Antara Habib Luthfi dan (Habib) Rizieq Syihab

0
0
WhatsApp
Twitter

رب فانفعنا ببرگتهم ، واهدناالحسنی بحرمتهم

وأمتنا فی طريقتهم ، ومعافاة من الفتن

Dasar negara kita salah satunya adalah kebangsaan,
negara yang bukan hanya buat satu golongan,
tetapi semua buat semua

—Soekarno,

Proklamator Kemerdekaan

Segala puji bagi Allah Ta’ala

Beberapa waktu lalu Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng diramaikan olah massa menyambut tokoh idamannya yakni Habib Rizieq Syihab (HRS) (10/11/2024). Ia kembali ke Tanah Air setelah kurang lebih 3 tahun berada di Arab Saudi. Gara-gara sepak terjangnya sendiri, berakibat banyaknya lilitan kasus besar di Republik ini. Kemudian ia melarikan diri dan dideportasi.

Masyarakat tahu ia ke Luar Negeri, melarikan diri membawa masalah. Masuk kembali ke negeri ini juga membawa masalah. Salah satunya adalah revolusi akhlak yang disuarakan akhir-akhir ini. Karena dirinya sendiri tidak berakhlak. Hal tersebut dapat disaksikan dalam ceramah-ceramahnya yang tersebar di medsos. Penuh kebencian yang diteriakkan, permusuhan yang menghalalkan fitnah dan dusta, demagogi ala HRS. Padahal negeri ini didirikan dengan impian indah dan ramah.

Lalu apa yang perlu direvolusi? Mulailah dari diri sendiri sebelum menyuruh yang lain itu baru keren. Akhirnya revolusi akhlak ditentang oleh netizen di digital dengan trending topik #HRSbukanhabib.

Ya, ada yang menyebutnya HRS. Dianggap keturunan Muhammad Sang Nabi. Padahal Sang Nabi tak pernah mencaki-maki makhluk Allah SWT sepanjang hidupnya. Beliau mendarmakan hidupnya untuk ummat, ramah dan penuh belas kasih. Sang Nabi yang diutus Tuhan untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak yang dilakukannya sendiri dalam jejak-jejak langkah, keluarga dan kehidupan sehari-harinya. Catatan sejarah dunia menorehkan tinta emas perihal kebaikan, cinta dan empatinya kepada sesama manusia.

Situasi Terkini

Saat ini, sebenarnya negeri kita penuh dengan habib yang teduh ramah, toleran dan arif. Berbeda dengan HRS. Tentunya habib-habib yang nasionalis, mencintai negeri dengan segenap jiwa raga. Habib yang baik hati dan menjadi payung teduh umat beragama di Tanah Air. Ia punya jamaah yang tersebar di penjuru bangsa itu salah satunya adalah Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Sepertinya ummat Islam Indonesia bersama di sini, untuk kembali berjanji bahwa Indonesia tempat kita berpijak dan berdiri. Bangsa ini adalah sebuah warisan yang luar biasa, tapi juga sebuah cita-cita besar. Negara ini bukan hanya amanat para pendiri bangsa, tetapi juga titipan berjuta anak cucu yang lahir kelak. Seperti ucapan Moh. Hatta,” di atas segala lapangan Tanah Air, aku hidup, aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku.”

Kita menyadari kembali bahwa Indonesia adalah satu prestasi sejarah. Namun juga ikhtiar yang tak gampang. Dalam banyak hal, Indonesia kita belumlah selesai. Sebuah negeri yang belum rampung. Sebagaimana dikatakan Bung Karno, bagi sebuah bangsa yang berjuang, tak ada akhir perjalanan. Dalam setiap perjalanan itu kita pernah merasa bangga dan juga resah, tersentuh dengan gerakan populisme atas nama agama dan identitas yang menyebar. Virus berbahaya yang kelak akan memecah bangsa. Bangsa yang menuju kegagalan, sempal dan tak berdaya.

