahkan wajib mengikuti seruan dakwahnya yang mengajak pada kebaikan dan kemaslahatan. Namun, bertaklid dan mengikuti semua apa yang dikatakan oleh Rizieq Shihab adalah suatu bentuk kebodohan. Mengidolakan seseorang boleh-boleh saja, tetapi apabila sampai menjadikan fanatik buta merupakan kebodohan ganda yang nyata. Apalagi menganggap Rizieq Shihab seperti berhala yang layak dipuja dan disembah, hal ini merupakan wujud kematian akal dan spiritual.
Pada akhirnya, sebagian para pengikut dan simpatisan Rizieq Shihab harus menyadari bahwa apa yang mereka lakukan dengan hormat dan berdoa di depan baliho Rizieq Shihab adalah sebuah kekeliruan. Mengkultuskan seseorang selain Nabi saja tidak diperbolehkan, apalagi sampai memuja dan menyembahnya. Maka dari itu, sudah seharusnya mereka kembali ke jalan yang benar agar apa yang dikatakan Imam Ghazali sebagai jahil murakkab (kebodohan kuadrat) tidak menjadi kenyataan. Kira-kira, maukah mereka melakukannya?