Beredar video, kesakralan, kekhusukan, dan kerinduan umat Islam terhadap Baginda Nabi Muhammad SAW. dengan apa yang disebut sebagai Peringatan Maulid Nabi, dinodai oleh Rizieq Shihab dan pengikutnya. Wajah Rasulullah SAW. seketika dihinakan oleh mereka-mereka, ketika peringatan Maulid Nabi yang agung itu, diisi dengan merendahkan perempuan dan doa-doa yang tak patut terlontar dari lisan seorang pemuka agama. Rizieq Shihab menyebut “Lonte” berkali-kali yang diduga adalah Nikita Mirzani dalam ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW. pada Sabtu malam (14/11/2024) di Markas Front Pembela Islam (FPI), Petamburan, Jakarta.
Selain menghina perempuan, Rizieq Shihab juga menghina institusi kepolisian. Acara Maulid Nabi yang suci itupun diwarnai doa Idrus Jamalullail. Ia meminta waktu hanya satu menit saja untuk berbicara di hadapan peserta Maulid Nabi, dan dimanfaatkan untuk mendoakan Rizieq Shihab berumur panjang, Megawati dan Jokowi berumur pendek dengan melantunkan Fatihah.
Sebutan Lonte, PSK, pelacur atau apapun tidak akan mengandung nilai apapun untuk diucapkan. Hanya saja, kata itu keluar di mimbar Maulid Nabi yang seharusnya memuat bagaimana kita sebagai umatnya belajar meneladani kisah-kisah Nabi, dari mulai kelahirannya, perangainya, dan keteladanan heroik Nabi itu. Maka penilaiannya akan berbeda, mereka telah menodai keagungan Maulid Nabi. Terlebih penghinaan itu ditujukan kepada seorang perempuan, meski tidak menyebutkannya secara eksplisit.
Padahal kita tahu bahwa tidak ada yang berhak menilai seseorang itu hina atau tidak, kafir atau Muslim, beriman atau tidak, lonte atau bukan. Bahkan lonte hina pun meninggal dan masuk ke surga Allah SWT. hanya karena ia menolong seekor anjing yang tengah dehidrasi di tengah teriknya panas matahari yang menyengat. Lupakah pengikut Rizieq Shihab akan peristiwa spektakuler penuh rasa haru yang dikisahkan Nabi sendiri ini?
Mimbar yang semestinya menyanjung kebesaran baginda Nabi, mendorong pada kebaikan, ketakwaan, dan kotribusi besar kepada perkembangan dan kemajuan bangsa. Ternoda oleh pernyataan-pernyataan yang menyinggung, mengandung unsur kebencian dari mulut-mulut kotor pengkhotbah agama yang menghinakan perempuan, tak patut dijadikan panutan. Bukan hati mereka yang berbicara, melainkan hawa nafsu dari setan yang menghasut untuk menghina perempuan, dan juga mencoreng wajah Nabi kita semua umat Islam.
Seharusnya mereka sadar sepenuhnya, bahwa berdiri di mimbar Maulid Nabi merupakan tanggung jawab yang amat besar. Tubuhnya bergetar dan terguncang ketika merenungi amanat keteladanan akhlak baginda Nabi. Mulutnya bicara tentang prasangka baik, penuh belas kasih, peduli, dan bersedia memaafkan siapa saja yang bersalah. Penuhi kebersihan hati para jamaah Maulid Nabi dengan riwayat-hikmah kegemilangan Nabi dalam mengangkat derajat perempuan pada konsep kesetaraan derajat dengan kaum lelaki.
Sebaliknya, kita menyaksikan ironi penghinaan terhadap perempuan itu dalam sebuah video yang tersebar di banyak media. Perempuan yang tidak bermanfaat, perempuan dianggap sebagai aib, dan hanya sebagai sapi perah kaum lelaki perkasa serta diperdagangkan—diperjual-belikan, tawar-menawar—pada zaman Pra-Islam. Nabi telah membebaskan dengan misi akhlak mulianya, dan kini dihinakan lagi oleh Rizieq Shihab beserta pengikut yang mendewakannya. Mereka tidak sadar bahwa yang melahirkan mereka adalah juga seorang perempuan. Di mana Nabi menyebutkan yang harus dimuliakan adalah Ibu sampai tiga kali pengucapan, barulah Ayah.