Situasi tersebut sangatlah mengerikan. Indonesia wajib tetap kita jaga. Kita bagian dari Tanah Air dan Tanah Air ini bagian dari kehidupan kita: “ Di sanalah kita berdiri, jadi pandu Ibuku…”. Di sanalah kita berdiri dan tersenyum: di awal abad 21, di sebuah era yang mewajibkan kita sabar, tabah dan juga rendah hati terhadap sesama manusia dalam pergaulan dunia.

Sebuah era keren, kita saksikan ide dan gagasan besar diperjuangkan, namun ternyata tak mampu diwujudkan di bumi manusia. Sebuah abad yang penuh imajinasi dan harapan akan sebuah pencerahan baru. Yang terjadi justru sebaliknya, sebuah zaman yang meminta korban dan tumbal. Kita lihat abad sosialisme, yang hadir tapi tak terbukti mampu memberikan kesejahteraan kelas sosial.

Abad kapitalisme juga sama, makin memperburuk ketimpangan antar bangsa dan membuat yang lain ketinggalan dalam kemajuan. Kemudian abad Perang Dingin, yang terjadi juga benturan dan konflik yang berdarah-darah, dihiasi tank-tank baja dan senapan besi.

Sebuah abad yang diselimuti arus informasi yang terbuka sejagat raya, tetapi tak bisa mencipta sikap ramah, toleran terhadap yang beda. Yang terjadi juga kemarahan, kebencian dan prasangka. Sebuah amarah yang memuncak, siap bertempur demi sebuah martabat, identitas, ras dan agama. Inilah zaman yang kita tinggali kini. Zaman yang diramaikan dengan gebyarnya identitas manusia yang ditarungkan. Identitas yang dipuja dan puji, salah satunya adalah gelar habib, sebagai keturunan resmi Muhammad Sang Nabi. Marilah kita mulai ya.

Makna Sejati Habib

Habib Ali Al-Jufri pernah bertutur,” Ketika aku mendengar orang bicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka.”

Jika kita menelusuri sejarah gelar habib, sesungguhnya hanya diberikan oleh NU kepada individu terkemuka karena kemuliaan akhlaknya dan luasnya ilmu pengetahuan agamanya. Misalnya Habib Husain Alidrus Luar Batang, Habib Ali Al-Habsyi Kwitang, Habib Abubakar Asseggaf Gresik, Habib Muhammad Al-Muhdhar Bondowoso, Habib Saleh Al-Hamid Tanggul Jember.

Ada juga yang dipanggil Iyek (Sayyid) bahkan sebagian besar dipanggil namanya tanpa embel-embel dan perlakuan khusus. Kini setiap dzuriyah, alawi atau iyek dipanggi habib atau bahkan menyebut namanya dengan awalan habib. Pasca Orde Baru, beberapa habib memainkan diri dalam arena politik formal dan non formal via aksi-aksi serta terjun ke politik identitas yang ngeri.

Kaum Nahdliyyin misalnya tidak pernah goyah dalam bersikap karena NU sudah punya syarat terhadap individu yang pantas dipanggil habib yang patut dijadikan panutan yaitu dzuriyah Muhammad Sang Nabi. Habib berakhlak mulia dengan keluasan ilmu pengetahuan agama. Jika tidak memenuhi syarat di atas sebaiknya tinggalkan. Apalagi yang suka mencaki-maki dan memecah-belah bangsa.

Makna habib adalah sosok uang dikasihi dan mengasihi juga. Kita sebagai ummat Islam sudah dari awal cinta dan mencintai para habaib. Bangsa ini butuh tokoh agama yang mencerahkan, teduh dan mengayomi semua umat beragama. Tak lain tak bukan yaitu Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Sosok moralis, agamis dan nasionalis tentunya. Bangsa ini butuh kehadirannya dalam menggarungi samudra zaman yang penuh parahara, seperti kata John Gardner,” tak ada bangsa yang dapat mencapai kebesaran jika bangsa itu tidak percaya kepala sesuatu, dan jika tidak sesuatu yang dipercayainya itu memiliki dimensi-dimensi moral guna menopang peradaban besar”.

