Jangan Politisasi Dakwah Gus Baha

0
0
WhatsApp
Twitter

Meminjam tradisi Oxford Dictionary dalam menobatkan istilah yang populer, kata “lonte”, nampaknya akan menjadi word of the year negeri ini. Tempo hari, Senin (16/11/2024), nama Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha ramai dibicarakan oleh warganet. Potongan ceramahnya dengan judul thumbnail “berkah adanya lonte” beredar luas, sehingga nama Gus Baha pun menempati jajaran trending topik di Twitter. Setelah ditelisik, rekaman suara itu diunggah oleh Ustadz Maaher at-Thuwailibi melalui akun Twitter-nya @ustadzmaaher_. Namun, kini unggahan tersebut nampaknya telah dihapus.

Postingan tersebut erat kaitannya dengan perseturaan antara Maaher dengan seorang artis, Nikita Mirzani. Berawal dari kegeraman Nikita—yang juga mewakili kekecewaan banyak pihak—atas kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) yang menyebabkan terganggunya ketertiban sosial dan hajat masyarakat umum. Tanpa tedeng aling-aling, Nikita menumpahkan kekesalannya atas tingkah polah HRS dan simpatisannya. Ia menyebut bahwa habib itu tukang obat, habib pun seorang manusia yang tak perlu diagung-agungkan. Dan kepulangannya ke Indonesia ternyata hanya bikin ulah saja. Demikian tandas Nikita.

Pernyataan satir Nikita tadi mendapat umpan balik dari Maaher, seorang muhibbin (pecinta) HRS. Ia menuntut Nikita untuk menyatakan permohonan maaf dan klarifikasi karena dianggap telah menghina ulama, lebih tepatnya HRS. Di luar dugaan, dalam tanggapannya, Ustadz Maaher menyebut Nikita sebagai babi betina, lonte, dan penjual selangkangan. Amat disayangkan, seorang yang menyebut diri sebagai Ustadz, melayangkan ungkapan sarkas dan kotor kepada oknum tertentu, dalam hal ini Nikita.

Saling saut di antara keduanya berlanjut. Penggalan ceramah Gus Baha pun diadopsi oleh Maaher untuk menguatkan dan melegitimasi pernyataannya terhadap Nikita yang diklaim sebagai seorang lonte. Ia piawai, mencari pembenaran dari ulama NU yang diakui kredibilitas dan kealimannya. Sejalan dengan teori kredibilitas sumber, milik Hovland, Janis, dan Kelley, bahwa seseorang akan lebih mudah dipersuasi jika komunikatornya kredibel, karena kredibilitas seseorang berperan penting dalam mempengaruhi komunikan (audiens) dalam menentukan pandangannya.

Audio berdurasi kurang lebih 45 detik yang disebar oleh Maaher pun menuai pro-kontra. Banyak pihak yang meragukan, apakah ceramah Gus Baha tadi sejalan dengan apa yang diasumsikan Maaher? Apakah uraian Gus Baha adalah sebentuk legitimasi untuk menyebut seseorang di muka umum sebagai pelacur dan merendahkannya? Begini kutipan audio Gus Baha dalam bahasa Indonesia yang diunggah oleh Maaher.

“Kebenaran bahwa orang nakal harus kita katakan sundel, lonte. Itu kelontean dan kesundelan akan tabu terus selama orang masih ngomong untuk lonte itu sundel, untuk orang WTS (wanita tunasusila) itu lonte atau sundel. Artinya apa? Orang masih jijik atau merendahkan derajat mereka yang berprofesi sebagai lonte atau sundel. Dan ini baik bagi agama, bagi keberlangsungan moral, karena masih ada yang menjijikkan proses-proses yang salah. Meskipun kita sebagai ulama, sebagai tokoh masyarakat, tentu mereka kita kasih ruang taubat, juga kita kasih hak-hak sebagai martabat sebagai manusia. Tapi kita tetap akan bilang bahwa itu lonte sundel atau apa.”

Sekali dengar, narasi demikian memang merupakan pembenaran bahwa seorang lonte sudah sepatutnya disebut lonte. Celah ini yang dimanfaatkan oleh Maaher untuk mempolitisasi dakwah Gus Baha sehingga terkesan mengiyakan tindakan sang Ustadz. Ada beberapa hal yang harus kita kritisi dari sikap sang Ustadz yang membubuhkan predikat murabbi dalam bio akun Twitter-nya ini.