Dalam al-Quran sendiri setidaknya ada delapan surat yang memuliakan kaum Hawa. Islam benar-benar menempatkan wanita begitu terhormat. Perannya dalam mendidik anak-anak juga menjaga keluarga, merupakan tanggung jawab yang dibebankan oleh seorang perempuan dan kelak dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Tak heran bila Sayyidina Umar bin Khattab berkata bahwa seorang perempuan tidak berharga dan tidak ada gunanya sampai ajaran Islam datang, hingga Nabi mengangkat perempuan sederajat dengan laki-laki.
Ucapan yang tidak pantas saat momen sakral di mimbar Maulid Nabi Muhammad SAW. telah menistakan Nabi dan Umat Islam secara keseluruhan. Mereka mengajarkan sesuatu yang buruk sekali pada generasi mendatang. Kelak, anak-anak kita ada yang merendahkan wanita lain dengan sebutan lonte dan sejenis, lalu mendoakan keburukan bagi orang lain, adalah buah dari pendakwah agama yang tak patut dijadikan teladan, berbicara seenaknya di mimbar Nabi, sebagaimana di atas.
Menanggapi fenomena itu, Habib Ali Al-Jufri, Dar al-Faqih Uni Emirates Arab, dalam buku Humanity Before Religiosity (2019), ia mengatakan, “Sahabat-sahabatku, para pendakwah, Saudara-saudaraku. Saya memohon kepadamu, demi Allah, janganlah jadikan mimbar Rasulullah SAW. sebagai panggung politikmu sehingga Anda membuatnya kehilangan semua kredibilitasnya. Biarkan mimbar Rasulullah SAW. menjadi sebuah tempat di mana ajaran-ajaran mulianya diperjelas.”
Habib Ali Al-Jufri menambahkan, “Mari kita bahas mengenai pentingnya menunjukkan akhlak yang baik; mari kita bangkitkan kesadaran masyarakat akan prinsip-prinsip dan etika-etika dari Syariah Allah ketika menangani perbedaan pendapat; mari kita bicara tentang nilai-nilai kejujuran dan fakta bahwa kita bertanggung jawab atas semua yang kita katakan,” (Habib Ali Al-Jufri, 2020: 72).
Tidakkah mereka takut akan pertanggungjawaban kelak di akhirat setelah merendahkan perempuan? Sungguh ironi, melihat realita seorang yang begitu dikultuskan oleh para pengikutnya mengucapkan hal-hal yang tidak bermoral dengan menghinakan seorang perempuan. Apalagi dalam acara yang selayaknya memuliakan baginda Nabi Muhammad SAW.
Terbukti, Revolusi Akhlak yang kelompok fundamentalis Islamis ini gaungkan, hanya sebatas jargon politis. Ternyata ajang perkumpulan yang luhur itu, hanya sekadar panggung kata-kata penghinaan terhadap kaum perempuan. Tidakkah mereka semua merasa, sosok perempuan yang telah mereka rendahkan, secara tidak langsung juga merendahkan seorang yang telah melahirkannya di dunia ini? Saya hanya berharap, tidak ada lagi pemuka agama yang merendahkan perempuan yang seharusnya kita hormati bersama. Sebagai Muslim, tidak boleh kita menghina yang bahkan ditujukan kepada orang yang hina.
Harus disadari dan dipahami secara seksama, saat ini kita sedang berada pada era post-truth, di mana kebohongan (hoaks) dianggap sebuah kebenaran, kejahatan dianggap sebagai kebaikan; caci-maki dianggap berpahala; menebar kebencian adalah bentuk jihad mendatangkan pahala; menghina dianggap sebagai kritik dan seterusnya. Membenarkan penghinaan terhadap perempuan di panggung Maulid Nabi, dianggap sebuah hal yang wajar dan dibenarkan, adalah kejahatan seorang Muslim tak bermoral terhadap Nabi. Tidak boleh didiamkan dan harus diingatkan.
Kita semua berharap jangan ada lagi ajang suka cita kelahiran baginda Nabi, dinodai hal-hal semacam itu, seolah-olah Allah mendukung kata-kata yang terucap, bahkan tidak pernah terlontar dari ucapan panutan kita semua Nabi Muhammad SAW. Selain menghina perempuan yang secara tidak langsung juga menghinakan sosok ibu, mereka juga telah menghinakan Nabi di bulan dan peringatan kelahiran beliau. Naudzubillah min dzalik.