Ustadz Kok Gemar Menebar Kebencian?

0
0
WhatsApp
Twitter

Ustadz Maaher at-Tuwailibi resmi dilaporkan ke Bareskrim Polri pada Senin (16/11) lalu karena diduga telah melakukan penghinaan terhadap Habib Luthfi melalui unggahannya di Twitter. Dalam unggahan yang telah dihapus itu ia berkicau, “iya tambah cantik pakai jilbab, kaya Kiainya Banser ini ya”, seraya mengunggah foto Habib Luthfi saat menggunakan serban.

Meskipun telah dihapus, unggahan tersebut hinga kini masih beredar di dunia maya. Tidak hanya menimbulkan kemarahan publik, unggahan Maaher juga menyebabkan umat Islam terpecah belah dan saling membenci antara satu pihak dengan pihak lain.

Padahal, Nabi Muhammad SAW selalu menebar kebaikan kepada semua manusia, bukan kebencian. Tidak pernah mengatakan perkataan kotor atau bahkan perkataan yang mencela. Dalam kitab Shahih Bukhari, Abdullah ibn ‘Amr, sahabat Nabi SAW menyampaikan, bahwa “Rasulullah SAW tak pernah berkata kotor” [HR Bukhari]. Sahabat Anas ibn Malik juga mengatakan, “Rasulullah SAW tidak memaki, berkata kotor, dan melaknat orang lain” [HR Bukhari]. Lantas, ajaran apa yang sebenarnya ia sampaikan kepada umat?

Sebelumnya, dalam sebuah video yang viral tersebar di Twitter, Maaher memaki salah satu artis kondang Tanah Air. Dalam video itu, ia mengatakan kata-kata bernuansa penghinaan, cacian, dan ancaman yang tidak pantas terucap dari lisan seseorang yang mengklaim dirinya sebagai ustadz.

Penghinaan yang dilakukan Maaher tersebut tak lain tertuju kepada Nikita Mirzani, yakni disebabkan komentar Nikita terhadap Habib Rizieq Syihab yang dianggap menghinanya. Lucunya, dengan suara lantang ia justru balas menghinanya, bahkan mengancam akan mendatangkan 800 pasukan jika tidak segera meminta maaf.

Sebagai seorang ‘ustadz’, khususnya yang melangsungkan dakwahnya via media sosial, ia seharusnya mencerminkan perilaku (termasuk konten) yang sesuai dengan akhlak al-karimah, bukan akhlak al-sayyiah (tercela). Menyampaikan dakwah yang ramah, bukan marah. Dakwah yang merangkul, bukan memukul.

Apakah dengan cara menghina orang yang dianggap menghina ulama itu membuahkan keutamaan dan pahala? Bukankah Rasulullah SAW berkali-kali melarang para sahabat untuk berkata kasar, memaki, melaknat, dan mengumpat orang yang menghina Nabi Muhammad SAW?

Untuk menjawabnya, ada sebuah hadis yang menunjukkan kebesaran hati Nabi Muhammad SAW, bahkan kepada orang yang mencelanya. Dalam hadis dikisahkan bahwa ada sekelompok yahudi yang terang-terangan mencela Nabi SAW di hadapannya. Lantas Aisyah sebagai istrinya kembali mencela orang-orang yahudi tersebut. Nabi menegurnya dan menegaskan, Aku diutus bukan sebagai pelaknat tetapi sebagai rahmat (kasih sayang) [HR Bukhari].

Diutusnya Nabi di muka bumi adalah sebagai rahmat seluruh alam dan menyempurnakan akhlak al-karimah manusia. Jika ada seorang Muslim yang tidak menjaga lisannya dengan cara menghina dan memaki atau dengan kata lain, menebar kebencian, maka sejatinya ia belum mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara utuh. Bahkan, ia sangat jauh dari gelar ‘ustadz’ yang (oleh masyarakat) kerap dijadikan panutan dan teladan.

Dengan demikian, seorang ustadz seharusnya memberi contoh yang baik, membuat orang senang, tenang, dan damai ketika mendengarkan perkataannya atau menyaksikan perilakunya. Jika memang ia menganggap dirinya ustadz dan sudah layak untuk dijadikan teladan umat, tetapi ustadz kok gemar menebar kebencian?