Sepulangnya Muhammad Rizieq Syihab ke Indonesia pada Selasa (10/11/2024), ia langsung menggaungkan mengenai “Revolusi Akhlak”. Kemudian, pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (14/11/2024), di Petamburan, Jakarta Pusat, ia mengumumkan bahwa akan melakukan safari keliling Indonesia untuk bersilaturahim dengan tokoh umat Islam dan menggelar tablig akbar untuk mensosialisasikan “Revolusi Akhlak”. Rizieq pun meminta agar tidak ada pihak yang menghalanginya, serta menghimbau jamaahnya untuk menjaga agenda tersebut.
Di tengah pandemi ini, dengan membuat kerumunan yang begitu besar, mulai dari kepulangannya ke Indonesia, dan kegiatan Maulid Nabi, serta mengindahkan protokol kesehatan, tidak lebih hanya agenda politik belaka. Lantas, apa yang sebenarnya diperjuangkan? Merevolusi akhlak atau merebut kekuasaan?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, kembali pada ingatan kita beberapa tahun yang lalu, mengingat situasi masyarakat Indonesia yang terpecah belah akibat munculnya narasi-narasi provokasi, yang dibalut dengan agama. Aksi yang dilakukan sampai berjilid-jilid tersebut, isinya hanya membahas perihal politik. Terbukti, pada 2019, ketika Prabowo Subianto kalah dalam pilpres, Rizieq menyerukan mengenai “People Power” sebagai bentuk penolakannya terhadap kemenangan Joko Widodo dalam pilpres 2019.
Adanya reuni Aksi 212 yang telah diagendakan oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212 pada tanggal 2 Desember di Monas, Jakarta Pusat, menunjukkan bahwa Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Rizieq, hanya mementingkan nafsu politik dan sia-sia. Jika tetap diselenggarakan di tengah pandemi ini, tidak ada manfaatnya, yang ada hanya menimbulkan mudharat yang besar. Dengan begitu, dapat dikatakan jika Reuni 212 merupakan suatu gerakan politik.
Sebagaimana prediksi yang disampaikan oleh mantan pengacara Rizieq, Kapitra Ampera bahwa kegaduhan demi kegaduhan ini, terus berlanjut sampai ada perebutan kekuasan, kegaduhan itu diciptakan dengan berbagai macam cara, dari mulai menebar kebencian di media sosial, hingga secara terang-terangan menghujat dan menghasut di depan umum. Oleh karena itu, rakyat diminta untuk waspada, serta menolak dipengaruhi oleh kelompok-kelompok yang memiliki hasrat merebut kekuasaan yang sah, dengan ambisi nafsu kekuasaan yang dimilikinya tersebut, seperti tak lagi peduli dengan situasi yang sedang dialami oleh bangsa.
Meminjam kalimat Niccolo Machiavelli mengenai meraih kekuasaan, justify aliquo modo in potential consequi, yang berarti bahwa menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan. Dalam arti ini, filsafat politiknya memberikan jalan bahwa segala cara dapat dilakukan. Sepanjang perjalananya, FPI dan kawan-kawan, alih-alih terus berpayung dengan alasan tidak ingin menceburkan diri ke politik, tetapi malah melakukan segala cara untuk gerakan-gerakan politik.
Hal ini telah terbukti, dengan aksi-aksi yang dilakukannya tersebut, menimbulkan perpecahan yang merusak persaudaraan di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, ucapan yang dikeluarkannya saja, selalu memunculkan kontroversi karena terdapat unsur penghinaan, seperti ucapannya yang memplesetkan kata salam suku Sunda, yang seharusnya “Sampurasun”, ia ganti menjadi “campur racun”, kemudian, ia juga pernah mengatakan bahwa Pancasila Soekarno Ketuhanan ada di pantat, dan masih banyak lagi sederet ucapannya yang menghina ulama, agama dan suku, serta aparat negara.
Dengan demikian, kita harus membuka mata selebar-lebarnya, melihat situasi bangsa kita yang mudah sekali terpecah belah karena ulah kelompok yang mengatasnamakan perjuangannya adalah perjuangan agama. Padahal, agama apapun tidak membenarkan umatnya menghina, dan merendahkan siapapun, tanpa terkecuali. Maka dari itu, perlu kita pertanyakan, sebenarnya apa yang mereka perjuangkan? Menyerukan jargon revolusi akhlak, namun akhlaknya tidak mencerminkan akhlak Nabi Muhammad SAW. Jangan-jangan, seruan revolusi akhlak ini hanya ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia, baik itu pejabat, karyawan, petani, sampai masyarakat yang berada diujung Indonesia, kecuali dirinya.
Pada akhirnya, kita tahu bahwa revolusi akhlak hanya sekadar mengejar kekuasaan, yang berdampak pada pluralisme, toleransi, dan rasa persatuan, serta persaudaraan bangsa kita.