Lonte pun Masuk Surga

0
28
WhatsApp
Twitter

Habib Rizieq Syihab (HRS) menggunakan kata ‘lonte’ untuk menyebut seseorang yang menghinanya akhir-akhir ini. Kata itu disampaikan dan diulang-ulangnya dalam acara peringatan Maulid Nabi di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Sabtu (15/11) lalu. Lantas, potongan ceramah HRS itu viral dan menggegerkan warganet.

Banyak orang menyayangkan ucapan HRS dalam acara Maulid Nabi tersebut, karena yang seharusnya disampaikan adalah narasi damai nan menyejukkan, bukan kata tidak elok yang justru terlontar di depan jamaahnya. Apalagi, HRS memiliki banyak pengikut dan menjadi panutan sejumlah kaum Muslim yang pada hakikatnya memikul tanggung jawab yang lebih besar.

Padahal, jika menengok akhlak Nabi Muhammad SAW ketika dihina di depan muka oleh non-Muslim, beliau tidak membalas hinaan, tetapi diam dan malah mendoakan orang tersebut agar diberi petunjuk. Hal ini tak lain karena Nabi SAW ingin memberi ruang kepada orang-orang tersebut untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya. Betapa kasih sayang Nabi SAW kepada umat manusia begitu besar.

Bahkan, sekelas pencuri dan pelacur (lonte) sekalipun dapat masuk surga berkat perilakunya yang tidak mensyirikkan Allah sampai ia meninggal. Namun, bukan berarti perilaku mencuri dan berzina dibolehkan. Sebaliknya, perilaku tersebut dilarang karena merupakan perilaku tercela.

Diceritakan dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, Jibril mendatangiku lalu memberikan kabar gembira kepadaku, bahwa orang yang meninggal dari umatmu dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuaru apapun niscaya masuk surga. Maka aku (Abu Dzar) bertanya, “meskipun dia berzina dan mencuri?” Nabi SAW menjawab, walaupun dia berzina dan mencuri. [HR Muslim No. 137]

Hadis ini menunjukkan kebesaran rahmat Tuhan kepada seluruh manusia di muka bumi, tanpa terkecuali. Maka dari itu, tidak seharusnya kita menghina atau merendahkan orang lain, karena kita tidak tahu, amalan mana yang akan mengantarkan kita kepada surga atau nerakanya. Begitupun orang yang melakukan maksiat, kita tidak tahu amal atau perilaku apa yang ia kerjakan, sehingga besar kemungkinan ia lebih baik daripada kita.

Dalam hal kecil sekalipun, yakni memberi minum seekor anjing yang kehausan, seorang pelacur (pelaku maksiat) dapat mendapatkan ampunan dari Tuhan. Sebagaimana tertuang dalam hadis shahih yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam kitab Shahih Bukhari berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh SAW bersabda, seorang wanita pezina telah mendapatkan ampunan. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dipinggir sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan, (melihat ini) si wanita pelacur itu melepas sepatunya lalu mengikatnya dengan penutup kepalanya, lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Sebab perbuatannya itu, dia mendapatkan ampunan dari Allâh Azza wa Jalla.

Hadis tersebut membuktikan bahwa siapa saja mendapatkan peluang untuk mendapatkan maghfirah (ampunan)-Nya. Tak terkecuali seorang pelaku maksiat. Setidaknya, inilah yang seharusnya disampaikan dalam Maulid Nabi agar setiap orang tidak berburuk sangka dan tidak mencemooh orang lain karena maksiat yang diperbuatnya.

Lebih lanjut, dalam kitab Umdatu al-Qari fi syarhi shahih al-Bukhari dijelaskan, bahwa faidah hadis di atas adalah diterimanya amal seorang pelaku dosa besar asalkan dia seorang Muslim dan Allah mungkin saja mengampuni dosa besar dengan amal kecil sebagai keutamaan.

Hikmah lainnya adalah larangan untuk menghakimi orang-orang yang berbuat dosa sebagai ahli neraka, karena bisa jadi orang yang berbuat maksiat atau pendosa itu di akhir hayatnya justru melakukan amal saleh atau amal ahli surga serta seluruh dosanya diampuni Allah SWT.

Di sisi lain, kritik dari berbagai pihak juga bertubi-tubi menimpa HRS saat ‘ceramah lonte’ di Maulid Nabi. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid menyesalkan ceramah HRS yang menyebut ‘lonte’ pada Senin (16/11). Dilansir dari radarbanyumas.co.id, ia mengatakan, “seharusnya di acara Maulid Nabi, setiap ulama memberikan contoh yang baik, karena akhlak Rasulullah SAW menghormati dan memuliakan orang lain, meskipun orang itu berbeda keyakinan, atau bahkan menghina, merendahkan, dan memusuhinya.”

Bahkan, Rabithah Alawiyah, wadah Habaib se-Indonesia menilai kata itu tidak pantas diucapkan HRS. “Tentu perkataan yang disampaikan itu tidak elok, apalagi dalam forum seperti itu”, kata Divisi Humas Rabithah Alawiyah dalam keterangannya kepada wartawan detik,com pada Senin (16/11) lalu.

Oleh karena itu, sebagai seorang tokoh agama dan panutan banyak orang, HRS seharusnya berbicara sesuai norma yang baik. Terlebih lagi, dalam forum keagamaan. Sebagai seorang manusia sudah tentu kita bisa keliru dalam hal apapun, hal ini yang kemudian mengharuskan kita untuk saling mengingatkan, bukan menghakimi dan mencaci maki.

Dengan demikian, ucapan HRS yang mengatakan “ada lonte hina habib, ada lonte ikut-ikutan ngomong” itu tidak pantas disampaikan kepada khalayak, apalagi di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena pada dasarnya, ketika seorang lonte melakukan amal shaleh, ia pun bisa masuk surga.