Kekeliruan Ceramah Habib Hanif

0
1
WhatsApp
Twitter

Tidak hanya Habib Rizieq Syihab yang menyampaikan ceramah tentang pemenggalan kepala, tetapi menantunya, Muhammad Hanif ibn Abdurrahman al-Attas juga menyampaikan isi ceramah senada yang kini menjadi sorotan publik. Dengan suara menggelora dan meyakinkan ia menggambarkan perilaku sahabat Nabi SAW yang memenggal kepala orang yang menghina Nabi. Namun sayang, kisah yang disampaikannya justru keliru dan menyesatkan.

Sebelumnya, ia menobatkan pemuda yang membunuh seorang guru (Samuel Paty) di Prancis sebagai pahlawan. Pasalnya, guru tersebut telah menistakan Nabi Muhammad SAW dengan cara membuat dan menampilkan karikatur yang ia anggap Nabi di hadapan para murid. Penobatan pemuda tersebut sebagai pahlawan merujuk pada perilaku sahabat Nabi SAW, Khalid ibn Walid yang telah membunuh Malik.

Habib Hanif menyatakan bahwa ketika Khalid mendatangi Malik ibn Nuwairah, Malik menolak untuk membayar pajak. Menurutnya, saat itu Malik telah menghina Nabi Muhammad SAW kemudian Khalid ibn Walid segera memenggalnya. Perilaku Khalid kemudian diapresiasi oleh Abu Bakr dan Khalid kemudian disandangkan gelar pahlawan.

Benarkah sejarah berkata demikian? Tentu saja tidak. Apa yang disampaikan oleh menantu Habib Rizieq ini keliru, karena tiga alasan. Malik ibn Nuwairah dibunuh bukan atas dasar penghinaan Nabi, Khalid ibn Walid bukan pelaku penebasan Malik, dan Abu Bakr tidak pernah menyebutkan bahwa Khalid itu pahlawan karena telah membunuh Malik, justru sebaliknya ia didesak oleh Umar untuk mencopot jabatan Khalid.

Sejarah sebenarnya tentang pembunuhan Malik ibn al-Nuwairah tercatat rapi dalam kitab-kitab para sejarawan, salah satunya dalam kitab Bidayah wa al-Nihayah karya Imam Ibn Katsir, mejelaskan bahwa Malik ibn Nuwairah adalah petugas yang ditugaskan untuk mengumpulkan zakat dari kaumnya. Namun, ketika Rasulullah SAW wafat, muncul gerakan Nabi-Nabi palsu dan murtadnya kabilah-kabilah Arab. Ada yang enggan membayar zakat (beranggapan zakat sudah tidak wajib lagi), maka Malik ibn Nuwairah, salah satu pemimpin Bani Tamim, termasuk kalangan mereka yang membangkang dan enggan menunaikan zakat.

Pembangkangan Malik ibn Nuwairah kepada Khalifah Abu Bakr, tak lepas dari peran Sajjah, seorang perempuan (tokoh dukun) Bani Tamim yang mengaku sebagai Nabi. Karenanya, sebagian ulama menganggap bahwa Malik murtad, tetapi seseorang asal Anshar, Abu Qatadah ibn Rib’i bersaksi bahwa mereka (para tawanan termasuk Malik) mendirikan shalat.

Dari sini kita melihat ada dua perbedaan besar pendapat ulama. Sebagian memandang, alasan pembunuhan Malik adalah pembangkangannya terhadap pemerintah dan sikapnya yang mendukung Nabi palsu, Sajah, dari Bani Tamim yang mengancam persatuan dan keutuhan bangsa. Sebagian lain berpendapat, alasan dibunuhnya Malik adalah dugaan murtad. Bukan sebatas murtad, tetapi gerakan Nabi palsu bersama para komplotannya, termasuk Malik telah merancang pemberontakan dengan cara peperangan.

