Setelah 2017 mengendap di Arab Saudi, akhirnya beberapa hari yang lalu Habib Rizieq Syihab (HRS) datang ke Tanah Air. Segerombolan massa melimpah ruah dan memadati sepanjang jalan Soekarno-Hatta. Hal ini tentu menimbulkan kemacetan selama 3 jam lamanya, serta beberapa penerbangan yang terpaksa tertunda. Kedatangan HRS tentu disambut meriah oleh para pendukungnya, akan tetapi bagi kebanyakan orang kedatangan HRS pasti akan membawa polemik dan kontrovesi yang dinilai akan mencoreng nama baik Islam.
Benar saja, sesuai dugaan, tak lama setelah kedatangannya beberapa hari yang lalu, ia kembali berulah. Pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Petamburan, Jakarta Selatan (14/11). Ia berdakwah dengan melontarkan ujaran kebencian, hingga merendahkan perempuan. Peringatan Maulid Nabi yang seharusnya menjadi momen yang sakral ini, justru diisi dengan ujaran kebencian dan merendahkan perempuan, bahkan tak hanya itu, doa-doa yang tak patut terlontar juga keluar dari lisan seorang pemuka agama yang tentu jelas ini mencoreng nama baik Islam.
Mimbar dakwah yang semestinya menyanjung kebesaran baginda Nabi Muhammad SAW, mendorong pada kebaikan, ketakwaan, dan ujaran-ujaran yang sejuk nan damai, kini ternodai oleh pernyataan-pernyataan yang menyinggung, mengandung unsur kebencian dari mulut-mulut kotor HRS yang menghina perempuan, bahkan tak patut dijadikan panutan. Bukan hati mereka yang berbicara, melainkan hawa nafsu dari setan yang menghasut untuk menghina perempuan, dan juga mencoreng nama baik Islam.
Jika saya amati, sebenarnya ada tiga hal pokok yang biasanya menjadi bahan dakwah HRS yang disisipkan dengan ujaran kebencian: pertama, soal ketakutan akan ancaman agama, keyakinan dan ideologi dari luar. Kedua, soal bagaimana menjalankan agama dengan jalur kekerasan, Ketiga, kebencian atas Joko Widodo dan jajaran pemerintahannya.
Untuk yang pertama, sasaran mereka adalah Kristen, China dan kebangkitan PKI. Kristen tetap diaggap sebagai ancaman yang serius dan musuh yang telihat. Sebagai ancaman yang serius, bahan amunisi yang mereka gunakan untuk menyerang Kristen ya itu-itu saja isunya, sekitaran bahwa Kristen menyebarkan agamanya dengan memakai uang, banyak doktrin Kristen sudah didistorsikan, soal Yesus, Trinitas dan lain sebagainya.
Serangan pada China juga tidak mengalami perubahan yang serius. Dari dulu sebelum HRS pergi ke Arab Saudi dan Kembali lagi ke Tanah Air kisaran persoalannya di sekitar penguasaan ekonomi para pengusaha China di Indonesia yang dikaitkan sebagai kepanjangan negara China. Padahal, orang China di Indonesia itu beda dengan bangsa China. Apabila dulu Amerika dan Barat menjadi musuh utama karena sekarang yang sedang digdaya itu China, maka kini China yang dijadikan sebagai bahan serangan dakwah HRS.
Isu PKI juga terus akan menjadi bahan dakwah dan ini yang menarik, ia terus menyebar dan ancaman bahaya PKI yang masih ada sampai sekarang. Lalu tidak puas di situ, selanjutnya melebarkan serangan dengan tuduhan bahwa kelompok Muslim lain yang beda dengan cara pandang keislamannya dengan mereka dianggap telah terinfiltrasi oleh PKI. Biasanya NU dan organisasi underbouw-nya yang sering dijadikan sebagai sasaran tuduhan semacam ini.