Pertama, hal yang paling mendasar ialah Maaher tidak mengunggah secara lengkap ceramah Gus Baha, alias memenggal bagian tertentu sehingga menyisakan pemahaman yang parsial bagi para pendengar. Kedua, karena hanya mencomot bagian tengah dari audio, hal ini menyebabkan pergeseran konteks keseluruhan dari ceramah Gus Baha. Ketiga, ia mencerca seseorang di ruang publik.

Setelah ditelusuri, ceramah utuh Gus Baha itu sedang menyoal hadis bahwa satu kezaliman harus dipahami dan diakui sebagai kezaliman agar keberkahan Allah SWT tidak dicerabut dari muka bumi. Lalu ia mengambil contoh kasus tentang lonte, dan Gus Baha mencoba menarik hikmah dari fakta sosial tersebut. Di bawah ini adalah bagian awal ceramah Gus Baha yang dipotong.

“Begini, saya punya hadis shahih dari riwayat Imam Ahmad, Allah tidak akan mencabut berkah-Nya bumi sampai di bumi tidak dikatakan zalim bahwa kamu zalim. Sekarang begini misalnya contoh paling mudah yang kita mendapat berkah, ya, contoh paling mudah kita mendapat berkah dari contoh ini. Sebetulnya atas nama etika Jawa ya, etika Jawa, kita kalau punya tetangga lonte, itu pandangannya secara etika itu sudah urusannya masing-masing. Tidak perlu kamu bilang dia itu lonte, sundel, udah terserah situ. Tapi berkahnya…” (rekaman selanjutnya adalah bagian yang diunggah Maaher).

Kita sama-sama sepakat bahwa pelacuran adalah suatu tindakan yang tidak dibenarkan dalam agama. Dan hal ini harus menjadi keyakinan masing-masing kita. Benar bahwa lonte memanglah lonte. Namun, secara etika, dalam teks yang dipotong oleh Maaher, Gus Baha terang menyatakan, bahwa pengingkaran kita atas pelacuran tidak kemudian diekspresikan di hadapan umum, apalagi untuk memaki-maki serta merendahkan martabat seseorang. Selacur apapun ia, pintu taubat selalu tersedia, dan ruang untuk kemanusiaan harus selalu disisihkan.

Sederhananya, sebutan lonte bukan untuk digunakan sebagai panggilan keseharian, sekalipun kepada seseorang yang berprofesi demikian. Selain itu, dalam konteks mengingatkan perilaku seseorang pun, bukankah kita diperintahkan untuk mendialogkannya secara personal? Dan bukan untuk konsumsi publik.

Memahami konteks adalah hal yang mutlak penting. Hal ini untuk mengerti kondisi bagaimana sesuatu itu terjadi. Dengan paham konteks, akan menghasilkan perbandingan yang apple to apple dan penilaian yang berimbang antarsatu perkara dengan perkara lain yang satu obyek.

Konteks ceramah Gus Baha yang menyebut-nyebut lonte itu adalah dakwah yang mengabarkan bahwa perkara buruk sekalipun, ada pelajaran yang bisa dipetik dari sana. Bukan sekadar ucapan keras dan kasar untuk menghujat seseorang sebagaimana laku Maaher, yang tak sebatas menyebut Nikita lonte, tapi juga babi betina dan penjaja selangkangan. Miris.

Membandingkan penjelasan Gus Baha tentang lonte dan celetukan HRS mengenai hal yang sama dalam perayaan Maulid Nabi tempo hari, juga bukan komposisi yang berimbang. Maka dari itu, wajar jika bahasan Gus Baha seputar pelacuran tak dipermasalahkan. Sedangkan dalam kasus HRS menuai banyak kecaman. Karena keduanya dalam ruang konteks dan gaya komunikasi yang jauh berbeda.

Secara psikologis, salah satu hal yang mendorong seseorang mencari pembenaran ialah kuatnya rasa bersalah namun tak ingin disalahkan. Mencatut ceramah Gus Baha, ialah sebentuk politisasi dakwah untuk menjustifikasi sikap pribadi Maaher. Memotong video sehingga menyebabkan kaburnya substansi dapat menyebabkan kesalahpahaman umat. Cukup tahu, sikap tak elok seperti itu tidak untuk ditiru. Dakwah agama ialah salah satu sumber mata air ilmu yang dibutuhkan masyarakat. Jika dakwah masih saja dipolitisir dan didengungkan dengan narasi yang banal, maka umat mana yang akan mendekat? Wallahu a’lam.