Peradaban besar itu bernama Indonesia, negeri kita. Ia menyampaikan dalam penganugerahan Honoris Causa di Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam bidang Komunikasi Dakwah dan Sejarah Kebangsaan (9/11/2024). “kemajuan bangsa Indonesia, kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi telah tumbuh, dibuktikan berdirinya Candi Borobudur dan Candi Prambanan oleh para leluhur yang berbeda dalam Kebhinekaan.

Dalam segi pertumbuhan ekonomi ditumbuhkan oleh situs-situs sejarah kerajaan—Sriwijaya, Majapahit, Pajajaran, Aceh, Demak, dan lainny, yang terlihat bahwa tidak mungkin hal itu jika tidak ditunjang oleh sarana ekonomi yang kuat, toleran yang sangat tinggi di antara satu sama yang lain. Maka tidak heran, bangsa ini banyak melahirkan tokoh-tokoh besar yang telah mengisi dan turut andil besar dalam kemerdekaan NKRI”. Demikian pidato Sang Maulana untuk semua anak bangsa.

Habib Luthfi, Kebanggaan Ummat

Jagat medsos saat ini diramaikan oleh penghinaan Maher At-Tuwailibi kepada Habib Lutfi bin Yahya. Menimbulkan reaksi keras dari para pecintanya di penjuru negeri termasuk kita semua. Kini sedang diusut tuntas secara hukum.

Ya, Maulana Habib Lutfi Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya. Tokoh agama yang senantiasa istiqomah membela bangsa dan ummat. Sosok negarawan yang mengayomi semua anak bangsa. Habib Luthfi bin Yahya dipercaya sebagai pemimpin thariqah, karena kealimannya yang selalu memberikan keteduhan dan keberkahan kepada Indonesia. Ia adalah kebanggaan bangsa.

Habib Lutfi banyak menerima gelar kehormatan level dunia misalnya dari The Royal Islamic Strategic Studies Centre (R1SSC), lembaga Islam yang bermarkas di Yordania, menobatkan 500 Muslim paling berpengaruh di dunia. Habib Luthfi bin Yahya dinobatkan sebagai tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia di posisi ke-37. Maulana juga sebagai pemimpin Forum Ulama Sufi Internasional (Muntada Sufi Al ‘Alami). Saat ini juga ia sebagai dipercaya Presiden Joko Widodo sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Hidupnya diabdikan untuk ummat dan negara-bangsa.

Kita semua memahami sejarah bangsa. Indonesia terdiri dari 17.000 pulau yang berjajar dari Barat sampai ke Timur adalah sumber kreatif yang tumbuh dalam Kebhinekaan, baik agama, budaya Bahasa dan suku. Dan jejak langkah Habib Lutfi dalam berbangsa dan bernegara sangat sesuai dengan Pancasila sebagai working ideology, sebagai working day. Ia membumikan Pancasila dalam kehidupan nyata.

Dalam buku Negara Paripurna (2015), menurut Yudi Latief, semangat solidaritas emosional dan kehendak untuk Bersatu masih kuat, namun karena kekeliruan manajemen kekuasaan, di beberapa titik bisa dijumpai retakan-retakan bangunan arsitektur kebangsaan Indonesia. Dan Pancasila sebagai warisan dari jenius Nusantara mampu menampung keragaman.

