Merawat Keberagaman ala Bung Karno

0
0
WhatsApp
Twitter

Keberagaman, adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pergulatan perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan. Jauh sebelum Indonesia merdeka, bangsa kita telah hidup rukun dan tenteram dalam kebersamaan yang bernuansa keberagaman. Karena itu, cukup mengherankan jika dewasa ini masyarakat kita masih mempersoalkan sebuah perbedaan dalam berbangsa-bernegara. Atau setidaknya, menjadi sumber perpecahan dalam keberagaman. Dengan segala intrik, cara, dan penghinaan terhadap satu golongan ke golongan lain, misalnya.

Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama Indonesia ada karena keberagamannya. Bhinneka Tunggal Ika, yang sekarang menjadi semboyan bangsa kita, adalah penanda yang sangat jelas, betapa sesungguhnya keberagaman yang ada di Indonesia tak pernah menjadi persoalan. Justru keberagaman adalah anugerah Tuhan yang sangat besar bagi Indonesia, karena dari keberagaman ini kita bisa memahami arti dan makna dari persaudaraan. Dan Bung Karno, sebagai presiden serta satu dari para pendiri bangsa menyadari betul hal ini.

Bahkan, Bung Karno menjadi satu-satunya pemimpin bangsa yang mendapatkan tiga kali penghargaan sebagai pemimpin yang paling toleran dan melindungi keberagaman agama. Sebagai seorang pemimpin, ia sangat menghargai perbedaan. Walau ia sendiri sebagai orang Islam taat, tetapi tidak membuatnya mendikotomi perbedaan agama di Indonesia. Ia justru, sangat melindungi, mencintai, menghargai, dan menghormati pemeluk atau penganut agama lain. Hal demikian pula yang diirikan oleh Eamon de Velera, Presiden Irlandia dan Jawaharlal Nehru, Presiden India terhadap kepribadian Bung Karno.

Hal ini dibuktikan dengan inisiasi dibangunnya Masjid Istiqlal yang berdampingan dengan Gereja Katedral oleh Bung Karno. Bung Hatta yang kala itu menyarankan agar Istiqlal dibangun di bilangan Bundaran HI, ditolak. Bung Karno kala itu memiliki pandangan lain, ia malah ingin membangun Istiqlal di sisi Gereja Katedral. Tentunya, dengan beberapa alasan. Yang menurut Bung Karno adalah karena untuk membangun semangat toleransi, persaudaraan, pluralisme, keberagaman, dan persatuan yang menjadi jiwa bangsa Indonesia.

Karena, dalam sejarah perjalanannya pun, Indonesia lahir tidak lain dari hasil campur tangan beberapa golongan dan latar belakang tokohnya. “Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan Islam buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua”, tegas Bung Karno, sebagaimana dalam pidatonya dalam sidang BPUPKI 1 Juni 1945. Ia sadar keberagaman agama, suku, ras, dan bahasa tidak seharusnya menjadi faktor pelemah atau memecah belah kesatuan bangsa. Sebaliknya, perbedaan kita harus dapat memperkaya keberagaman, ciri, dan keunikan tersendiri yang membedakan bangsa kita dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia.

Karena itu, cukup disayangkan, jika dewasa ini, di saat usia bangsa kita sedang dalam perjalanan ke-100 tahun kemerdekaan masih saja terjadi konflik atarsesama warganegara (citizen). Masih mempersoalkan dan merasa paling benar daripada golongan lain. Mendiskriminasi dan bahkan menghina agama-agama lain. Apalagi, jika penghinaan itu keluar dari seorang pemimpin atau tokoh agama, yang notabene memiliki massa. Sangat tidak pantas dan tidak elok untuk disaksikan, apalagi diteladani.

Toleransi harus menjadi karakter bangsa kita yang harus dijaga dan dilestarikan. Karena, Bung Karno sendiri, sudah jauh-jauh hari secara tegas membenci sifat intoleransi. Ia tidak suka melihat orang-orang yang memaksakan kehendak. Orang-orang yang begitu mudahnya menyalahkan orang lain dan mengklaim sebagai yang paling benar. “Orang-orang yang demikian adalah orang yang mutlak-mutlakkan yang sombong, yang egosentris, yang ekslusif, orang yang tenggelam dalam ekstremitet, orang yang tidak mungkin dapat menjalankan toleransi, dan orang yang sama sekali dus buat demokrasi”, tegas Bung Karno, sebagaimana dikutip oleh Sigit Aris Prasetya dalam Bung Karno dan Revolusi Mental (2017).

Sikap toleransi dalam menyikapi keberagaman adalah konsensus yang tidak dapat dielak. Tentu, toleransi pun tidak akan mengurangi keimanan seseorang dalam kehidupan berbangsa-bernegara. Dan sudah seharusnya, amanat demikian harus dapat dipraktikkan dan dibumikan oleh pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh agama agar dapat menjadi dan dapat ditauladani oleh pengikutnya. Karena, menganggap dirinya paling benar dan menjustifikasi orang lain tidak lebih benar darinya adalah pola pikir yang konservatif dan bukan mencerminkan warganegara yang nasionalis.

Bung Karno sebagai pendiri dan pemimpin bangsa telah mewariskan serta menjadi tauladan yang baik bagi kita, sebagai penerusnya. Dan tentu, sudah sepatutnya kita meneladani beliau dalam merawat keberagaman masyarakat kita. Menjaga keharmonisan, saling gotong-royong, dan hidup rukun berdampingan. Bukan malah menciptakan kegaduhan atau bahkan perpecahan.

Pendek kata, keberagaman adalah keniscayaan. Sepatutnya keniscayaan, sudah tentu wajib disyukuri. Perbedaan bukan alasan untuk kita menganggap diri atau golongan kita lebih baik dan benar, serta menganggap golongan di luar kita tidak. Karena, sebagaimana kata Bung Karno dalam Di Bawah Bendera Revolusi (2005), “hanya Tuhan sajalah yang memegang kebenaran.”