Media sosial, terutama Twitter belakangan ini diriuhkan dengan berbagai macam perang hastag yang diisi oleh dua fanbase yang berbeda. Jika sebelumnya hastag di Twitter diwarnai dengan para penggemar K-pop, seperti hastag #WeThankYouTaehyung, #BTS_Dynamite dan lain sebagainya. Namun akhir-akhir ini, fanbase viral tersebut mulai tergeser dengan kehadiran fandom Habib Rizieq Syihab (HRS) yang mulai mewarnai tranding topik di sosial media, khususnya Twitter.
Fandom sendiri merupakan singkatan dari fan kingdom (kerajaan fan). Fandom dalam istilah yang paling dasar yaitu sekelompok fans yang membentuk jaringan atau sebuah gerakan sesuai dengan kepentingan bersama. Secara sederhananya, fandom merupakan sebuah komunitas karena didasarkan pada kesamaan (homogen), yang tidak intensif dan bahkan tak terlalu saling mengenal.
Jika sebelumnya fandom identik dengan fenomena Hallyu atau Korean Wave yang terjadi di kalangan masyarakat, khususnya anak muda. Di Indonesia sendiri fenomena ini biasanya berupa gelombang penyebaran budaya Korea, seperti musik, film, dan serial drama. Namun kali ini, ternyata penyebaran fandom mengalami pergeseran makna, sebab fandom ini bisa saja terjadi diberbagai komunitas dan organisasi tertentu, khususnya para fanbase HRS, yaitu FPI.
Hal ini tentu sesuai dengan fakta yang terjadi. Kekuatan fandom HRS yang berbondong-bondong mendatangi dan menjemput kepulangannya di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng beberapa waktu yang lalu. Bentuk nyata kefanatikan para fandom HRS juga diperlihatkan secara jelas dengan kedatangan mereka yang sudah mulai nangkring sejak dari subuh. Mengenakkan atribut pakaian serba putih yang identik dengan simbol agama, seperti bendera laskar FPI, dan poster idolanya. Hal ini juga ditambah dengan gerakannya melalui sosial media yang dapat menggeser viralnya tagar K-pop tersebut.
Memang, keterlibatan media sosial dapat memengaruhi satu sama lain, akibatnya penyebaran tersebut mulai bergerak secara cepat ke berbagai lini, salah satunya kekuatan fandom HRS. Sebagai seperangkat bentuk tindakan budaya yang tidak murni melalui media sosial, idola dan fans kerap kali berinteraksi satu sama lainnya, seperti yang dilakukan HRS saat acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Petamburan, Jakarta Selatan.
Penampilan HRS di atas panggung dengan narasi-narasi dakwahnya memiliki interaksi sosial, laiknya idola dan fans yang sudah lama tak berjumpa. Antusias para fandom ini memenuhi disetiap celah dan meramaikan jalan untuk menyaksikan idola yang lama tak bertemu. Tentu mereka memiliki faktor yang sama, yakni ingin bertemu dengan imam besar mereka.
Selain memiliki tingkat ketertarikan dan kesadaran yang sama, adapun ciri-ciri perbedaan fandom K-pop dan fandom HRS juga dapat dilihat sebagai berikut, pertama penggemar harus mendukung idolanya. Dalam fenomena K-Pop, penggemar bukan hanya sebagai penikmat saja ketika para idolanya tampil di layar kaca, melainkan penggemar wajib untuk mendukung idolanya, terutama saat acara penghargaan tahunan yang diadakan di Korea atau Internasional. Hal ini tentu berdampak bagi idolanya, sebab para fandom ini acap kali selalu mendukung gerakan-gerakan positif yang dinilai dapat memiliki efek luas bagi perkembangan karir idolanya.
Biasanya, para idola akan melakukan voting melalui media sosial atau internet, di sanalah para penggemar memberikan dukungan ke pada idola masing-masing. Hal ini juga tentu tak berbeda jauh dengan para penggemarnya, fandom HRS memiliki sebuah kewajiban untuk mendukung HRS, akan tetapi dukungan ini dinilai tidak patut untuk ditiru, misalnya saja ketika dukungan penerapan hukum cambuk bagi para pelanggar syariat Islam yang dilontarkan oleh HRS, dan mendapat dukungan dari para fandomnya.
Bukan hanya itu saja, dukungan fandom HRS juga terjadi pada beberapa gerakan aksi 411 dan 212 pada tahun 2016 silam di Monas, Jakarta Pusat. Ketertarikan dan kesadaran yang sama dari para fandom ini tentu dipengaruhi oleh idolanya, yakni HRS. Ia mengatakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), merupakan seorang penistaan agama.
Hal ini jelas menimbulkan gerakan sekumpulan masa yang dinilai tidak seharusnya menjadi contoh dan tak patut untuk didukung. Meskipun barangkali kekuatan fandom HRS pada gerakan aksi kala itu mengalahkan gerakan fandom K-Pop BTS, yaitu Army, yang merupakan fandom terbesar di dunia, bahkan di Indonesia.
