Hari-hari ini, kita makin dibuat geleng-geleng kepala dengan maraknya ujaran kasar sarat umpatan yang keluar dari lisan sebagian pemuka agama, atau yang getol menyebut diri sebagai ulama. Agama yang meniscayakan kedamaian, dirancukan esensinya oleh oknum-oknum yang tanpa beban mendakwahi umat dengan pandangan, kelakuan, dan lisan penuh muatan kebencian. Daripada seorang ulama, oknum demikian rasanya lebih terlihat sebagai juru hasut.
Masyarakat yang tak berpikir ulang pun akan terjebak pada skenario jihad yang delusif. Karena ulama seperti di atas, kerap melakukan adegan playing victim. Menempatkan diri dan agama seolah-olah menjadi korban kezaliman dan penindasan penguasa. Dengan ini, ‘jihad’ dan pembelaan pun dianggap terlegitimasi untuk digalakkan, dengan cara apapun. Bahwa pemerintah banyak kekurangan dan kebijakan yang kadang tidak pro-rakyat, memang iya. Namun, mengadu antara masyarakat dengan pengusa berdalih agama, ialah sikap rendahan dan hina.
Di samping itu, miskonsepsi terhadap amar makruf nahi mungkar, menghasilkan simplifikasi atas konsep tersebut dalam tataran praktik. Sekali melihat hal yang dianggap maksiat, tangan gatal untuk melenyapkan, bukan spirit merangkul penuh empati untuk menyadarkan. Padahal, pemahaman secara komprehensif terhadap obyek dan metode dakwah, mutlak diperlukan untuk menghindari tindak sewenang-wenang dalam menertibkan kemungkaran.
Pasca rampungnya periode kenabian, obor keilmuan untuk membimbing umat dipegang oleh para ulama. Mereka adalah sosok padat ilmu, karena apa yang Nabi wariskan untuk disebarluaskan bukan harta benda, melainkan ilmu pengetahuan. Yang dimaknai sebagai pewaris para Nabi bukan hanya mereka yang menguasai aspek normatif-teoretis keagamaan, tapi juga menjiwai budi pekerti Nabi yang ditampilkan dalam keseharian. Lemah lembut, tidak bersungut-sungut dalam berdakwah. Lebih dari itu, ulama juga harus melanjutkan tradisi profetik yang telah terekam dalam sejarah para Nabi.
Para utusan Allah SWT berdakwah dengan penuh kesantunan. Jika ulama yang dinyatakan sebagai pihak paling otoritatif atas warisan ilmu Nabi berdakwah secara kasar, ekstrem dan agitatif, maka alih-alih mewarisi jalan kenabian. Yang ada mereka meng-copy paste karakter Abu Jahal, paman Nabi Muhammad SAW yang diliputi kebencian dan angkara murka. Jika demikian, maka predikat ulama sejatinya tidak lagi kompatibel bagi oknum-oknum semacam itu. Masyarakat butuh pengayom yang meneduhkan, bukan meresahkan.
Fenomena saat ini dipenuhi dengan hal yang serba paradoksal dan menggelikan. Ada semacam gelombang yang mencoba membalikkan nalar berpikir kita. Pihak yang terendus menodai citra agama dengan ujaran yang berapi-api saat berceramah misalnya, justru dianggap sebagai juru selamat umat. Selama badan berbalut jubah dan kepala berhias serban, seakan apapun yang keluar darinya adalah titah kudus. Celaka jika mendebatnya. Tapi jangan lupa, jubah dan serban juga kostum Abu Jahal.
Ulama berperan sebagai juru kunci dalam membumikan ajaran Islam. Mengabdi untuk menebar kebermanfaatan, merangkul umat, serta memajukan masyarakat. Mereka adalah golongan yang dianugerahi kemewahan pemahaman dan hikmah. Ulama adalah bagian dari ahlu al-dzikr, tempat bertanya saat kita tidak tahu akan sesuatu. Oleh mereka, agama diajarkan untuk mendidik manusia agar lebih baik. Agama bukan kita pelajari supaya menjadikan orang lain terlihat buruk.
Tradisi profetik yang terinternalisasi dalam diri ulama, akan menumbuhkan semangat berkeadilan, kasih sayang, kecintaan pada kebaikan dan perdamaian. Bukan hanya perdamaian intra-kelompok, tapi perdamaian seluruh umat manusia. Hal ini mengacu pada mandat filosofis hadis wa inna al-‘ulama’ waratsatu al-anbiya’, “dan sesungguhnya ulama ialah pewaris para Nabi”. Para utusan Allah SWT tersebut silih berganti menyeru tiap generasi kepada kebaikan serta perdamaian, yang bermuara pada umat garapan Nabi Muhammad SAW.
Agungnya mandat kenabian yang menjadi tanggungjawab ulama, bahkan membuat posisinya lebih unggul dibanding abid (ahli ibadah). Dalam hadis disebutkan, bahwa keutamaan ulama atas ahli ibadah bagaikan keutamaan purnama atas seluruh bintang-gemintang. Menyalahgunakan ilmu dan predikat keulamaan untuk tujuan yang profan, akan sangat menciderai amanat Nabi.
Pendekatan esoteris Islam, yakni tasawuf, di mana keteladanan akhlak adalah fokus utama, adalah hal yang harus diperhatikan ulama dalam berdakwah. Karena mereka adalah lokomotif dari misi agung untuk membimbing umat. Bukanlah seorang ulama jika lisannya subur dengan emosi dan caci maki. Watak agama yang dalam hal tertentu menghasilkan ketundukan, tak jarang dimanfaatkan pemuka agama untuk menjinakkan umat. Bermodal janji dan ancaman dari nash-nash agama, mereka membujuk masyarakat untuk membentuk kekuatan koloni, yang tak banyak orang sadari, amat politis. Umat menjadi terpecah belah, emosional, dan memiliki egoisme kelompok yang ultra-tinggi.
Sesiapa yang mewarisi Nabi dia pasti alim. Tapi tidak semua yang belajar dan menuai ilmu termasuk pewaris Nabi. Pewaris Nabi ialah mereka yang dipahamkan dan dianugerahi kebijakan dalam menyelesaikan perselisihan. Akan dianggap lumrah dan kaprah, jika dakwah ramai kekasaran dibiarkan berkembang. Dan hal ini tentu sangat berbahaya bagi pola pikir umat. Kita sudah seharusnya lebih jeli dan peka dalam memilih komunikator keagamaan. Tidak hanya tersihir oleh penampilan yang terlihat nyunnah, padahal lisan sarat dengan serapah. Ulama itu mengetuk kesadaran, bukan mengutuk penuh umpatan. Wallahu a’lam.