Kedua, soal bagaimana menjalankan agama dengan jalur kekerasan. Perjalanan dakwah RS mengalami rapot merah, sebab di setiap isi ceramahnya ia selalu melakukan ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama. Misalnya saja, pernah terlibat bentrok dengan aparat kepolisian dalam demo menentang pengangkatan Basuki Tjahya Purnama (Ahok) sebagai gubernur DKI Jakarta.
Bentrokan pengikut HRS, yaitu Front Pembela Islam (FPI) dengan aparat keamanan semacam ini bukanlah yang pertama kali, tapi sering dan akan terus terjadi, sehingga menimbulkan keprihatinan dari sejumlah elemen bangsa dan memunculkan wacana dari sebagian kalangan untuk membubarkan FPI sejak tahun 2008 hingga sekarang, karena dianggap meresahkan masyarakat. Hal ini tentu HRS mencoreng nama baik Islam, yang jika kita lebih dalami lagi makna Islam sebagai agama yang ramah dan penuh kasih sayang.
Ketiga, kebencian terhadap Jokowi dan seluruh aparatur negaranya sebagai pihak yang dianggap merugikan Islam di Indonesia. Ya sejak, Jokowi jadi presiden, anggapan ini terus digaungkan oleh dakwah HRS, terutama bagi mereka yang kepentingannya terhalangi oleh HRS dan FPI. Misalnya saja, saat acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ada doa yang terlontar agar Jokowi pendek umurnya. Padahal sebenarnya doa tersebut dinilai tak elok dan tak pantas dilakukan.
Dakwah dengan ujaran kebencian yang dilakukan HRS tidak sekali dua kali, tetapi sering. Bahkan hingga ia pernah terjerat proses hukum atas ujaran kebencian dalam isi dakwah yang disampaikannya. Meskipun Istilah “kriminalisasi ulama” seolah menjadi alasan hukum yang absurd ketika diajukan dirinya agar terhindar dari berbagai implikasi hukum.
Namun, sebagai seorang anak bangsa yang taat hukum, ia sudah semestinya tetap menjalani prosedur hukum dengan mengungkapkan bukti-bukti kebenaran seandainya ia tidak melanggar hukum. Jika belum memberikan bukti apa pun, tetapi malah menghindar dari upaya hukum, terlebih beropini telah terjadi kriminalisasi ulama, justru akan semakin menambah besar tanda tanya publik. Hal ini juga menjadi sosok HRS yang mencoreng nama baik Islam karena tidak taat dengan hukum.
Tentu, apa yang dilakukan oleh HRS dengan dakwah yang bertendensi menyerang pihak lain ini memang sangat mungkin terjadi, terutama di dalam era media sosial dan kebebasan yang kita alami di zaman sekarang ini. Namun dakwah menyerang tidak sesuai dengan esensi dakwah itu sendiri yang artinya bukan menyerang tapi mengajak, sebab hal ini tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika berdakwah dengan menyampaikan Islam yang baik dan ramah.
Sebenarnya, menyampaikan dakwah ujaran damai dan ramah itu tidaklah sulit. HRS bisa saja menggunakan strategi berdakwah dengan ujaran damai dan tentu ini bisa diterima oleh pihak yang ajak, maka dari itu dakwah harusnya disampaikan secara persuasif, bukan dengan memusuhi dan menyerang. Belum lagi soal isi dakwah yang harus argumentatif, masuk akal, dan memiliki landasan ilmiah, agar para audiens bisa teryakinkan. Jika polanya HRS tetap tak berubah setelah kepulangannya itu, bagaimana bisa meyakinkan orang lain jika dakwahnya tersebut isinya mengumpat dan marah-marah serta memusuhi.
Sebagai catatan, dakwah dengan ujaran kebencian yang dilakukan oleh HRS memang mencoreng nama baik Islam, sebab banyak menyebabkan mudaratnya dan tak pantas jika ujaran kebencian selalu dilontarkan oleh seorang habib yang katanya seorang keturunan Nabi juga. Pendek kata, dakwah RS dengan ujaran kebencian itu lebih menimbulkan beban bagi umat Islam daripada menarik keberkahan.