Rizieq Syihab Lupa Diri

0
0
WhatsApp
Twitter

Sejak tiba di Tanah Air pada Selasa (10/11/2024) nama Rizieq Syihab terus menjadi buah bibir masyarakat. Bermodalkan nasab yang katanya bersambung pada Nabi, Rizieq dipuja dan dipuji pengikut setianya. Tak hanya itu, berkat aksi-aksinya bersama ormas Front Pembela Islam (FPI) pimpiannya, dalam menindak suatu perkara cendrung mengarah pada tindakan anarkis, dengan dalih menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, ia dan kelompoknya tak segan melakukan kekerasan.

Rizieq sendiri pernah merasakan dinginnya jeruji besi pada 23 Juli 2003 atas kasus ujaran kebencian. Ia dinilai melanggar pasal 160 junto pasal 65 ayat 1 KUHP dan pasal 154 KUHP. Rizieq terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan penghasutan secara lisan dan tulisan di muka umum, serta telah menyebarkan permusuhan, kebencian, dan penghinaan terhadap pemerintah Indonesia. Pada 2008, Rizieq Syihab juga pernah divonis 1 tahun 6 bulan penjara dan meringkuk di sel tahanan rutan Salemba. Saat itu ia dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas peristiwa penyerangan kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Beragama dan Keyakinan (AKKBK).

Figur Rizieq Syihab memang dikenal publik sebagai sosok ulama yang keras dalam prinsip dan pendirian. Tak ayal, sepak terjangnya kerap dikaitkan dengan pribadinya yang penuh kontroversial. Era pemerintahan Jokowi, oleh sejumlah kalangan, Rizieq dinilai selalu bersebrangan dan bersinggungan dalam hampir semua kebijakan yang diturunkan Jokowi. Oleh karenanya, pelbagai upaya ia lakukan untuk menggembosi kekuasaan Jokowi.

Puncaknya, saat ia berhasil menggerakkan ratusan ribu orang dalam aksi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) atau yang dikenal dengan istilah aksi 411 dan 212. Aksi itu diinisiasi oleh Rizieq Syihab untuk menyikapi kasus penodaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta kala itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Sepeninggal kasus itu, kelompok Rizieq Syihab dan komponen 411 dan 212 menganggap pemerintahan Jokowi tidal adil dalam upaya penegakkan hukum. Mereka mengklaim banyak ulama dan aktivis 411 dan 212 yang ditangkap, sehingga kelompok ini kemudian menggeser isu ke ‘bela Islam’ dan tolak kriminalisasi ulama.

Setelah peristiwa demi peristiwa yang telah berlangsung itu, Rizieq Syihab memutuskan pergi ke Arab Saudi. Belum diketahui secara pasti apa yang melatarbelakangi kepergiannya. Banyak pihak beranggapan, Rizieq memutuskan pergi ke Arab Saudi karena berbagi laporan hukum yang diterimanya. Bahkan, sebelum meninggalkan Indonesia, Rizieq diduga telah menerima panggilan dari pihak berwajib untuk beberapa kasusnya, termasuk kasus dugaan pornografi dengan Firza Husain.

Sekembalinya dari Arab Saudi, banyak pihak menaruh harapan pada Rizieq Syihab agar lebih santun dalam berdakwah, lebih menyejukkan umat, namun harapan-harapan itu pupus di tengah jalan. Sang Habib kembali membuat kontroversi dalam tindakkan dalam ceramahnya. Setidaknya ada beberapa catatan tidak terpuji Rizieq pasca kepulangannya.

Pertama, Ia tidak melaksanakan peraturan yang semestinya sebagai warga negara setelah dari luar negari harus isolasi mandiri selama 14 hari, namun Rizieq tak melakukan itu. Kedua, ia menggelar resepsi pernikahan putrinya sekaligus merayakan Maulid Nabi SAW dengan mengundang 10 ribu undangan, jelas itu melanggar protok kesehatan. Ketiga, merendahkan Isntansi kepolisian dan menyebut ‘lonte’ pada seseorang yang diduga menghina dirinya.

