Nikita Mirzani, dalam beberapa hari terakhir, menjadi sebuah simbol pemecah ombak pengkultusan Rizieq Shihab yang baru pulang ke Tanah Air. Bermula dari curhatannya dalam live Instagram pribadinya, saat itu Nikita menunjukkan keberatan atas beberapa kekacauan yang terjadi akibat parade kerumunan penjemputan HRS. Sebenarnya, banyak orang merasakan kekesalan yang sama terhadap aksi pendukung Rizieq di bandara dan di jalanan, yang menggangu dan menghambat aktivitas orang lain. Namun, Nikita adalah salah satu figur yang berani menyuarakannya secara blak-blakan.
Suara Nikita adalah suara kita semua yang gerah dengan drama ulama dan pekikan takbir palsu. Sayangnya, suara perempuan sampai saat ini masih sering dianggap hanya sebagai aspirasi emosional belaka, yang kurang dianggap betapa pentingnya kehadiran suara itu. Padahal banyak ahli teori feminis menekankan bahwa, dibandingkan dengan pria, wanita berbicara dan bertindak dengan cara yang lebih altruistik, lebih komunal, lebih damai, dan lebih memelihara. Misalnya Ruddick (1989), ia menandaskan bahwa suara aspirasi dan partisipasi perempuan dipengaruhi oleh pemikiran keibuan, yaitu cara berpikir yang lahir dari nurani yang melindungi dan mengasuh anak. Sehingga saat wanita speak up, sesungguhnya ada kedamaian dan ketentraman yang benar-benar sedang terganggu dan cidera.
Dalam kerumunan Rizieq Shihab yang didominasi oleh laki-laki itu, sedikit sekali perempuan yang dapat terlihat dalam beberapa kali perkumpulan kelompok ini. Kalaupun ada, mereka mungkin dipinggirkan. Sebenarnya, ini adalah indikasi suatu organisasi massa yang ‘bermasalah’. Di zaman sekarang, rendahnya partisipasi perempuan dalam sebuah kelompok menandakan kuatnya hegemoni maskulinitas yang lestarikan oleh kelompok tersebut.
Sulitnya perempuan untuk hadir dan terlibat dalam kerumunan publik, setidaknya menyebabkan sifat-sifat feminin tereliminasi dari ruang itu, sehingga karakter aspirasi yang lembut, memelihara, merawat, tersingkirkan dari kesempatan untuk berkolaborasi, menyeimbangkan, dan menjadi mitra sejajar dalam aksi massa tersebut. Sisanya hanya karakter maskulin yang keras, tegang, kasar, dan berkuasa.
Seperti halnya kerumunan Rizieq Shihab ini. Lihat saja aksi penjemputn HRS di bandara pekan lalu, atau acara Maulidnya, sebagian besarnya hanya dihadiri oleh laki-laki. Saat ruang publik suatu massa didominasi oleh laki-laki seperti itu, bagaimana kondisi yang terjadi? Sesuai dengan apa yang tersebar di layar gawai kita beberapa hari belakangan, yakni seputar watak kekerasan, kekasaran, dan kemarahan. Bahkan sampai-sampai melecehkan seorang perempuan.
Dunia publik, dalam masyarakat muslim konservatif, selalu digambarkan berkarakter maskulin, keras, tegas, kompetitif, dan menakutkn, sehingga hanya pantas untuk laki-laki. Sebaliknya, ruang domestik selalu dikisahkan feminine. Dikotomi inilah yang menyebabkan wanita sedikit kurang aktif dibandingkan pria, terlebih dalam ruang publik yang hanya menghimpun kepentingan sekelompok kecil laki-laki. Dalam masyarakat modern, partisipasi laki-laki maupun perempuan memiliki signifikansi yang sama, kehadiran mereka sama-sama diakui dan penting.
Sebenarnya, dikotomi ruang publik dan domestik berdasarkan jender telah memudar. Wanita memiliki kepedulian sosial yang tinggi pula untuk bersuara di ruang publik. Naluri keibuan seperti yang dikemukakan Ruddick, nyatanya mendorong aktivisme perempuan untuk lebih banyak melabuhkan partisipasi dalam kepedulian terhadap kebaikan masyarakat. Perempuan lebih tertarik aktif atas nama masalah yang melibatkan isu keluarga, kesejahteraan manusia, lingkungan, pemenuhan kebutuhan dasar, penegakan hak-hak manusia, dan gerakan kepedulian sosial lainnya. Jadi, wajar jika partisipasi perempuan dalam massa HRS sangat kecil, ya itu karena kerumunan tersebut memang bermasalah terhadap kehadiran perempuan.
Sejak awal, minimnya komposisi partisipasi perempuan dalam kelompok Rizieq patut dicurigai sebagai suatu indikasi gerombolan barbar. Apalagi saat aksi mereka tersebut ujung-ujungnya malah mengganggu kenyamanan dan keamanan publik, khususnya wanita. Saat seorang perempuan speak up, mengutarakan kegundahannya terhadap kerumunan yang baginya menggangu, ia malah dilecehkan secara berjamaah. Bayangkan, ratusan orang laki-laki bersorai mendukung imamnya yang meneriakan kata-kata pelecehan pada seorang perempuan di hadapan publik. Seperti kerumunan orang-orang penuh kebencian, atau memang betul begitu adanya. Saat perempuan dilecehkan dan diancam di depan mata kita, maka sesungguhnya ruang publik kita menunjukkan ketidakramahan dan ketidakamanan terhadap perempuan.
Intinya, publik harus senantiasa welcome atas suara dan aspirasi perempuan, meresponsnya dengan hormat dan martabat yang patut. Pelecehan terhadap perempuan yang bersuara adalah kejahatan terhadap hak-hak perempuan. Tidak boleh ada ruang untuk kejahatan semacam ini, siapapun mereka harus dilawan. Kita harus menciptakan ruang publik yang sehat bagi setiap ekspresi perempuan dan semua orang.
Maka dari itu, jangan sepelekan suara perempuan, walaupun hanya dari satu orang perempuan. Karena suara perempuan adalah suara yang akan menyeruak di tengah-tengah dominasi maupun kebungkaman. Tidak heran, saat Nikita berani menyuarakan pendapatnya, nyatanya, pendapat tersebut mewakili banyak suara hati masyarakat. Kekesalan Nikita bukanlah kekesalan pribadi, melainkan kekesalan yang juga dirasakan banyak orang. Hati-hati dengan suara kritis perempuan.