Mendoakan Orang Lain Berumur Pendek, Contoh Serius Krisis Akhlak

0
0
WhatsApp
Twitter

Beredar sebuah video, Habib Idrus Jamalullail dalam sesi testimoni mendoakan Rizieq Syihab agar panjang umur. Namun di satu sisi, ia mengumpat agar Presiden Joko Widodo dan Megawati berumur pendek. Ini contoh krisis akhlak yang serius. Sangat disayangkan mengingat pelakunya seorang habib yang turut berkoar ingin melakukan gerakan revolusi akhlak.

Perlu diingat, adab dalam berdoa yang dilarang bagi umat Muslim adalah berdoa agar dicelakakan oleh Allah SWT. Sebab permohonan atau mengamalkan hal tersebut, ditengarai bertententangan dengan ajaran Islam. Di antara larangan dalam berdoa, seperti yang disebutkan Tengku Muhammad Hasby Ash-Shidieq, yakni memohon kepada selain Allah SWT, berdoa kematian, berdoa minta penyiksaan di dunia atau akhirat, dan berdoa kejelekan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain yang kiranya merugikan (Pedoman Zikir dan Doa: 2000). Larangan-larangan ini dapat menjelaskan mengapa agama Islam disebut wajah peradaban. Padahal, tradisi jahiliah telah mengakar kuat di zaman pra-Islam.

Islam dalam ajarannya sangat menekankan agar umatnya bertutur kata dengan baik. Setiap mendengar kisah tentang Rasulullah SAW, tentu kita akan mendapati diri beliau sebagai sosok yang bisa menjadi teladan dalam segala hal. Akhlak adalah warisan penting bagi umat Islam dari Rasulullah SAW yang harus ditradisikan dan diamalkan dalam setiap harinya. Karena itu, tak ada alasan untuk berucap buruk meski ungkapan itu ditunjukkan kepada seorang yang tidak disenangi atau dibenci. Ucapan buruk harus dihindari dan ucapan damai karus disebarkan seluas-luasnya.

Kemudian terkait mendoakan orang lain berumur pendek merupakan salah satu tradisi buruk Arab jahiliah. Sebagaimana terangkum dalam buku Sejarah Arab Sebelum Islam karya Jawwad Ali (2019), bahwa orang Arab jahiliah terbiasa mendoakan keburukan bagi para musuh, pendengki, dan tsuqala’ (orang yang tidak memiliki teman dan pembuat kedongkolan). Dengan ini, mereka tak segan berucap, seperti semoga Tuhan menistakan nasibnya, semoga Tuhan membenamkan si fulan kelembah kemiskinan, dan doa apapun yang mengandung unsur umpatan-umpatan.

Oleh Rasulullah SAW yang berakhlak mulia, kebiasaan buruk ini ditinggalkan dan mengubahnya dengan perkataan yang lebih baik. Tujuan beliau adalah tidak lain agar orang yang dalam kekeliruan tersebut dapat dikembalikan kesadarannya untuk berbuat baik, hatta lebih bermanfaat untuk banyak orang, paling tidak merugikan orang lain. Jadi jika dahulu orang Arab jahiliah berdoa umpatan dinilai hal biasa sebab sudah tradisi, maka setelah Rasulullah SAW hadir tradisi keburukan itu pandang tabu, yang mana harus dimusnahkan.

Betapapun pentingnya ilmu, tak ada artinya tanpa pengamalan akhlak, apalagi hanya mengandalkan keturunan Nabi SAW. Hal ini juga yang menyebabkan, suatu peradaban menjadi sulit maju sebab banyaknya orang yang mengalami krisis akhlak. Bukankah Rasulullah bersabda dalam hadisnya yang shahih, Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik (HR. Ahmad: 2/381). Dari sini kita dapat melihat, beliau tidak mengatakan sebagai satu-satunya pembawa yang akhlak baik, tetapi sebagai penyempurna. Itu artinya tidak semua tradisi budaya Arab itu buruk dan telah ada sebelumnya pembawa akhlak baik, seperti para Nabi sebelumnya.

Ada beberapa tradisi baik orang Arab jahiliah dan Rasulullah SAW ikut melestarikannya. Misalnya, berjabat tangan dengan tangan kanan atau kedua tangan. Kemudian mengucap salam, hayyaka Allah (semoga Tuhan senantiasa melindungimu) dan umpama menyapa di waktu pagi, an’amu shabahan (semoga pagimu menyenangkan). Demikian Islam menguatkan ajaran sebelumnya, dengan bersikap baik dan ramah terhadap sesama manusia, sehingga memberi kesan kerahmatan dan seseorang bisa tertarik hatinya pada agama Islam.

Krisis akhlak memiliki dampak buruk yang tidak sederhana, apalagi yang bersangkutan adalah orang yang memiliki banyak pengikut atau mengajar di suatu majelis. Jika seorang gurunya saja berani mendoakan buruk terhadap orang lain di tengah-tengah jemaahnya, maka muridnya akan lebih mencerca dari ucapan gurunya. Ibarat kata pepatah, guru kencing berdiri dan murid kencing berlari. Sebab itu, seorang guru yang melegalkan cercaan kepada orang yang tidak disenangi akan memicu krisis akhlak, seperti ketidakjujuran, minimnya sopan santun, hilangnya rasa hormat, penggunaan bahasa yang kasar dan sebagainya.

Persoalan krisis akhlak ini menjadi lebih rumit akibat melibatkan lingkup sosial dan media sosial. Oleh karena itu, butuh kerja sama dari berbagai pihak lapisan masyarakat untuk menjadi bangsa yang berbudi pekerti, utamanya publik figur, para pendidik atau seorang yang menjadi bagian pusat sentral masyarakat. Demi menghindari terpecah belahnya persatuan bangsa dan pembodohan massal sebab mengembalikan tradisi jahiliah.

Maka dari itu, umat Islam yang paling mengenal Rasulullah SAW hendaknya mengamalkan akhlak-akhlak beliau. Terlebih mereka yang merasa keturunan Nabi, para habib, buktikan dengan memberi contoh yang mencerminan kemuliaan akhlak beliau, yakni tidak berlaku keras lagi kasar, gemar menyemai cinta dan kedamaian di muka bumi. Walhasil, kita harus istiqamah mengamalkan akhlak Nabi, di antaranya dengan mendoakan orang lain agar selamat dan hidup penuh keberkahan, bukan justru mendokan orang lain dengan kata-kata yang tidak pantas. Apalagi mendokan para pemimpin negeri yang telah berjasa bagi negeri ini.