Setibanya Rizieq Syihab di Tanah Air, dinilai membawa ketidakstabilan keamanan negara yang acap kali menimbulkan banyak kegaduhan, khususnya di masa pandemi Covid-19. Sejumlah warga tengah meramaikan penolakan kedatangan Rizieq Syihab di berbagai daerah. Demonstrasi ini dilakukan sebagai tindakan preventif atas beredarnya berita, yang konon katanya pentolan FPI itu berencana melakukan safari dakwah yang ditengarai bernuansa politik kebencian.
Di antara daerah yang menggelar demonstrasi penolakan adalah Medan, Solo, Banten, Bandung pada 20-21 November 2020. Warga di daerah tersebut, ramai-ramai membawa baliho yang menarasikan penolakan dan beberapa poster kekecewaan masyarakat karena isi dakwah yang dianggap memecah belah. Kekhawatiran itu sebagai akibat dakwah yang keras dan ekstrem di Jakarta, yang ditakutkan berdampak juga di daerah mereka. Mereka pun memproklamirkan, bahwa ideologi dasar negara Pancasila sudah final dan NKRI abadi.
Aspirasi yang ditunjukkan masyarakat daerah di atas, perlu mendapat perhatian serius pemerintah. Warga semakin bersuara lantang sebagai bentuk respons dari pernyataan Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurrachman. Meski begitu, Pangdam Jaya oleh sebagian atasan pengamat pemerintahan dinilai sewenang atas sikapnya karena memerintah seorang TNI melepas baliho Rizieq Syihab dan ketegasannya yang menegur FPI bisa dibubarkan, apabila tidak mematuhi peraturan pemerintah (20/11).
Padahal, kebijakan Mayjen Dudung sebenarnya tidak spontan. Sebelumnya telah ada teguran, tetapi peraturan tidak ditaati, jadi baliho terpaksa diturunkan. Perlu diketahui beberapa kali diturunkan, maka beberapa kali pula baliho itu dipasang kembali oleh simpatisan FPI. Sampai akhirnya TNI turun tangan untuk menertibkan ketidaktaatan FPI pada peraturan pemerintah. Kendati demikian, tak sedikit yang mendukung ketegasan Mayjen Dudung, bagaimana pun ia melakukan kebijakan yang dirasa benar, demi pertahanan dan kedamaian negara. Realitas masyarakat turut menguatkan tindakan tersebut dinilai inisiatif yang mesti apresiasi.
Suara warga terhadap penolakan kedatangan Rizieq Syihab kali ini tidak boleh dipandang apatis. Ahmad Nadjib Burhani dalam Jurnal Ma’arif menyebutkan, bahwa FPI sempat mengirimkan surat baiat(janji setia) ke berbagai individu dan pesantren. Isinya adalah ajakan untuk sedia berbaiat agar mengangkat Dr. Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA, DPMSS, sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia dan berjanji setia atas perintah dan larangannya yang sesuai dengan syariah Allah SWT dan Rasul-Nya (2016: 23).
Berdasarkan narasi dari surat tersebut dapat dipahami, Rizieq Syihab bukan saja menginginkan dirinya diakui sebagai imam besar FPI, melainkan seluruh umat Islam Indonesia. Sangat terlihat otoritas keagamaan Rizieq Syihab sulit ditawar. Walaupun presiden merupakan seorang pemimpin bangsa yang memiliki otoritas tinggi atas rakyatnya. Sepenuhnya wewenang pembentukan peraturan masih melibatkan parlemen dan para ahli. Di sini Rizieq Syihab seperti menempatkan dirinya seorang utusan setelah Nabi Muhammad SAW yang harus ditaati, baik perintah maupun larangannya. Ini sungguh sikap politisasi gelar habib dan figur agamawan.
Keseriusan masyarakat tentang penolakannya perlu ditinjau. Sebab penolakan ini hakikatnya merupakan representasi ketidaksingkronan masyarakat atas segala yang bersumber dari pentolan FPI, baik dakwah, idologi dan pengimplementasian doktrin FPI tentang amar ma’ruf dan nahi munkar. Bukan semata karena memikirikan daerahnya sendiri, melainkan seluruh Indonesia pun bisa terkena dampak FPI yang tidak diinginkan.
Berasal dari sanubari yang paling dalam, mereka sebenarnya hanya khawatir agar Indonesia tidak terpecah belah sebab dakwah Rizieq Syihab dan keotoriterannya dalam beragama yang tak ada dikompromi. Terlebih apa yang diklaim buruk dan maksiat, kelompok FPI tak segan-segan melakukan pertentangan dan kegaduhan, seperti kasus-kasus sebelumnya.
Sejatinya warga daerah ramai-ramai menolak Rizieq Syihab bukan semata karena orangnya. Hal demikian tidak lepas dari sikap kelompok FPI sedniri yang kurang kesadaran untuk cara menjalin sosialisasi yang baik dengan warga sekitar. Patuh terhadap peraturan pemerintah dan mengkritisi segala sesuatu dengan cara yang lebih bijak. Perhatian penuh ditunjukkan kepada kelompok FPI sebagai koreksi diri. Pertanyaan ini penting dijawab mengapa warga daerah ramai-ramai menolak kedatangan Rizieq Syihab?