Kembali, publik digegerkan oleh beredarnya video Habib Rizieq Shihab (HRS) berupa ancaman pemenggalan bagi siapa saja yang menghina Nabi, menghina Islam, dan menghina ulama. HRS juga mendorong jamaahnya, bersiap untuk mati membela Rasulullah, dalam ceramahnya pada acara Maulid Agung Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Haromain. Video ceramah tersebut diunggah melalui channel Youtube Front TV, pada Minggu (15/11/2024). Sebelumnya, HRS menjelaskan rentetan dan tahapan perubahan revolusi akhlak, berujung jihad fi sabilillah.
Terlihat jelas, HRS dengan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai pimpinan Front Pembela Islam (FPI), mendorong pengikutnya untuk melakukan kebencian, provokasi, permusuhan dan bahkan pembunuhan dengan cara dipenggal terhadap orang lain. Saya jadi teringat kejadian pemenggalan yang dilakukan oleh pasukan Yazid bin Muawiyah terhadap Sayyidina Husein bin Abi Thalib (cucu Rasulullah) dan kelak oleh Bani Umayyah cucu dan cicit Sayyidina Hasan bernama Abdullah dan Ibrahim Muhammad, yang dipenggal dan kepala serta tubuhnya digantung di gerbang kota dan di sebuah jembatan secara terpisah. Dalam hal politik, rupanya HRS belajar dari Muawiyah bin Abu Sufyan dan putranya, Yazid bin Muawiyah yang tidak segan-segan memenggal cucu Rasulullah SAW.
Setelah berakhirnya era Khulafa Ur Rassyidin dan tiga puluh tahun sepeninggal Nabi Muhammad SAW, gejolak konflik Islam kian tajam. Baik dari segi pemikiran yang melahirkan sekte ideologi dalam tubuh Islam, maupun politik. Pasca-mundurnya Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib dari kekhalifahan, Muawiyah bin Abu Sufyan dari Bani Umayyah, dan kemudian diteruskan oleh putranya sendiri, Yazid, sebagai suksesor sehingga Muawiyah menjadi pendiri sekaligus menjadi rujukan utama para penerusnya. Dengan demikian, konsep dinasti—dengan sistem pewarisan kekuasaan—Kekhalifahan Islam mulai diperkenalkan oleh Kekhalifahan Umayyah (661-750 M).
Muawiyah yang menebar kebencian terhadap Sayyidina Ali dan keluarganya di mimbar-mimbar dan khutbah jumat, permusuhan dan kebencian semakin tumbuh di lingkungannya. Bagi siapa saja yang tidak mau menebar kebencian dalam khutbahnya di mimbar-mimbar agama, maka akan terkena hukuman yang berat seperti pemotongan lidah. Ia juga adalah orang pertama yang membangun singgasana raja (sarir al-mulk). Persis seperti HRS yang membangun stigma dirinya sendiri sebagai “Imam Besar” umat Islam. Padahal sepengetahuan saya, Aswaja (Sunni) tidak mengenal istilah Imam Besar, hanya ada Syiah (12 Imam), dan Imam Besar Masjid Istiqlal istilah itu digunakan.
Kesuksesan Muawiyah (661-680 M), tidak terlepas dari warisan politik ulung ayahnya, Abu Sufyan. Ia mampu bekerjasama dengan gubernur Mesir, Amr ibn Al-Ash, gubernur Kufah Irak, al-Mughirah, dan penguasa Basrah, Ziyad ibn Abihi yang bengis bertangan besi. Ziyad menjadi gubernur Kufah yang menjadi pusat kelompok Syiah. Ia memata-matai siapa saja yang memperlihatkan dukungannya terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib, atau menghina Muawiyah. Tidak hanya itu, di pemerintahan Muawiyah juga mimbar-mimbar diharuskan menjelek-jelekkan; menghina; mencaci-maki terhadap Sayyidina Ali beserta keluarganya.