Kedua, memiliki barang yang sama dengan idolanya. Bukan penggemar namanya jika tidak memiliki barang yang identik dengan idolanya. Dalam fenomena fandom K-pop biasanya para penggemar akan membeli K-Pop Stuff di online shop, yaitu allaboutmerchant_K-pop, barang yang dijual di online shop tersebut merupakan barang-barang asli karena diimpor langsung dari negara asalnya, yakni Korea Selatan. Namun, atribut yang digunakan oleh fandom K-pop ini dinilai tidak sama sekali merugikan atau menyinggung kelompok tertentu.
Sementara itu, para fandom HRS justru melakukan hal yang berbeda, yakni mereka menggunakan berbagai bentuk simbol yang dinilai dapat merugikan orang lain. Sebagai contoh misalnya, pemasangan baliho yang ada dipinggir jalan, produk kearab-araban, serta bendera bertuliskan kalimat tauhid yang mereka anggap itu adalah bendera agama Islam yang terjual di berbagai toko syariah online.
Menurut Jean Baudrillard, masyarakat sekarang berada dalam era baru simulasi di mana reproduksi sosial (proses informasi, komunikasi, dan industri ilmu pengetahuan, dan seterusnya) menggantikan produksi sebagai bentuk teratur dari masyarakat. Dalam era masa ini tidak lagi bisa dibedakan antara yang nyata dan yang palsu, karena yang muncul adalah dunia yang melampaui realitas (hyper-reality).
Apa yang dijelaskan Baudrillard, memperlihatkan pada kita bahwa yang disebut para penggemar di era revolusi informasi sesungguhnya adalah pangsa pasar yang potensial bagi berbagai produk industri budaya, sekaligus aktor: konsumen dan produsen dari berbagai produk dan aktivitas yang bergaya. Karakteristik para fandom yang radikal secara ekonomi, bukan saja melahirkan kegandrungan yang berlebihan atau perilaku fanatik yang tak jarang irasional.
Ketiga, adanya fandom bukan hanya untuk melihat penampilan idolanya yang menarik, akan tetapi juga harus bisa meneladani sikap idolanya. Pada fandom K-pop adanya teknologi yang canggih dimanfaatkan oleh mereka untuk mengadakan pertemuan dengan membahas persoalan idolanya. Adanya buih kebersamaan tersebut, maka dari itu fandom K-pop akan menyamarkan berbagai perbedaan. Penggemar yang berbeda agama, usia, ras dan golongan bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan.
Sementara itu, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh fandom HRS yang meneladani sikap dari idolanya. Sebagai contoh misalnya, HRS sebagai idola selalu memberikan ceramah dan dakwah yang melontarkan ujaran kebencian, dan narasi perpecahan. Para fandomnya pun demikian. Mereka tanpa tedeng aling-aling meneladani dan melakukan hal yang sama dengan idolanya. Hal ini tentu perbuatan yang tidak patut untuk ditiru dan dicontoh. Namun, begitulah fandom HRS dengan segala kefanatikannya.
Sementara itu, dalam mengukur eksistensi dirinya, para fandom biasanya memanfaatkan sosial media sebagai bagian dari ketertarikan mereka dan membuat grup atau percakapan terkait dukungan idolanya. Misalnya saja, fandom K-pop sering membuat grup seperti Army Indonesia, Blink Indonesia, Army Forever, dan lainnya. FPI juga membuat hal yang sama, yakni FPI Lovers, Para Pencinta Habib Rizieq, serta masih banyak lagi.
Hal ini senada tipologi Van Dijk dalam Lievrouw (2009) yang menjelaskan bahwa, terdapat empat karakteristik sebuah komunitas virtual dalam sosial media, yaitu antara lain memilki anggota, sebuah organisasi sosial, memiliki bahasa dan pola interaksi, serta sebuah identitas umum dan kultural. Karakteristik itulah yang nantinya digunakan untuk membandingkan komunitas virtual dengan kehidupan nyata atau yang kita sebut sebagai “organic communities”. Komunitas virtual ini bisa dikarakteristikkan berdasarkan kuatnya hubungan antara para anggotanya yang berdasarkan tempat, waktu, dan merefleksikan sebuah keanggotaan yang homogen.
Dengan demikian, kehadiran media sosial serta budaya masa telah menitikberatkan pada berbagai produk sosial. Kekuatan media ini yang dapat memengaruhi fandom yang semakin viral. Fandom K-pop dinilai memiliki rasa kesetiakawanan yang dapat dilihat dari bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain di media sosial tanpa membedakan agama, suku, ras dan antar golongan. Sementara fandom HRS lebih banyak menuai narasi kebencian dan perpecahan antar umat dan golongan. Oleh karena itu, lebih asyik fandom K-pop ketimbang fandom HRS bukan?