Maaher at-Thuwailibi dan Tantangan Nasionalisme Kita

0
0
WhatsApp
Twitter

Maaher at-Thuwailibi alias Soni Eranata, satu pekan terakhir sejak kepulangan junjungannya, Habib Rizieq Syihab (HRS) dari Arab Saudi ke Tanah Air masih menjadi pemanis bibir nasional. Sosok yang sejak dulu masyhur dengan sumpah serapah dan perkataannya yang tidak berakhlak ini, baik dalam rupa lisan, maupun cuitan selalu menjadi perhatian. Teranyar, pergulatannya dengan Nikita Mirzani di medsos menyajikan kepada kita, pertunjukan yang tidak hanya menggelitik, tetapi juga ironi. Pasalnya, lagi dan lagi, Maaher tidak segan-segan mengeluarkan perkataan yang menurut saya, dan mungkin khalayak luas tidak elok, “babi betina, lonte, penjual selangkangan.”

Hal ini jelas, bagi saya Maaher sebagai Muslim dan orang yang terlahir di Indonesia, ia sangat-sangat tidak mencerminkan sosok yang Islami dan nasionalis. Ia telah menciderai khazanah kebangsaan kita, dan jika boleh jujur tindak-tanduknya telah menodai Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Karena, sebagaimana kita ketahui bersama, Islam maupun kebangsaan kita tidak pernah mewariskan dan membenarkan caci-maki, sumpah serapah, berkata kotor, dan membenci dalam praktik berbangsa-bernegara. Diakui atau tidak, perkataan-perkataan yang kerap kali keluar dari Maaher selama ini sangat tidak mencerminkan sosok yang beragama. Apalagi bagi ia yang mengaku atau diakui (setidaknya oleh pengikutnya) sebagai ustadz.

Dan tentu oknum-oknum seperti Maaher ini, tidak hanya melenceng dari nilai-nilai kebangsaan kita, tetapi juga menjadi ancaman dan tantangan bagi nasionalisme kita. Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keharmonisan, kebenaran, dan persatuan. Dan dalam konteks ini, kita tidak dapat menemukan itu pada pribadi Maaher, kecuali hanya merajut persatuan dalam bentuk bom kehancuran serta perpecahan.

Dalam salah satu cuitannya di twitter, misalnya. Ia mengatakan “orang yang menghina Nabi Muhammad harus dibunuh, tanpa dimintai taubat, (29/10/2024). Tentu ini sangat ironi. Apalagi, perkataan membunuh ini keluar dari seorang Muslim. Memang, amarah kita sukar untuk dihindari tatkala Nabi Muhammad SAW, sebagai Nabi dan panutan kita dicaci dan dihina. Namun, bukan berarti kita harus membalasnya dengan cara membunuh. Karena, menanggapi penghinaan terhadap Nabi secara brutal dan tanpa ilmu, dengan propaganda menghalalkan pembunuhan terhadap pelaku penghinaan, merupakan tindakan yang tak beradab, tidak ber-perikemanusiaan, dan jelas tidak Islami. Cara demikian, malah lebih mencerminkan kepada perilaku Abu Jahal, bukan Nabi Muhammad SAW.

Dan sudah barang tentu, pembunuhan tidak hanya dilarang oleh Islam, tetapi juga kebangsaan kita. Kebangsaan kita, yang merupakan konstruksi satu kesatuan dari beberapa partikel yang beragam (agama, ras, suku, budaya, dan bahasa) sangat menjunjung tinggi persatuan. Pembunuhan, dengan dan tanpa dalih sekalipun tidak dapat dibenarkan. Dan Maaher dalam hal ini jelas keliru. Atau mungkin, karena keterbatasan ilmunya yang minim yang menjadikan ia berlaku seperti itu? Entah!

Yang jelas, kebohongan dan propaganda-propaganda yang tak bermoral tidak boleh tumbuh subur dan merusak eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena, meminjam istilah Jozep Goebbels, propagandis Nazi, ia pernah mengatakan, “kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus akan berubah menjadi (seolah-olah) kebenaran”. Padahal, kenyataannya sama sekali tidak!

Teringat Bung Karno, ia pernah mengatakan, “nasionalisme kita haruslah nasionalisme yang mencari selamatnya manusia. Nasionalismeku adalah nasionalisme kemanusiaan”. Bung Karno dalam hal ini ingin menegaskan, jika kemanusiaan adalah basis dan acuan kita dalam praktik berbangsa-bernegara. Ia tidak ingin, kelak kita hidup dalam kerangka kebangsaan chauvinistic, menganggap diri paling benar, saling menjatuhkan antar sesama, sehingga menimbulkan perpecahan.

Dan sepertinya, jika kita lihat dalam konteks hari ini, kemanusiaan sebagai basis moral dalam berbangsa-bernegara semakin alpa. Virus kebencian, caci-maki, dan kebohongan seiring sejalan mulai mendapatkan tempatnya dalam panggung nasional. Tentu, hal ini menjadi persoalan, tantangan terhadap nasionalisme kita, dan pastinya tidak dapat dibiarkan.

Oknum-oknum seperti Maaher cepat atau lambat harus dapat dilerai, atau setidaknya disadarkan. Hei Maaher, sadarlah, bangun, kembalilah dalam jalan kebenaran. Ente tidak hanya sudah mencoreng nama Islam sebagai agama minoritas di negeri ini, tetapi juga bangsa ini yang masyhur dengan keharmonisan dan andhap asor masyarakatnya. Sekali lagi, hei Maaher, anda sama sekali tidak mencerminkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan nasionalisme kita yang menjunjung tinggi persatuan!

Pendek kata, Maaher at-Thuwailini alias Soni Eranata tindak-tanduknya selama ini sebagai Muslim dan warga negara sangat tidak mencerminkan sebagai sosok yang beragama dan ber-perikemanusiaan. Ia harus dikritisi, sehingga marwah nasionalisme kita tidak lagi ternodai, kembali bersih dan lestari.