Oleh karena itu, ketika Dhirar ibn al-Azur, anak buahnya Khalid ibn Walid membunuh Malik, Abu Qatadah yang bersaksi bahwa Malik itu seorang Muslim, melaporkan tragedi tersebut kepada Khalifah Abu Bakr. Dalam perbincangannya bersama para sahabat lain, Umar menyarankan Abu Bakr untuk mencopot jabatan Khalid sebagai panglima perang, sebab pedangnya yang terlampau kejam. Namun, Abu Bakr justru mengatakan, “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang dihunus Allah untuk memerangi orang-orang kafir.”

Syahdan, Mutammim ibn Nuwairah, pihak keluarga Malik melapor kepada Abu Bakr dan menuntut (diyat) atas perbuatan Khalid. Abu Bakr lalu berunding bersama Umar sampai akhirnya diyat untuk keluarga Malik ibn Nuwairah tersebut dilunasi. Umar mengecam tindakan Khalid ibn Walid, tetapi Abu Bakr memaafkan dan membayarkan diyat-nya.

Sebenarnya, Khalid telah berijtihad ketika membunuh Malik ibn Nuwairah. Imam Ibn Katsir menyatakan, tetapi ijtihad Khalid tersebut keliru, sebagaimana pernah juga Khalid diutus oleh Rasulullah SAW kepada Bani Jadzimah. Khalid membunuh para tawanan itu karena mengatakan, “shaba’na shaba’na” (maksud mereka sebenarnya “kami telah masuk Islam, kami telah masuk Islam”). mereka mengatakan shaba’na karena sulit mengucapkan “aslamna” (kami telah masuk Islam).

Akhirnya, Rasulullah SAW membayar diyat para tawanan tersebut dan Rasulullah mengembalikan bejana tempat minum anjing milik mereka. Dalam bidayah wa al-Nihayah diceritakan, Rasulullah berdoa seraya mengangkat tangan, ya Allah, sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang diperbuat Khalid. Meski demikian, Rasulullah tidak mencopot jabatannya kala itu. Kisah ini juga dimuat dalam kitab Shahih Bukhari.

Oleh karenanya, Habib Hanif sebagai penceramah seharusnya memahami sejarah secara utuh, tidak sepotong-sepotong agar tidak keluar dari konteks pembahasan dan terkesan membelokkan sejarah demi kepentingan, sehingga ceramah yang disampaikan sesuai dengan rujukan dan tidak menyesatkan.

Jika seseorang gemar mendengungkan dan membanggakan kisah pemenggalan, perlu dipertanyakan, sebetulnya ia penceramah atau tukang jagal? Sedikit-sedikit penggal, sedikit-sedikit tebas, ceramah seharusnya berisi mau’idzah hasanah, nasihat-nasihat untuk berlaku baik, bukan mengajak khalayak untuk semena-mena menghukum orang lain atas dosa yang diperbuat. Apalagi, anak-anak yang masih polos dan belum banyak tahu tentang sejarah sebenarnya, malah didoktrin untuk ikut mendukung pemenggalan penista agama, Nabi, dan ulama.

Jelas disinggung dalam al-Quran, serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang baik [al-Nahl: 125]. Kemudian Allah juga berfirman, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu [Ali Imron: 159].

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa dalam dakwah Islam, Rasulullah SAW tidak pernah menyeru umatnya mengajak untuk membunuh orang lain, atau berkata kasar, penuh tekanan, dan mengajak kepada kekerasan. Justru sebaliknya, beliau menyampaikan dakwah Islam yang penuh hikmah dan nasihat-nasihat yang baik. Betapa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, tetapi kasih sayang dan lemah lembut, sehingga penyebarannya terus berkembang hingga saat ini.

Dengan demikian, konten ceramah menantu Habib Rizieq Syihab ini keliru dan kekeliruan dalam ceramah ini hendaknya diluruskan, sehingga tidak melahirkan kesalahpahaman dan kemdharatan bagi umat Islam. Ceramah lantangnya juga dapat dijadikan pelajaran bagi penceramah lainnya, bahwa setiap informasi yang hendak disampaikan kepada umat seharusnya dicek terlebih dahulu kebenarannya serta dipahami secara utuh dan mendalam, bukan asal-asalan.[]