Siapa yang tak mengenal Nikita Morzani, sosok artis yang tengah menjadi pembicaraan hangat jagat maya dan nyata. Tak hanya aneka profesi yang dijalani yang membuatnya terkenal seperti model, presenter tv, dan pemeran bermacam film, juga berkat peran antagonisnya yang terus melambungkan namanya.
Teranyar, perempuan kelahiran Jakarta 17 Maret 1986 itu tengah bersetru dengan pimpinan Front Pembela Islam (FPI). Kejadian ini berawal saat ribuan pengikut Rizieq Syihab, menyambut kepulangannya setelah kurang lebih 3,5 tahun merantau di Arab Saudi mendarat di bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (10/11/2024) yang menyebabkan kemecetan panjang dan kerusakan-keruskan di bandara.
Kejadian ini mengundang banyak respons dari masyarakat luas, tidak terkeceuali Nikita Mirzani. Dalam siaran live Instagramnya, Nikita melampiaskan kekesalannya dengan menyebut ‘habib tukang obat’. Pernyataan Nikita Mirzani pun sontak menjadi viral. Akibat komentarnya itu, Nikita dikecam oleh para pendukung Rizieq Syihab. Salah satunya datang dari ustadz Maaher at-Thuwaelibi. Sebagai respon atas ucapan ‘habib tukang obat’ yang dilontarkan Nikita Mirzani, Maaher lantas mengunggah sebuah vidio yang berisi ancaman terhadap Nikita.
Dalam vidio yang diunggah dalam akun Twitternya, Maaher mengancam akan mengepung rumah Nikita dengan mengirim 800 laskar FPI. Tak hanya itu, Maaher juga menyebut Nikita dengan sebutan yang sangat kasar, seperti kata ‘babi betina, lonte oplosan, penjual selangkangan’. Sungguh perkataan yang sangat tidak pantas bagi seorang yang disebut-sebut sebagai ustadz.
Namun, alih-alih meminta maaf dan mengklarifikasi pernyatannya, Nikita Mirzani atau yang sering dikenal publik dengan sebutan ‘’’Nyai’, justru seolah menabuh ‘genderang perang’ pada kelompok yang mengancamnya. Nikita coba membandingkan pernyataannya dengan orang lain selain dirinya yang pernah menghina ulama, menghina Presiden. Secara jujur, ia mengatakan, dirinya akan meminta maaf kalau memang dia bersalah. Ia juga sedikit menyinggung, bahwa agama yang ia tau adalah agama yang damai, tak pernah menghinakan orang lain.
Ungkapan ‘lonte’ terhadap Nikita berlanjut dalam sebuah acara Maulid Nabi SAW sekaligus pernikahan putri keempat daripada Rizieq Syihab. Dalam acara yang berlangsung pada Sabtu (14/11/2024) itu, Rizieq Syihab sebagai empunya hajat dalam sambutannya menyinggung istilah ‘lonte’ yang di sematkan pada Nikita Mirzani. Menurut Rizieq, seharusnya yang menghina ulama di tangkap, bukan malah di jaga rumahnya. Gaya bicara Rizieq seolah menggambarkan dirinya paling suci, orang lain hina. Hanya karena masalah sepele saya katakan, apa yang salah dengan isitilah ‘tukang obat’? Seharusnya yang pantas marah adalah yang betulan tukang obat, karena profesinya seakan dihinakan oleh Rizieq Syihab.
Benar adanya apa yang dikatakan Gus Dur suatu ketika, bahwa orang yang masih terganggu dengan pujian dan hinaan manusia, berarti ia masih hamba amatiran. Dan ini penulis pikir bukan hinaan malah. Namun nyatanya bukan hinaan saja sudah sangat terganggu. Hamba amatiran?
Nikita Mirzani, betapapun khalayak mengenal sebagai artis yang banyak membuat kontroversi, tetapi harus diakui ia berbicara dengan apa adanya, dan tidak pernah mangkir dan kabur keluar negeri saat berhadapaan dengan hukum. Kita patut mengacungi jempol untuk sang Nyai atas keberaniannya melawan keangkuhan ormas berjubah putih itu.
Nikita adalah juga bagian dari kita, dengan keberaniannya ia menyuarakan keresahan yang secara tidak langsung mewakili suara di masyarakat kebanyakan yang kurang bernyali terhadap ormas FPI. Nikita banyak memberi pelajaran, dengan kepercayaan dirinya ia menegur sesiapa yang dia kehendaki dan mengajari bagaimana akhlak yang yang benar dalam kondisi pandemi covid-19 ini, yakni tdak mengumpulkan banyak masa yang berpotensi menambah klaster baru penyebaran covid-19.
Keberanian Nikita selayaknya menjadi magnet dan motivasi bagi perempuan-perempuan lain untuk ikut andil dalam menyuarakan ketidakadilan di negeri ini. Bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan tidak lebih banyak satu sama lain, tidak untuk saling merendahkan satu sama lain. Suara perempuan adalah suara kebenaran dan perempuan yang memiliki suara didefinisikan sebagai perempuan yang kuat (Melinda Gates).
Dalam peradaban bangsa-bangsa di Amerika Utara, kita mengenal salah satu bangsa yang paling berani dan gigih, yaitu bangsa Cheyenne. Bangsa ini meletakkan hidup mati bangsanya pada perempuan. Pepatah leluhur bangsa Cheyenne mengungkapkan; ‘’Sebuah bangsa tidak dapat ditaklukkan hingga hati para perempuannya takluk. Setelah itu, segaalanya berahir, tak peduli seberapa beraninya para pejuang ataupun seberapa canggihnya senjata mereka.”
Nikita adalah salah satu inspirasi perempuan Indonesia masa kini dalam berpendapaat diruang publik. Ia percaya diri, berjiwa sosial tinggi, dermawan, tidak sombong, dan berani bersuara ketika perempuan lain bungkam. Maaher boleh mengancam Nikita dengan mengirim 800 pasukannya, Rizieq boleh menyitir istilah lonte pada Nikita, tetapi pada kenyataannya tidak semua omongan laki-laki bisa dipegang. Hal ini selaras dengan ungkpan Margareth Thatcher, kiranya kita inginkan sesewatu untuk dikatakan, maka mintalah pada laki-laki, namun jika kita inginkan seswatu untuk dilakukan, pada peremuanlah adanya. Dan Nikita telah melakukan apa yang diutarakan laki-laki. Nikita saya sih yes.