Pitutur Habib Luthfi bin Yahya senantiasa mengingatkan kita semua untuk mengamalkan Pancasila dalam keseharian terutama di kalangan milenial yang saat ini ditabrak dan direkrut oleh ideologi transnasional Khilafah dan lainnya. Wajah Islam moderatnya selalu menumbuhkan kenyamanan dan keteduhan semua anak bangsa. Hal ini mampu menghadang provokasi, ranjau-ranjau kebencian dan pecah belah di tengah masyarakat. Kemudian ia juga selalu mengingatkan para pendakwah Islam untuk menjaga persatuan dan ukhuwwah. Teladanilah Kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah dengan santun dan ramah. Jauhilah sikap kasar dan caci-maki, demikian sering disampaikannya

Habib Lutfhi adalah representasi Islam yang toleran, teduh dan mencerahkan di tengah kemajemukan bangsa. Tak ada rasa takut dan membahayakan yang dirasakan umat agama lain. Kita bisa melihat banyak pemeluk agama lain yang silaturrahim di kediamannya. Ia adalah cerminan sosok habib sejati yang luar biasa dalam sejarah baru Indonesia. Ia juga kebanggaan umat dan semua anak bangsa. Sekali lagi, itulah sosok Habib Lutfhi bin Yahya.

Habib Rizieq Shihab

HRS adalah pendiri Front Pembela Islam (FPI) yang ia deklarasikan pada 17 Agustus 1998 di Pondok Pesantren Al-Umm, Tangerang. Sejak itu Habib Rizieq menjabat Ketua Umum FPI hingga 2013. Dalam ceramah-ceramahnya ia selalu menimbulkan kegaduhan baik menyinggung pemeluk agama lain maupun terlibat dalam sentimen politik identitas di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Begitu juga pernah bermain politik di Pilpres tahun 2019. Bahkan ia pernah mencerca Pancasila.

Banyak kasus-kasus hukum yang melilit dirinya. Laporan Kompas.com menyebutkan dari tahun 2015 hingga 2017, Rizieq pernah tujuh kali dilaporkan ke Polisi. Ada dua kasus yang dihentikan penyidikannya dengan keluarnya surat penghentian penyidikan (SP3) dari Polri. Pertama, kasus chat WhatsApp berkonten pornografi atau chat mesum dengan seorang wanita bernama Firza Huzein. Kasus tersebut ditangani Polda Metro Jaya pada Mei 2017.

Pada Januari 2017, HRS juga dilaporkan Sukmawati Soekarnoputri karena dianggap melecehkan Pancasila. Kasus itu ditangani Polda Jawa Barat dan menjadikan HRS sebagai tersangka. Sementara itu, ada lima kasus yang berkaitan dengan HRS dengan posisinya sebagai terlapor. Kemudian kasus dugaan pelecehan terhadap budaya Sunda, yakni mengganti salam “sampurasun” menjadi “campur racun”. Kasus tersebut dilaporkan masyarakat Sunda melalui Angkatan Muda Siliwangi ke Polda Jawa Barat pada 24 November 2015. Ada kasus dugaan penguasaan tanah ilegal di daerah Megamendung, Bogor, yang dilaporkan ke Bareskrim Polri pada 19 Januari 2016.

Lalu kasus dugaan penodaan agama kristen yang dilaporkan Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP-PMKRI) pada 26 Desember 2016 ke Polda Metro Jaya. Terakhir, ceramah Rizieq Shihab soal pecahan uang rupiah Rp 100.000 yang disebut mirip lambang PKI, yakni palu arit. Kasus tersebut dilaporkan Jaringan Intelektual Muda Anti Fitnah (JIMAF) ke Polda Metro Jaya pada 8 Januari 2017. (Kompas.com 11/11/2024)

Apabila kita perhatikan, ceramah-ceramah HRS tak mencerminkan karakter seorang Muslim. Penuh dengan kebencian dan caci-maki layaknya Adolf Hitler pemimpin NAZI. Retorika yang ia bangun penuh dengan warna provokasi, amarah dan prasangka kepada liyan. Ia pernah menghina Gus Dur dengan sebutan buta mata dan buta hati. Motif ceramahnya sangat bernuansa permusuhan kepada Pemerintah yang sah, termasuk pasca kepulangannya.

