Kolom

Menyoal Nasionalisme Rizieq Syihab

3 Mins read

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (14/11/2024) yang dihelat oleh Front Pembela Islam (FPI) dan Habib Rizieq Syihab (HRS) dengan melakukan penghinaan dan sumpah serapah kepada mantan Presiden Megawati dan Presiden Jokowi itu sangat ironi. Dan sama sekali tidak mencerminkan HRS sebagai sosok yang nasionalis. Pasalnya, HRS tidak hanya menodai perayaan Maulid, pun karena acara Maulid yang mengundang masaa itu digelar di saat pandemi. Yang jelas-jelas hal demikian dapat mengancam nyawa banyak orang.

Nasionalisme kita pada hakikatnya bermuara sangat dalam pada dua variabel penting, yakni budaya Nusantara di satu sisi dan nilai-nilai keislaman di sisi lain. Nasionalisme yang berakar dari tradisi nusantara demikian, yang kemudian tercermin ke dalam deklarasi Sumpah Pemuda yang melahirkan konsensus pada kesatuan bangsa, Tanah Air, dan bahasa. Sedangkan nilai-nilai keislaman yang terkristal dalam nasionalisme kita, dapat dilacak dari pembukaan Undang-undang Dasar RI Tahun 1945, yang secara gamblang menyebutkan kemerdekaan RI sebagai rahmat Allah SWT.

Hal ini yang kemudian mendorong para pihak minoritas Islam dapat menerima konsep nasionalisme. Karena nasionalisme kita adalah pengejawantahan antara Barat dan Timur (Islam). Namun, yang menjadi persoalan adalah, tatkala konsep nasionalisme kita yang adiluhung ini, masih saja tidak menjadi basis moral masyarakat Indonesia, bahkan tokoh Islam sendiri. Padahal, sebagaimana perkataan Bung Karno nasionalisme kita merupakan cerminan dan fundamen dari konsep berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia. Seperti, dewasa ini misalnya, kita dapat melihat kejanggalan itu dalam sosok HRS.

HRS yang notabene tokoh Islam dan pentolan Front Pembela Islam (FPI) beberapa tahun belakangan, hingga kedatangannya dari Saudi Arabia kemarin (10/11/2024), sama sekali tidak kita temukan jiwa nasionalis dalam dirinya. Tidak mungkin rasanya, jika kita menganggap HRS tidak mengerti arti dari nasionalisme itu. Ia pasti tahu betul.

Apalagi, pascasarjananya ia rampungkan dengan tesis berjudul Pengaruh Pancasila Terhadap Pelaksanaan Syariat Islam di Indonesia. Dari sini saja, kita dapat melihat secara kasat mata jika ia pasti memahami konsep nasionalisme kita. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa dalam tindak-tanduknya ia tidak sama sekali mencerminkan sosok yang nasionalis atau Pancasilais? Hal ini pula yang membuat saya sebagai seseorang yang berfokus dalam kajian kebangsaan menyoalkan nasionalisme HRS

Sedikitnya, ada tiga penangkapan saya, sebagaimana dirilis dalam majalah TEMPO edisi 16-22 November 2020, terkait tindak-tanduk HRS yang tidak mencerminkan sama sekali sebagai sosok yang nasionalis. Pertama, menjadi tersangka kasus penodaan Pancasila, (27/10/2024) atas laporan dari Sukmawati Soekarnoputri. Kedua, dugaan pelecehan terhadap budaya Sunda, (13/11/2024) atas laporan dari Aliansi Masyarakat Sunda, (1/2017). Ketiga, dan paling heboh dibincangkan, bahkan sampai media Australia memberitakan, yakni dugaan chat mesumnya bersama Firza Husein, (29/1/2025). Memang, beberapa kasusnya sudah distop dalam penyidikan, tetapi bukan berarti kasusnya sudah final. Dan terkait kasus-kasus pidananya itu, biarlah kita serahkan kepada pihak yang berwajib untuk dapat menyelesaikannya.

Dalam hal ini saya hanya ingin meneropong dari sudut pandang kebangsaan. Apakah HRS nasionalis? Kiranya, menurut saya tidak! Tentunya, dengan beberapa alasan. Pertama, ia menjadi sumber konflik perpecahan. Dengan perkataannya mempelesetkan “sampurasun” menjadi “campur racun”, jelas sebagai tokoh ia tidak dapat menjaga keberagaman budaya kita. Padahal, nasionalisme kita adalah tidak lain dari cita-cita menjadi satu kesatuan atas keberagaman itu sendiri.

Kedua, menciderai Pancasila sebagai representasi dari nasionalisme kita. Yang kita ketahui bersama, Pancasila adalah ideologi, alat pemersatu, dan acuan kita dalam berbangsa-bernegara. Kita tidak dapat bersatu tanpa Pancasila. Pancasila adalah alat dan satu-satunya yang dapat menyatukan bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Marauke, begitulah yang ditegaskan Bung Karno. Lantas, bagaimana mau dikatakan nasionalis? Jika Pancasila saja ia nodai!

Ketiga, HRS sebagai tokoh Islam gagal mempresentasikan nasionalisme kita yang Islami. Seharusnya, sebagai tokoh Islam yang dilahirkan di Indonesia dan memiliki banyak massa. Ia dapat menjadi teladan terhadap pengikutnya. Menjadi tokoh yang menyejukan, menebar virus perdamaian, dan persatuan, bukan malah mencaci-maki, apalagi memperpecah keberagaman. Teranyar, dan yang sangat memprihatinkan, ia membiarkan massa berdampingan dengan maut, sebab acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang dihelatnya di saat pandemi. Sungguh, ini ironi!

Mestinya, HRS dapat menempatkan kehidupan berbangsa dan bernegara di atas segalanya, bukan atas kepentingan golongan atau kelompok. HRS, sebagai tokoh Islam dan saya yakin, ia mengerti betul tentang kebangsaan (nasionalisme), harus dapat menjadikan nasionalisme kita sebagai basis moral dalam berbangsa-bernegara. Karena, bisa dipastikan jika ia terus-menerus berlaku demikian, tidak saja dapat mengancam kewibawaannya sebagai tokoh, tetapi juga dapat memudarkan kepercayaan pengikutnya kedepan.

Pendek kata, HRS harus dapat membuktikan jiwa nasionalisme dan patriotismenya dalam bentuk nyata, sehingga menyoal komitmennya sebagai tokoh nasionalis tidak lagi menjadi persoalan oleh saya khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umunya.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa dan Spirit Toleransi

Menjelang bulan suci Ramadhan, seringkali teror dan bom bunuh diri terjadi. Terakhir, terjadi bom bunuh diri di Gereja Katedral, Kota Makassar dan…
KolomNasihat

Sunnah Sahur

Sahur merupakan elemen penting dari puasa. Sahur merupakan waktu yang tepat mempersiapkan asupan yang cukup agar dapat berpuasa sepanjang hari. Namun, tidak…
Kolom

Indahnya Puasa Sambil Bertoleransi

Dalam kehidupan, saling menghargai antar sesama manusia sangat diperlukan, apalagi di saat bulan puasa. Bulan Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk menebar virus toleransi antar manusia. Karena toleransi atau kerukunan antar umat beragama menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan membangun perdamaian. Ketika berpuasa, kita diberi ujian untuk selalu bersabar dalam segala hal. Dengan adanya toleransi, kita dapat memperindah ibadah puasa yang akan kita jalani.