Nikita Mirzani vs Rizieq Syihab, Siapa Lebih Nasionalis?

0
0
WhatsApp
Twitter

Kosa kata “lonte” akhir-akhir ini menjadi buah bibir nasional. Lonte yang notabene adalah kata lain dari “wanita jalang” menjadi topik hangat yang dibincangkan oleh banyak kalangan baik di media sosial, maupun di warung-warung kopi se-seantero negeri. Hal ini bermula, tidak lain karena cuitan dari Nikita Mirzani dalam akun twitternya yang menyebutkan jika Habib adalah tukang obat. Yang mana, cuitannya itu berbarengan dengan kepulangan dari Rizieq Shihab. Sontak, cuitan Nikita menjadi percikan kemarahan para pendukung Rizieq Shihab, salah satunya Maaher at-Thuwailibi. Maher membalas cuitan Nikita dengan menyebut Nikita sebagai lonte, dan diikuti oleh Rizieq Syihab dalam ceramahnya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (14/11/2024).

Dan ternyata, perseteruan antara Nikita Mirzani dan Rizieq Syihab menjadi pergulatan tidak hanya melibatkan keduanya, tetapi juga masyarakat Indonesia, khususnya netizen. Netizen dewasa ini, seakan terbagi menjadi dua golongan: golongan Nikita Mirzani dan golongan Rizieq Syihab. Menyaksikan keduanya yang sangat mahir dalam menggait massa, menjadikan saya teringat pada Adam Smith.

Filsuf terkemuka itu pernah mengatakan, “suatu gerakan ideologis dalam meraih dan memelihara otonomi, kohesi, dan individuality bagi satu kelompok sosial tertentu, sehingga dapat diakui oleh beberapa anggotanya”, hal demikian yang menurut Adam Smith disebut sebagai nasionalisme. Keduanya, secara tidak langsung telah mendorong dalam penyadaran pentingnya kesadaran kebangsaan bagi kita. Dari keduanya pula, kita disadarkan jika kebangsaan kita sedang dalam keadaan yang gonjang-ganjing. Jadi, jika ditilik dari teori kebangsaan, siapa lebih nasionalis antara Nikita Mirazani dan Rizieq Syihab?

Baik Nikita Mirzani, maupun Rizieq Syihab, keduanya adalah publik figur yang tidak terlepas dari balutan kotroversi. Yang membedakannya hanya latar belakang mereka. Namun yang menjadi perhatian, dalam sejarahnya, kebangsaan kita tidak pernah membeda-bedakan latar belakang personal, maupun kelompok. Asal memiliki, meminjam istilah Benedict Anderson, perasaan menjadi satu-kesatuan, walau tanpa pernah berjumpa sekali pun, maka disebut nasionalis. Itu pun jelas, dengan syarat nasionalisme yang menjunjung tinggi persatuan, keharmonisan, dan tidak merugikan roda kebangsaan dan kenegaraan kita.

Nikita Mirzani dan Rizieq Syihab, keduanya adalah masyarakat Indonesia. Dan pastinya, tanpa kasatmata adalah nasionalis. Namun, bukan berarti secara teori dapat dibenarkan. Apalagi, keduanya merupakan figur yang kerap kali tersandung dalam kasus-kasus pidana. Seperti Rizieq Syihab misalnya, sebagaimana dilansir Kompas.com, (11/11/2024) dengan judul Deretan Kasus yang Menyeret Rizieq Syihab, Penodaan Agama hingga Chat Mesum. Kompas menyebutkan beberapa kasus yang menyeret Rizieq Syihab, diantaranya adalah dugaan pelecehan terhadap budaya Sunda (2015), pelecehan terhadap Pancasila (2017), penodaan agama kristen (2016), kasus chat WhatsApp berkonten pornografi bersama Firza Husein (2017), dan beberapa lainnya.

Pun demikian dengan Nikita Mirzani, sebagaimana dilansir Kompas.com (16/11/2024) dengan judul Ini Deretan Kasus Nikita Mirzani, Artis yang Terancam Dilaporkan atas Ujaran Kebencian kepada Ulama. Diantaranya adalah dugaan penghinaan terhadap mantan Panglima TNI Gatot Normantyo (2018), pencemaran nama baik (2019), penganiayaan kepada mantan suaminya (2018), dan terbaru, dugaan pelecehan nama baik Rizieq Syihab (2020). Namun, sejauh yang saya amati dari kasus keduanya dalam perpektif kebangsaan. Jelas, dapat kita bedakan secara kasatmata. Jika kasus yang menjerat Nikita Mirzani, hanya kasus-kasus yang dalam ruang lingkup personal. Dalam artian, tidak mengganggu eksistensi kebangsaan kita atau hajat orang banyak.

Berbeda halnya dengan Rizieq Syihab, seperti kasus pelecehannya terhadap Pancasila dan budaya Sunda misalnya. Walau, kasus keduanya belum sampai pada ranah meja hijau, tetapi jelas, delik demikian tidak hanya mengundang perpecahan, tetapi juga mencidrai identitas kebangsaan kita, bahkan dapat menjadi percikan terhadap integritas bangsa. Padahal, kebangsaan kita mengamanatkan untuk menjaga dan melestarikan keberagaman, keharmonisan, dan persaudaraan antar-sesama, bukan malah memecah belah perbedaan.

Karena itu, dari sekian kasus-kasus yang menyeret keduanya. Kita dapat melihat secara jelas dan cerdas dalam perspektif kebangsaan, siapa yang lebih nasionalis dari keduanya. Nikita Mirzani atau Rizieq Syihab? Meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer, “berbuatlah adil sejak dalam pikiran.”