Pada tahun 679 M, Muawiyah mengangkat putranya, Yazid, sebagai suksesinya, dan memerintahkan penduduk Syam dan seluruh utusan provinsi untuk berbaiat. Sayyidina Hussein bin Ali bin Abi Thalib yang saat itu tinggal tenang di Madinah, enggan berbaiat karena penduduk Madinah sendiri juga tidak menyatakan baiatnya, walau sudah dibujuk akan dijadikan dewan syura oleh Muawiyah melalui Gubernur Madinah, al-Walid bin Utbah bin Abu Sufyan (sepupu Yazid). Selain Sayyidina Husein, yang menolak baiatnya terhadap Bani Umayyah adalah Abdullah bin Zubair bin Awwam (cucu Sahabat Abu Bakar Siddiq), dan Abdullah bin Umar (putra Sahabat Umar bin Khattab).
Sayyidina Husein pergi dari Madinah karena merasa ada tekanan dari Gubernur al-Walid. Kemudian menerima surat dukungan menjadi khalifah dari penduduk Kufah Irak. Abdullah bin Zubair, mendukung Sayyidina Husein untuk melakukan manuver serius dan berangkat ke Kufah, namun dicegah oleh Sahabat Nabi bernama ibn Abbas. Pada akhirnya, tahun 680 M, Sayyidina Husein tetap pada pendiriannya, yaitu berangkat menuju Kufah bersama beberapa pengikut setianya dan kerabat serta keluarganya, termasuk putranya yang masih balita, Ali al-Asghar bin Husein.
Ubaydullah bin Ziyad (putra Ziyad bin Abihi) yang telah ditunjuk sebagai Gubernur Irak, mempunyai pos-pos militer di sepanjang jalan Hijaz menuju Irak untuk melakukan pemantauan. Tepat 10 Muharram 61H atau 10 Oktober 680, seorang jenderal Umayyah, Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash membawa 4.000 tentara mengepung perekemahan Sayyidina Husein di Karbala Irak.
Sayyidina Husein sadar betul kalau dirinya sedang dalam ancaman, kemudian ia meminta sedikit waktu untuk beribadah. Setelah itu, Sayyidina Husein berdialog dengan Umar bin Sa’ad. Rupanya ada sedikit ketersinggungan dari Umar bin Sa’ad, maka ia berteriak, “Tunggu apa lagi kalian! Seranglah mereka sekarang juga! Saksikanlah bahwa aku orang pertama kali yang melepaskan anak panah.” Ketika Sayyidina Husein tergeletak dengan luka serius bersimbah darah, Umar bin Sa’ad mendekati dengan kudanya, dan memerintahkan, “Selesaikan, dan penggal kepalanya!” Imam al-Thabari dalam kitab Tarikh menggambarkan kisah menyedihkan 10 Muharram di Padang Karbala secara detil, lengkap dengan siapa saja pelaku pembantaian.
Setelah Syahidnya Sayyidina Husein, tubuhnya yang tanpa kepala itu kemudian diinjak-injak oleh kuda pasukan, lalu kepalanya yang suci itu, di sepak takraw bagai permainan sepak bola. Setelah itu, kepala suci Sayyidina Husein dikirimkan ke Yazid bin Muawiyah di Damaskus, bersama tawanan saudara perempuan dan anaknya.
Imam Suyuthi menggambarkan: “Husein dibunuh dan kepalanya diletakkan di bejana dan dibawa ke hadapan Ibn Ziyad. Semoga Allah melaknat mereka yang membunuhnya, begitu juga dengan Ibn Ziyad dan Yazid bin Muawiyah. Husein telah dibunuh di Karbala. Dalam peristiwa pembunuhan ini terdapat kisah yang begitu memilukan hati yang tidak sanggup kita menanggungnya. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun. Terbunuh bersama Husein 16 orang lainnya dari anggota keluarganya.” (Nadirsyah Hosen, 2018: 112). Kepala Sayyidina Husein akhirnya diserahkan ke keluarganya yang selamat, kemudian dikuburkan bersama tubuhnya di Karbala.
Dua tahun setelah insiden pembantaian dan pemenggalan Sayyidina Husein di Karbala, Khalifah Yazid mengirimkan 10.000 tentara dibawah seorang jenderal, Muslim bin Uqbah al-Murri, yang kemudian terkenal dengan peristiwa al-Harrah. Di mana sejumlah sahabat Nabi dan penduduk Madinah dibantai habis, gadis-gadis diperkosa, dan kota suci Madinah luluh lantak tak tersisa. Kemudian pasukan Muslim bin Uqbah bergerak menuju kota suci Mekkah, mengingat satu oposisi tersisa, yakni Abdullah bin Zubair yang telah dibaiat oleh penduduk setempat sebagai khalifah.
