Pusing-pusing!! Kacau-kacau!!
Nampak seorang orator memekikkan suaranya di hadapan pendukungnya. Sesekali ia melempar kata ‘Takbir’ ke hadirin, dan hadirin menyambut dengan mengulangi perkataan sang orator secara bebarengan. Dialah Habib Rizieq Syihab, punggawa Front Pembela Islam (FPI) yang dalam setiap aksinya di atas panggung, dia tak pernah lupa berteriak, sebagaimana pandangannya yang cenderung keras.
Tak jarang, teriakkannya hanya kata-kata receh berisi hinaan yang membuat darah mendidih siapa saja yang mendengarnya. Kata-katanya tak layak dilontarkan untuk ukuran seorang tokoh agama. Seharusnya, yang keluar dari mulut seorang ulama adalah kata-kata yang memberi manfaat, yang menyejukkan, mendamaikan. Seandainya tak mampu berbicara baik, hendaklah diam, sebagaimana dalam sebuah hadis, Siapa yang beriman pada hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam (HR, Bukhari Muslim).
Dalam al-Quran sendiri, Allah menerangkan, Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai (Lukman:19)
Sikap frontal Rizieq Syihab yang kerap ia lontarkan secara kasar, memaki hingga menghina, tidak mewakili dirinya sebagai seorang habib yang sejatinya menebar kebaikan. Rizieq justru mengungkapkan hinaan dan makian terhadap jajaran aparat keamanan, mulai dari Kepolisian, TNI, Presiden, Mantan Presiden Soekarno, Gus Dur, Masyarakat Bali, Sunda, Agama Hindu, Kristen, dan bahkan juga Ketum PBNU yakni KH. Said Aqil Siradj.
Hal tersebut tentu sangat berpotensi menimbulkan perpecahan di tengah bangsa, berkembangnya sikap premanisme dan tidak dihargainya lagi struktur kehidupan berbangsa dan bernegara yang diatur dalam konstitusi, dasar negara, dan Pancasila.
Hendaknya, apabila seluruh bagian dari negara ini ia benci, maka dirinya dapat meninggalkan Indonesia dengan jantan dan tak perlu kembali, bukan justru merengek dan memprovokasi massa untuk mendesak pemerintah menuruti apa yang ia inginkan.
Sebelumnya, pimpinan FPI itu pernah mengeluarkan 10 poin Toleransi yang diunggah melalui akun twitternya pada Jumaat (3/3/2025). Kesepuluh poin toleransi tersebut ialah, pertama, jangan hina agama apapun, baik Tuhannya maupun ajarannya, kedua, jangan lecehkan pemuka agama manapun, ketiga, jangan ganggu ibadah umat agama apapun, keempat, jangan rusak tempat ibadah agama manapun, kelima, jangan paksa atau ancam atau teror atau jebak umat agama lain untuk masuk Islam tapi cukup mengajaknya kepada Islam melalui dakwah yang berakhlaqul karimah.
Selanjutnya yang keenam, bantu umat agama manapun yang terkena bencana, ketujuh, tolong umat agama manapun yang terzalimi. kedelapan, berniagalah dengan umat agama apapun dengan cara yang halal. Sembilan, bekerjasamalah dengan umat agama manapun untuk kebaikan dan kemajuan. Sepuluh, berikanlah semua hak umat agama apapun tanpa dikurangi.
Dari sepuluh poin toleransi yang Rizieq sampaikan, menurut pengamatan penulis, hampir tidak ada yang ia dan kelompoknya laksanakan secara nyata, artinya, 10 poin toleransi yang ia canangkan hanya omong kosong. Itu terlihat jelas dari tindak tanduk dirinya bersama FPI yang banyak terlibat kasus penghinaan agama, Instansi, individu dan lainnya seperti yang disebutkan diawal.
Nampaknya istilah “Jarkoni” alias “ngajar tapi ora nglakoni” dalam istilah Jawa layak disematkan pada Rizieq dan Kelompoknya. Sebuah perumpamaan seseorang yang mengajarkan kebaikkan, namun ia sendiri tidak melakukannya.
Dalam hampir setiap ceramah dan orasinya, Rizieq juga sering menyebut etnis China dengan stigma negatif, kafir, asing, komunis dan sebagainya, namun tak pernah sedikitpun menyebut Amerika Serikat. entah ada dendam apa terhadap China ini. Padahal, bukan rahasia lagi Amerika Serikat adalah negara adidaya yang kerap menjadi “orang di balik layar” dalam banyak kerusuhan di dunia. Katakanlah di Palestina dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Kalau toh ingin membenci asing, mengapa hanya China yang sering disebut, di sudutkan? Patut dipertanyakan.
Beragama ala Riziq memang bikin pusing, terlalu rumit untuk di pahami. Ia menghendaki semua orang mengikuti aturanya, namun ia sendiri melanggar peraturan negara. Bib, kau ini bagaimana, kau bilang kau suka damai, tapi setiap hari kau ajak umat bertikai. Bib, kata Gus Dur, kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah.
Bib, beragama jangan pusing. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (Al- Baqarah:185). Selagi bisa dipermudah jangan pernah dipersulit, jangan dibikin pusing bib. Agama bukan semacam penjara dan kebenaran Tuhan itu absolut, tidak akan bisa dicapai oleh kebenaran manusia yang relatif. Lagian bib, Tuhan itu Maha Santai ko, Tuhan tidak ambil pusing jikapun seluruh hamba-Nya bermaksiat. Hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kemahakuasaan Tuhan.
“Agama itu mudah, bukan bikin sulit hidup kita. Siapa mau bikin sulit agama Allah ini, pasti akan dikalahkan. Jangan ayat perang diterapkan di waktu damai. Jangan yang mubah hendak dipaksakan. Yang sunnah hendak diwajibkan hingga orang berselisih. Yang wajib kifayah mau diterapkan ke semua orang” (Gus Nadirsyah Hosen). Oleh karenanya Bib, janganlah begitu, beragama itu jangan pusing!