Pilihan diksi-diksi kezaliman, kriminalisasi ulama dan hujatan-hujatan kepada pemeluk agama lain selalu menyasar kepada ‘musuh-musuhnya’. Dibalut dengan doktrin-doktrin agama, maka banyak ummat terhipnotis mendengarkan ceramahnya. Ia memilih sebuah skema atau pembelahan dunia berdasarkan oposisi biner; hitam dan putih. You jahat, ane baik, benar dan suci!.

Lihatlah ceramah-ceramahnya. Yang terakhir adalah saat acara Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW ia menyindir lonte dalam ceramahnya. Sangat tidak elok, tak berakhlak, tidak Islami sekali Rizieq Shihab!. Semestinya ummat diajarkan untuk mengamalkan kebaikan dan ajaran-ajaran suci Sang Nabi di forum mulia itu. Kan sangat menarik!

Apa lagi kiranya yang anda tahu tentang dirinya?

Sebuah Benturan

Kita tahu bahwa Bangsa Asia saat ini oleh Kishore Mahbubani dalam The Great Convergence, Asia, The West and The Logic of One World (2013) dikatakan memiliki takdir sejarah, yakni geografi, geography is destiny. Indonesia salah satunya yang ditakdirkan bernatur maritim, lautan, berbudaya bahari. Kekayaan alam, dari mulai hasil laut dan hasil darat, semuanya ada di bumi Nusantara, bahkan ragam seni budayanya. Kekayaan keragaman bangsa bagi saya mampu memberi landasan kehidupan yang rukun, harmonis dan saling menyempurnakan. Namun di tangan para demagog kerdil, kekayaan keragaman itu menjadi sumber pertikaian dan saling mengucilkan sesama anak bangsa.

Sangat beruntung sekali, bangsa ini memiliki Habib Lutfi yang senantiasa menjaga kedamaian dan keharmonisan warga. Berbeda dengan HRS. Ummat dihadapkan dua habib yang wajib kita pilih dan kita ikuti dalam kehidupan berbangsa. Karenanya jika kita salah memilah dan memilih, maka menjadi masalah di kemudian hari. Ummat harus diberikan penyadaran perihal dua sosok habib tersebut.

HRS sering dalam orasinya penuh dengan kegalauan, amarah, dan kekerasan yang merundung orang-orang beragama lain. Dalam sebuah buku yang merekam dengan peka dan menilik dengan dalam hiruk-pikuk dewasa ini, Pankaj Mishra menyebut masa ini dengan judulnya The Age of Anger (Zaman Kemarahan). Mishra tak membatasi kemarahan kolektif itu di dunia Islam tempat terorisme tumbuh.

Emosi amarah yang seperti api dalam sekam itu juga terdengar sebagai suara pelbagai kaum di pelbagai negeri. Tapi Indonesia hari-hari ini menyaksikan yang lebih khusus sesuatu yang tak dikenal tiga perempat abad yang lalu, dalam mimpi ramah para pendiri Republik: kebencian yang diteriakkan, permusuhan yang menghalalkan fitnah dan dusta, demagogi ala Rizieq Shihab. Ceramah Habib Lutfhi yang sejuk dan ramah menjadi mata air yang menyejukan ummat. Bisa disebarkan, ditularkan dan direplika dimana-mana. Begitu juga ceramah Rizieq Shihab yang sarat kemarahan dan prasangka identitas.

Di zaman kebencian, identitas adalah kepribadian yang dapat dipertukarkan, disebarluaskan di desa dan kota. Ia bisa direplikasi dari belahan dunia manapun. Kemarahan massa menjadi alarm. Muncullah para elit demagog yang memanipulasi emosi massa ini dengan cara membangkit massa menjadi ngawur dan anarkis. Saat-saat seperti itu yang perlu kita waspadai. Kehadiran Habib Luthfi menjadi solusi dari masalah ujaran kebencian dan provokasi di negeri ini. Dampaknya adalah Habib Luthfi berbenturan dengan HRS dari hari ke hari. Apalagi di tengah ramainya habib-habib yang muncul dalam dakwah baik di tengah masyarakat maupun di medsos. Mereka tidak meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.