Abdullah bin Zubair pun mengalami nasib yang sama dengan Sayyidina Husein, Bani Umayyah dibawah Khalifah Marwan, Abd al-Malik, mengirim bala tentaranya ke kota suci Mekkah. Jenderal bertangan besi, al-Hajjaj bin Yusuf, memenggal kepala Abdullah bin Zubair, lalu kepalanya dikirimkan ke Damaskus. Tubuhnya digantung di gerbang kota. Kemudian diserahkan oleh ibunya yang sudah tua renta.
Tampaknya, kecamuk seperti ini yang diinginkan oleh HRS beserta pengikutnya. Mereka menginginkan Indonesia seperti Suriah, Iraq, Libya, Yaman, dan negara-negara lainnya. Mendoktrin pengikutnya untuk bersiap menjadi martir bagi dirinya. Apakah ini yang dinamakan revolusi akhlak? Agama bagi mereka hanya diperuntukkan untuk menyerang lainnya. Agama bagi mereka adalah pemenggalan, layaknya ISIS di Irak dan Suriah. Agama bagi mereka adalah kuasa duniawi, bukan ukhrawi. Agama bagi mereka adalah Yazid bin Muawiyah yang memenggal kepala lawan politiknya, Sayyidina Husein.
Tidak ada agama apapun yang membenarkan pembunuhan. Membela Nabi adalah dengan akhlak, bukan dengan kemarahan. Tunjukkan akhlak dan moralitas di lingkungan sekitar, bukan marah-marah seolah Nabi dan Tuhan ingin di bela. Nabi dan Tuhan tidak perlu dibela. Nabi merupakan rahmat, kasih segala alam semesta (rahmatan lil alamin). Sementara Tuhan, tidak perlu ada pembelaan. Kata Gus Dur, Ia sudah maha segalanya. Apalagi oleh HRS dan kelompoknya yang berserak-serak teriak demi memenuhi hajat para elite politik.
Jika terjadi sesuatu apapun yang berkaitan dengan terorisme dengan mengatasnamakan agama Islam, maka yang harus disalahkan adalah metode-metode dakwah sesat yang demikian. Seberapapun penghinaan, tidak sebanding dengan penebusan berupa nyawa. Apalagi dengan cara dipenggal. Menyeramkan sekaligus menyedihkan, agama diperalat untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan, ekstrem, dan pembunuhan, dengan memekikkan kalimat suci Allahu Akbar.
Seluruh umat Islam mengutuk Yazid bin Muawiyah atas tragedi Karbala yang menimpa Ahlul Bait Nabi. Padahal Yazid bukan eksekutor. Hari ini, jika terjadi pembunuhan dengan cara dipenggal, yang patut paling disalahkan adalah HRS, akibat ceramah-ceramahnya yang memuat kebencian, permusuhan, dan membenarkan pemenggalan. Kita tidak tahu bagaimana generasi mendatang belajar dari pemuka agama macam HRS ini, apa jadinya nasib Islam. Menjadi agama yang terus dipandang mengerikan oleh orang-orang sekuler yang belum mendapat hidayah. Makin rusaklah agama dan generasi kita di masa depan.
Akhirilah dakwah dengan gaya-gaya klasik macam Muawiyah dan Yazid. Menebar kebencian tidak akan membuat orang lain bersimpatik, yang ada malah sebaliknya, antipati terhadap Islam. Membenarkan pembunuhan, semakin meyakinkan orang lain, bahwa Islam memang agama yang kaku, keras, ekstrem, dan kejam. Citra Islam hancur berkeping-keping oleh perilaku umatnya sebagaimana di atas.
Mari kembali kita menebarkan kasih sayang, cinta, dan rahmat bagi semesta agar kejadian pada era Yazid bin Muawiyah, tidak terulang. Apalagi yang menjadi korbannya adalah Sayyidina Husein, nenek moyang HRS sendiri, masa iya mengikuti gaya lawannya itu. Sama sekali tidak lucu. []