Kejadian ini berawal dari komentar seorang artis saat kepulangannya yang memancing ribuan masa untuk menjemput dan memadati jalanan dan bandara. Artis tersebut menyebut ‘habib tukang obat’. Diluar dugaan, komentar artis ini mengundang dan amarah pengikut Rizieq Syihab. Seorang pengikut Rizieq Syihab bahkan melayangkan ancaman dan kata-kata kotor pada artis yang menyebut ‘habib tukang obat’ itu dalam unggahan vidio di akun twiternya.

Si pengunggah video yang disebut-sebut sebagai ustadz ini melontarkan kata-kata kotor dan tidak pantas. Alih-alih menasehati pengikutnya yang melepaskan kata-kata kotor, Rizieq Syihab dalam sebuah acara pernikahan putrinya yang juga dibarengi acara Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (14/11/2024), justru ikut menyinggung istilah lonte untuk menyudutkan artis itu. Ironi memang, seorang ulama yang paham agama, berpendidikan, tidak bisa berlapang dada ketika keritik menabrak dirinya. Sebagai seorang ulama, terlebih keturunan Nabi, selayaknya lebih dewasa dalam menyikapi setiap persoalan.

Sebagai figur yang mempunyai banyak pengikut, Rizieq Syihab seharusnya banyak memberi contoh akhlak Nabi yang mulia, yang dapat diterima dan diteladani oleh seluruh masyarakat. Bukan menyibukkan diri membalas cemoohan dari segelintir masyarakat. Bahkan, ada pemandangan yang menjadi sebuah keheranan bagi saya sendiri dalam acara Maulid Nabi SAW 3 hari yang lalu itu, bagaimana seorang penceramah mendoakan orang lain agar berumur pendek, tetapi Rizieq Syihab pun tiada merespon apa-apa. Di kalangan masyarakat umum, tentu ini berpotensi mencoreng citra buruk ulama. Kepercayaan masyarakat terhadap ulama, bukan tidak mungkin akan berbelok, akibat cermah-ceramah yang memprovokasi dan memecah belah bangsa.

Habib Umar al-Hafidz, ulama internasional asal Yaman pernah mengingatkan, “lisanmu adalah gambaran apa-apa yang tersimpan di hatimu, maka setiap kalimat yang buruk menunjukkan atas buruknya apa-apa di dalam hatimu.’’

Al Hafidz Ibnu Katsir juga menuturkan nasehatnya, Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat manusia) untuk berjamaah dan melarang perpecahan. Dan telah datang banyak hadist, yang berisi larangan perpecahaan dan perintah persatuan. Mereka dijamin terjaga dari kesalahan manakala mereka bersepakat, sebagaimana tersebut banyak hadist tentang hal itu juga.

Namun dalam banyak kejadian, nampaknya Rizieq Syihab lupa diri. Dia selalu memposisikan dirinyalah yang paling benar. Ia lupa perannya sebagai seorang habaib. Padahal, gelar habib adalah gelar mulia, penuh cinta kasih pada sesama, pada semua mahluk. Kalau toh ingin mengkritik secara bebas pada pemerintah dan yang lain, mengapa tidak terjun saja ke dalam politik, menjadi kader parpol tertentu misalnya agar tidak mencoreng gelar mulia habib, dan tidak menjelekkan citra ulama.

Salah satu tugas seorang ulama adalah sebagi konselor, melayani, menjawab, memecahkan masalah dan memberi solusi atas suatu permasalahan, bukan malah menambah masalah. Selain mengajarkan ilmu agama, peran penting ulama di masa pandemi ini ialah mengingatkan, menghimbau, bahkan menegur agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan, bukan justru mengajak pada perkumpulan yang berpotensi memperluas penyebaran covid-19 ini. Akhirnya, kita sebagai masyarakt bisa menilai sendiri, mana ulama yang layak diikuti, mana ulama yang menyesatkan. Dengan demikian, sekiranya Rizieq Syihab masih ingin disebut habib atau ulama, hendaklah ia sadar dan merubah sikap dan sifat-sifat tidak terpujinya.

Astaghfirullahal-adizim laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih. Aku beristigfar memohon ampunan keepada Allah, yang tiada Tuhan yang berhak diibadahi selain Dia, yang Maha Hidup, yang Maha Mengurus, dan aku bertaubat kepada-Nya (HR. Al-Hakim dari Ibnu Mas’ud dan At-Turmidzi).