Berita

Pangdam Jaya is The Best

2 Mins read

Dalam sepekan terakhir, video pencopotan baliho Habib Rizieq Syihab oleh orang-orang berpakaian loreng di sejumlah lokasi menjadi sorotan publik serta menuai dukungan dan kritik. Pasalnya, orang-orang yang mencopot baliho itu tak lain adalah para anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Menanggapi hal tersebut, Panglima Kodam Jaya, Mayor jenderal TNI Dudung Abdurachman menjelaskan bahwa pencopotan baliho HRS sebenarnya telah dilakukan sejak dua bulan yang lalu oleh pihak kepolisian dan satpol PP daerah setempat. “Itu kan pencopotan sudah dua bulan lalu serta melibatkan polisi dan Satpol PP”, ujar Dudung saat diwawancarai merdeka.com pada Minggu (22/11/2024).

Bagi mereka yang tidak mengetahui situasi dan kondisi ketika TNI ikut turun mencopot baliho, tentu saja akan memandang sebelah mata kejadian tersebut dan menyuarakan kebencian. Padahal, sebelum menilai dan mengkritik seharusnya setiap individu melakukan pengecekan atau tabayyun agar tidak ada kesalahan dalam menilai.

“Ada berbaju loreng menurunkan baliho HRS, itu perintah saya, karena berapa kali Satpol PP turunkan, dinaikkan lagi. Begini, ini Negara hukum siapa pun harus taat kepada hukum, kalau pasang baliho jelas ada aturannya, bayar pajaknya, tempatnya sudah ditentukan, jangan seenaknya sendiri, seakan-akan dia paling benar, ga ada itu, jangan coba-coba…”, tegas Pangdam Jaya saat apel pasukan di Monas, Jakarta pada Jumat (20/11/2024) lalu.

Memang, ketika video pencopotan baliho oleh anggota TNI, sebagian warganet menyoal tindakan tersebut, karena menurut mereka, pecopotan baliho tersebut bukan sikap yang pantas dilakukan kepada seorang Habib. Namun, apakah pencopotan baliho HRS dapat menurunkan eksistensi ‘Revolusi Akhlak’, kemuliaan, dan popularitasnya? Bisa jadi tidak, jika ucapan dan perilaku yang dicontohkan Imam Besar kepada pengikutnya itu penuh kelembutan dan kasih sayang.

Justru, tindakan yang dilakukan Pangdam Jaya beserta anak buahnya yang menurunkan sejumlah baliho ilegal seharusnya didukung oleh masyarakat, karena merupakan bentuk perjuangan penegakan hukum demi terjaganya persatuan dan kesatuan bangsa. Terlebih, ucapan Pangdam Jaya yang menjelaskan latar belakang pencopotan baliho dan mengapa TNI ikut turun adalah refleksi tanggung jawab dan kepeduliannya terhadap keamanan lingkungan masyarakat.

Di sisi lain, dukungan kami berikan sepenuhnya kepada Pangdam Jaya yang secara tegas dan berani menampakkan Islam sesungguhnya. Tidak marah-marah saat dihina dan tidak mencaci-maki saat tidak disenangi. Ia menyampaikan, “terimakasih hujatan HRS kepada TNI maupun polri. Kalau katanya sebagai Imam Besar, kalau dibilang sebagai kiai atau Habib, karena habib atau kiai itu selalu hatinya, pikirannya, ucapannya, dan tindakannya, semuanya itu baik. Kalau ucapannya tidak baik itu bukan habib namanya. Saya sebagai Muslim juga mengajarkan selalu, islam itu agama rahmatan lil alamin, agama yang mengajarkan tentang kasih sayang, untuk seluruh alam semesta bukan hanya manusia saja.”

Kita menyaksikan bersama, bagaimana perkataan yang baik justru hadir dari seseorang yang kedudukannya jauh dari kata Kiai atau ustadz atau Imam Besar, tetapi perkataannya jauh lebih bijak dan santun daripada seseorang yang mengaku Imam Besar itu. Maka dari itu, kita tidak boleh tertipu oleh status, gelar, dan jabatan seseorang, tetapi kita lihat dahulu akhlak Muslim sesungguhnya yang merasuk ke dalam jiwa yang secara otomatis terpancar dari ucapan dan perilakunya.

Bukan sekadar menyatakan kritik terhadap Habib Rizieq Syihab, Pangdam Jaya juga memberikan nasihat kepada anak buahnya dan khalayak, bahwa agama Islam itu agama kasih sayang. Apa yang disampaikannya sejalan dengan sebuah hadis dalam kitab Shahih Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda, tatkala Allah menciptakan makhluk, Alah telah menuliskan dalam kitab catatan-Nya yang berada di sisi-Nya di atas arsy bahwa sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan murak-Ku [HR Bukhari].

Gerah mendengar cacian dan makian yang terkandung dalam ceramah HRS pada acara peringatan Maulid Nabi di Petamburan, Jakarta Pusat yang digelar 14 November 2020, Pangdam Jaya mengkritik, bahwa Kiai atau habib seharusnya berkata dan bertindak baik. Saya pun mengiyakannya, karena sebagai seorang pemimpin organisasi masyarakat, sudah tentu gerak-geriknya diikuti, paling minimal oleh para pengikutnya, maka sudah seharusnya mengajarkan Islam rahmatan lil ‘alamin dan tidak mengganggu persatuan dan kesatuan.

Dengan demikian, Pangdam Jaya memang top atau dalam bahasa kekiniannya, Pangdam Jaya is the best, khususnya dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Tegas dan jujur dalam menunaikan tanggung jawab dan kewajiban dengan cara menegakkan hukum kepada siapa saja, tanpa memandang status, bahkan jabatan.[]

Related posts
Berita

Zuhairi Misrawi Akan Lindungi WNI di Arab Saudi

Santer terdengar pada akhir-akhir ini, bahwa KH Zuhairi Misrawi atau yang lebih akrab dikenal dengan panggilan Gus Mis, mendapatkan tugas baru dari Presiden Jokowi Dodo, yaitu menjadi Duta Besar (Dubes) di Negara Timur Tengah yaitu Arab Saudi. Tentunya, tugas menjadi wakil negara di kota haramain tersebut tidaklah mudah, memerlukan ekstra kerja keras dan juga perhatian khusus terlebih kepada diaspora Indonesia.
Berita

Dukung Wamenag Jadikan Mapel PAI sebagai Instrumen Moderasi Beragama

Kementerian Agama kini terus menggalakkan penguatan moderasi beragama pada tiap layanan keagamaan, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…