Viralnya Desakan Bubarkan FPI

0
0
WhatsApp
Twitter

Berita bubarkan FPI viral di media sosial. Publik muak dan geram dengan sikap anggota ormas FPI yang kian buat gaduh. Terlebih, sejak kepulangan Rizieq Shihab, beberapa kali anggota FPI menjadikan permasalahan kian kompleks. Penjemputan Rizieq Shihab misalnya, membuat kemacetan dan perusakan fasilitas umum di sekitar bandara. Lalu, rentetan acara maulid Nabi yang melanggar protokol kesehatan yang bisa menyebabkan kluster baru dalam penanganan Covid-19. Terkini, rencana reuni 212 di tengah pandemi yang digagas oleh FPI, GNPF U dan PA 212, tentu membuat publik kian muak dan geram.

Sebenarnya, desakan bubarkan FPI ini bukan hanya sekali saja. Beberapa kali sebelumnya, ormas pimpinan Rizieq Shihab ini mendapat penolakan dari masyarakat. Hal ini tak lepas dari stigma negatif yang terlanjur mengakar di masyarakat. Bahkan, pada tahun 2019, petisi online bertajuk “Stop izin FPI” telah ditandatangani lebih dari 310.000 orang. Kenapa demikian?

Front Pembela Islam (FPI) dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 di halaman Pondok Pesantren Al-Um, Kampung Utan, Ciputat, oleh sejumlah habaib, ulama, mubaligh, dan aktivis Muslim dan disaksikan oleh ratusan santri yang berasal dari Jabotabek. Tujuan ormas FPI adalah untuk menegakkan amar makruf dan nahi munkar di setiap aspek kehidupan serta sebagai wadah silaturahmi para ulama.

FPI lantas menjadi sangat populer karena aksi-aksinya yang kontroversial sejak 1998. Kegiatan utama mereka antara lain merazia tempat-tempat hiburan yang mereka percaya sebagai tempat maksiat. Meski FPI kerap melakukan aksi-aksi kontroversial, FPI juga pernah melibatkan diri dalam aksi-aksi kemanusiaan seperti pengiriman relawan ke Aceh pasca-tsunami 2004.

Namun demikian, tindakan FPI yang kontroversial kerap dikritik berbagai pihak karena main hakim sendiri yang berujung pada perusakan hak milik orang lain. Rangkaian aksi penutupan tempat perjuadian, pelacuran, klub malam, ancaman terhadap warga negara tertentu, sweeping warga negara tertentu, konflik dengan ormas lain, merupakan wajah FPI yang paling sering muncul di media massa.

Beberapa aksi kontroversinya antara lain, pada 21 Februari 2012 massa FPI mengepung ruko yang sedang mengadakan pengobatan gratis, 30 September 2024 FPI Banjarmasin menyerang tempat hiburan malam, 8 Juli 2013 FPI terlibat bentrok dengan warga Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah, ketika melakukan pawai dan razia di sejumlah lokalisasi, 22 Maret 2014 FPI Kota Bekasi kepung Gereja Katolik St. Stanislaus Kostka, 24 Maret 2015 FPI tolak Ahok, Gerakan Masyarakat Jakarta dan Front Pembela Islam kepung Kantor DPRD DKI, 12 Juni 2015 FPI dan warga gerebek Jemaah Ahmadiyah di Tebet, dan masih banyak lagi aksi kontreversi lainnya yang tak mungkin penulis sebutkan satu-satu di sini.

Teranyar, sebagaimana penulis sebut di atas, penjemputan Rizieq Shihab di bandara Soekarno-Hatta Jakarta yang telah membuat kemacetan, perusakan fasilitas umum, kerugian besar pihak maskapai penerbangan, dan juga telah mengganggu ketertiban umum dan hajat masyarakat banyak. Terlebih serangkaian acara yang digelar FPI pasca-pulangnya pimpinan FPI Rizieq Shihab telah melanggar protokol kesehatan yang diatur pemerintah. FPI secara tidak langsung telah menghambat penanganan kasus penyebaran Covid-19 sekaligus memungkinkan munculnya kluster baru penyebaran Covid-19.

Kiranya, publik tidak salah jika menyuarakan untuk bubarkan FPI. Sepak terjang FPI sejak deklarasinya tahun 1998 yang penuh kontroversi telah membuat masyarakat muak dan geram. Proses penolakan FPI di beberapa daerah menjadi bukti dari akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap FPI yang telah memuncak pada titik kulminasinya.

Dalam konteks lain, FPI meskipun membawa nama pembela Islam, pada kenyataannya tindakan mereka bertentangan dengan prinsip dan ajaran Islam. Bahkan, tidak jarang aksi FPI menjurus pada tindak kekerasan, vandalis, dan anarkis. Islam yang berwajah damai, menghargai perbedaan, toleran, dan moderat, oleh FPI tercitrakan menjadi Islam yang keras, marah, dan intoleran.

Apa yang telah diperlihatkan oleh FPI sebagai pembela Islam menunjukkan hal sebaliknya. Maksudnya, FPI bukan membela Islam, tetapi secara ekplisit FPI telah merendahkan Islam menjadi agama marah bukan ramah. Terlebih, aksi-aksi FPI kerap mengatasnamakan membela agama, membela Islam, membela Nabi, bahkan membela Tuhan. Padahal, agama, Islam, Nabi, dan Tuhan tidak perlu dibela. Seperti kata Gus Dur, Tuhan tidak perlu dibela, karena Tuhan sudah maha segalanya. Yang perlu dibela adalah kemanusiaan.

Karenanya, FPI sudah seharusnya mengalihkan gerakannya pada gerakan sosial kemasyarakatan dan aksi-aksi kemanusiaan seperti yang penulis sebutkan di atas. Dengan beralih pada aksi-aksi kemanusiaan, tentunya FPI akan lebih dihargai dan diapresiasi oleh masyarakat. Sebagaimana nama ormas mereka, Front Pembela Islam. Artinya, FPI membela nilai-nilai ajaran Islam. Dengan melaksanakan aksi-aksi kemanusiaan, secara eksplisit FPI telah melakukan pembelaan Islam yang paling esensial.

Dengan demikian, jika FPI tak segera berbenah dan mentransformasikan dirinya menjadi ormas yang ‘baik’, maka citra FPI sebagai ormas yang memiliki stigma negatif di masyarakat tidak akan pernah hilang. Dan dengan sendirinya FPI akan mendapati krisis kepercayaan dari masyarakat. Karenanya, jangan salahkan publik, jika mereka menyuarakan tagar “BubarkanFPI” di media sosial. Maukah FPI berubah?