Tidak Semua Habaib Mau Dipanggil Habib

0
0
WhatsApp
Twitter

Sejak kepulangan Habib Rizieq Syihab, fenomena habib yang mencuat di Tanah Air muncul dengan wajah yang menyeramkan. Bukannya memberikan teladan yang baik justru menjadi bumerang, baik untuk umatnya maupun gelar yang didapatkannya. Ini sebuah fenomena yang mesti diluruskan agar tidak terjadi salah kaprah atas penggunaan gelar yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Mulanya untuk membedakan keturunan Rasulullah SAW, mereka tidaklah disebut sebagai habib, melainkan sayyid dari keturunan Husein bin Ali atau syarif dari keturunan Hasan bin Ali. Namun seiring berjalannya waktu, gelarnya berubah menjadi habib yang mengacu pada keturunan Alwi bin Ubaidillah (w. 5 H) putra dari Ahmad bin Isa generasi ke-8 dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra. Berikutnya dari keturunan Alwi ini disebut kaum ‘Alawiyyin yang mana mereka melakukan kunjungan ke Nusantara. Sampai kini istilah habib terus berkembang di Indonesia.

Jika demikian, lalu apa yang melatarbelakangi sebutan habib tidak digunakan sejak awal? Bukankah para Walisongo juga ada yang memiliki nasab mulia, tetapi tak disebut habib? Tujuan pertama sebutan syarif atau sayyid adalah sekadar memuliakan keturunan Rasulullah SAW atas jasanya sebagai teladan. Sedangkan, Walisongo yang tak dipanggil habib diketahui yang mana misi para Walisongo adalah mendakwahkan Islam. Maka dari itu, mereka sengaja tidak melabelkan gelarnya supaya bisa diterima oleh masyarakat dan sepadan dengan rakyat. Walisongo lebih memprioritaskan teladan akhlak Rasulullah SAW, ketimbang gelar.

Hal ini wajar, mengingat istilah ‘habib’ adalah gelar yang tidak spele. Quraish Shihab, seorang mufassir Indonesia dan merupakan cucu keturunan habib Abdurrahman Shihab, Hadramaut, Yaman. Ia menyatakan tidak ingin dipanggil habib, sebab merasa belum pantas dicintai dan menjadi teladan. Kemudian keturunan habib yang tak banyak diketahui masyarakat banyak, seperti Mbah Hasyim, Gus Dur, Said Aqil Siradj, Mbah Kholil Bangkalan dan para kiai-kiai yang masih banyak juga keturunan habib, tetapi mereka lebih memilih menyembunyikan identitasnya.

Sejatinya mereka menafikan gelar habib dalam dirinya adalah orang-orang sangat layak disebut habib. Selain karena faktor keturunan, keilmuan, dan pengabdian, akhlak mereka terhadap pembelaan manusia dan mendakwahkan Islam secara damai sangat patut dijadikan teladan. Tanpa mengenyampingkan keturunan lainnya yang dipanggil habib secara sah sebab mengamalkan akhlak mulia Rasulullah SAW.

Menyebut Rizieq Syihab dengan sebutan habib sebenarnya sah-sah saja. Akan tetapi, dalam dirinya harus ada koreksi besar-besaran, baik dari isi dakwah, maupun sikapnya. Bagaimana bisa, ia mengatakan dirinya habib sedang ia bebas mencela atas nama agama. Dalam kasusnya, ia pernah melecehkan fisik Gus Dur yang kurang dalam penglihatannya.

Padahal, kalau diingat-ingat pengorbanan Gur Dur pada 1993 yang membela para habib karena statement yang dikeluarkan ketua MUI Hasan Basri yang beranggapan, bahwa tidak ada lagi keturunan Rasulullah SAW di Indonesia dan di dunia, karena dinyatakan terputus, tidak lagi dengan keturunan Hasan dan Husein. Pernyataan tersebut membuat memorakporanda kepercayaan masyarakat. Namun melalui wasilah dukungan Gus Dur, kegaduhan ini menjadi redam. Semestinya Rizieq Syihab mengingat hal ini. sayangnya ia mengabaikan, bahkan balasannya justru menghina Gus Dur.

Sebab itu, jika ada seorang yang lantang menyebut dirinya habib. Akan Tetapi kurang mencerminkan akhlak yang baik sesungguhnya orang-orang seperti itu telah menodai gelarnya sendiri. Perkara ini harus diperhatikan dengan baik dan secara detil. Jangan sampai karena melibatkan nama Rasulullah SAW, keagungan beliau ikut tercoreng sebab keangkuhan dan beban moral yang terabaikan. Pada akhirnya pun umat Islam sendiri yang terkena dampak negatifnya.

Demikian tak sedikit keturunan Rasulullah SAW yang tidak ingin melabelkan habib. Bahkan, menyembunyikan identitas dari nasabnya yang terhormat, sebab kesehajaan mereka yang tidak ingin dipandang eksklusif dan terbebas dari kasta sosial. Namun tetap memberikan sumbangsih yang terbaik untuk khalayak umat.