Ummat seringkali menyaksikan habib yang tampil, berdakwah tapi isinya mencaci, menghujat, dan mencerca pemeluk agama lain dan perempuan. Hal ini bisa menimbulkan benturan sosial yang tajam di tengah masyarakat.

Sebutan habib adalah gelar untuk keturunan Nabi. Hak istimewa (Privilege), keren, dan terhormat juga harus dibarengi dalam tutur dan laku. Bukan hanya status diri tapi juga jadi beban berat untuk mewujudkan akhlak Nabi. Habib Lutfhi sudah melakukan yang terbaik, meneduhkan ummat dan menjaga damai. Beda sekali dengan HRS dengan sepak terjang kekerasan FPI-nya.

Jejak-jejak HRS dimana-mana selalu diwarnai ucapan-ucapan yang kasar, penuh makian, dan kemarahan. Moralitas seperti ini yang takkan pernah dilakukan Habib Luthfi, karena ia adalah pewaris Nabi sesungguhnya, ulama kita. Hati-hati dan jangan ditiru ya netizen.

Ummat Islam dan semua anak bangsa kiranya bisa memberikan penilaian siapakah Habib yang punya jiwa nasionalis, ramah dan teduh. Bukan habib yang sering mencaci-maki, menghujat, terlibat banyak kasus dan cenderung memecah belah anak bangsa.

Dimana posisi sahabat dan sahabat berdiri di antara kedua sosok tersebut? Antara Habib Luthfi dan HRS. Sekali lagi umat Islam harus memilah dan memilih. Pilihlah dengan akal sehat dan waras, sosok habib yang penuh cinta, ramah dan menyebarkan berkah. Tak lain adalah Habib Lutfhi bin Yahya. Pilihan kita adalah sebuah eksistensi dan jati diri bangsa.

Akhirul Kalam

Hal di atas menjadi perbandingan dan sebuah pertanggungjawaban. Tentang bagaimana umat harus ikut kepada orang yang tepat, alim dan ramah. Marilah kita takzim kepada piwulang Habib Umar bin Hafidz: “Tidak ada satu pun dzuriyyah Nabi baik dari Sayyidina Hasan maupun Sayyidina Husain yang berdakwah dengan mencaci maki,”dawuh keren, pamungkas dari Habib Umar bin Hafidz yang wajib kita amalkan, meniti hari demi hari di era pandemi.

Yuk tetap jaga persatuan bangsa dan harmoni negeri yang akhir-akhir ini kembali dikoyak-koyak oleh pemecah belah dari kaum kadrun. Negeri ini adalah untuk semua golongan, bukan milik satu golongan, seperti kata Bung Karno Sang pendiri bangsa. Maka saat ini, kita sama-sama tegaskan kembali Indonesia sebagai cita-cita yang belum selesai. Maka hari kita berseru, agar bangun jiwa Indonesia, bangun badannya, dalam berbeda dan bersatu!.

Tentunya berdiri tegak dan tersenyum bersama dengan Habib Luthfi dzuriyyah sejati Sang Rasul. Bukan ikut orang yang merasa ma’sum, berhak memonopoli kebenaran dan menganggap diri Imam besar yang maha benar.

Ya Allah, bersihkan hati kami dari kebencian dan terangilah hati kami dengan cahaya cinta.
Ya Allah, sadarkan, cerahkan, dan murnikan hati kami karena Engkau yang memiliki kekuatan atas segala hal.

Demikian semoga manfaat untuk semua anak bangsa. Mantap!

Di depan secangkir kopi, kita adalah sama.
Apalagi di depan Tuhan Yang Kuasa, kecuali ketakwaan.

Salam Ngopi!

Shollu alannabiy.