Soekarno mengakui bahwa dirinya bukan Ateis, percaya pada mistik dan pada Tuhan. Mengaku berpaham kebangsaan, namun juga mengaku seorang sosialis dan Marxis, karena gagasan dan tindakannya banyak dipengaruhi oleh Marxisme. Soekarno mengenal Marxis dan Karl Marx dari seorang guru HBS yang berhaluan sosial-demokrat bernama C. Hourtgh. Soekarno juga mengangap Alimin dan Muso sebagai guru politik yang ia hormati.
“Kusebut Pak Alimin dan Pak Muso. Kedua-duanya sering bertindak sebagai guruku dalam politik ketika aku tinggal di rumah Pak Tjokro. Orang Jawa mempunyai suatu pribahasa, ‘Gurumu harus dihormati, bahkan lebih dari orangtuamu sendiri.’ Dia adalah seorang guruku di masa mudaku. Aku berterima kasih kepadanya atas segala yang baik yang telah diberikannya kepadaku. Aku berhutang budi kepadanya. Yang sama beratnya untuk dilupakan ialah kenyataan, bahwa dia adalah salah seorang perintis kemerdekaan. Seseorang yang berjuang untuk pembebasan Tanah Airnya, berhak mendapatkan penghargaan dari rakyatnya.” Demikian kata Soekarno tentang Alimin dan Muso, dua tokoh PKI.
Kedekatan Soekarno dan tokoh PKI semakin mesra dan terus berlanjut, sebagaimana terlihat dalam pidatonya saat rapat akbar PKI di stadion Senayan. “Saudara, pernah saya ceritakan saudara-saudara, dan tadipun telah disitir, dikatakan oleh kawan Aidit, beberapa senjata ampuh yang saya berikan kepada revolusi Indonesia, ialah antara lain Pancasila, antara lain penggabungan semua tenaga progresif revolusioner dalam NASAKOM,” (Subur, Subur, Suburlah PKI; Pidato Presiden Soekarno Pada Rapat Raksasa Ulang Tahun ke-45 PKI)
Konsep Nasinalisme, Agama, dan Komunis (NASAKOM), merupakan buah pikir Bung Karno yang melihat ketiga ideologi sebagai suatu pandangan kepentingan sosial. Tahun 1942 pula, NASAKOM dijadikan sebagai pemersatu bangsa untuk melanjutkan perjuangan kita yang belum usai, sekaligus mencegah perpecahan antar bangsa karena perbedaan ideologi.
Soekarno, ketika merangkum konsepsi politiknya sebagai NASAKOM menurut Prof.Benhard Dahm, kita harus memahami komunisme sebagai sosialisme, karena dasar pemikirannya adalah prinsip keadilan sosial yang juga menjadi dasar pemikiran politik Karl Marx. Soekarno yakin, perbedaan dan perpecahan dunia dalam persaingan ideologis saat itu bisa dijawab dengan menghormati nasionalisme, agama dan sosialisme.
Munculnya paham NASAKOM kala itu juga kian memperkuat kedudukan Soekarno dan menghambat kekuatan lain untuk menandingnya. NASAKOM mengisolasi kekuatan-kekuatan politik yang ingin menambah kekuatan dalam konstalasi politik era demokrasi terpimpin. Hanya PKI yang mendapat keuntungan lebih, berkat adanya NASAKOM. Maka dari itu, dengan demokrasi terpimpin dan NASAKOM sebagai ideologinya, Soekarno mampu mengimbangi tiga kekuatan yang ada, yakni Militer, PKI, dan Islam. Ancaman kudeta dari kekuatan-kekuatan yang ada pun mampu diminimalisir dengan baik, berkat diterapkannya NASAKOM ke dalam perpolitikkan Indonesia.
Bertahun lamanya kemesraan dengan komunis itu berlangsung di negara kita, dalam indoktrinsi, pidato-pidato NASAKOM dipuji-puji sebagai ajaran paling tinggi di dunia. Bahkan masih menurut Benhard, dalam satu wawancaranya, Soekarno pernah mengatakan, bahwa Masyumi dan PSI merusak perjalanan revolusi Indonesia, sedangkan PKI merupakan ujung tombak dari kekuatan-kekuatan revolusioner.
Selama penerapan demokrasi terpimpin, Soekarno
berhasil tampil sebagai salah satu kekuatan politik dominan yang menggantikan peran hegemoni partai-partai politik diera parlementer. Pemikiran Soekarno tentang konsep politik khas Indonesia sebagai sebuah antitesis liberalisme barat akhirnya terjebak pada sloganistik, tetapi dalam realitas politik konsep khas budaya dan indentitas Indonesia tersebut menjelma menjadi sistem yang tidak ramah terhadap perbedaan pandangan politik.
Pemusatan kekuasaan ditanganya menjadikan dirinya menjadi seorang
tiran yang memberangus kebebasan berdemokrasi, lembaga-lembaga negara yang tidak sehaluan dengan arah kebijakanya kemudian dibubarkan. Beberapa tokoh politik tidak luput dari represifnya, mereka yang berasal dari Masyumi dan PSI, menjadi sasaran kebijakan demokrasi terpimpinya, mereka banyak dijebloskan ke penjara karena sikap politiknya yang bersebrangan dengan yang digariskan oleh penguasa.
Nasakom yang sebelumnya dianggap sebagai konsep solutif untuk
mempersatukan berbagai ideologi yang ada di Indonesia, ternyata telah gagal menjadikanya sebagai konsep pemikiran yang humanis dan intergralistik, doktrin akan pentingnya persatuan akhirnya hanya menjadi instrumen politik efektif untuk memberangus sikap kritis yang bersebrangan dengan pemerintah.
Persatuan yang dislogankan melalui beberapa media propaganda ternyata
hanya mampu mempersatukan elemen-elemen politik ditingkat permukaan saja, terbukti setelah pecah tragedi 30 September 1965, persatuan yang selama ini dipropagandakan pemerintah tidak mampu mencegah pembantaian terhadap jutaan orang-orang yang dituduh komunis. Konsep integralistik beberapa aliran
ideologi yang dirumuskan oleh Soekarno terbukti telah gagal mempersatukan masyarakat Indonesia.
Bukan dimaksudkan untuk memojokkan Soekarno, namun lebih kepada mengajak agar kita semua bisa adil dalam menilai sesuatu.
Pemaparan fakta sejarah bangsa Indonesia bisa memandu kita bahwa tokoh sebesar Soekarno pun tidak lepas dari fitrah manusia yang bisa salah.
Bahwa Soekarno berjasa besar bagi Bangsa Indonesia adalah fakta. Beliau adalah salah satu proklamator, cintanya pada Indonesia tidak bisa diragukan. Sang inspirator kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika, penemu makam Imam Bukhari dan-lain-lain.
Namun kita juga harus fair bahwa ada “dosa” sejarah yang mana beliau terseret di dalamnya.
NASAKOM dan kedekatannya kepada PKI adalah catatan buruk beliau di mata umat Islam yang bahkan membuat pasangan Dwi Tunggalnya, Bung Hatta, akhirnya memutuskan “bercerai” dengannya. Di dalam buku Demokrasi Kita, Dr. Mohammad Hatta menyatakan bahwa sejarah Indonesia sejak sepuluh tahun terakhir ini (tahun 1966 ke belakang) banyak memperlihatkan pertentangan antara idealisme dan realita.
Idealisme, yang bertujuan menciptakan suatu pemerintahan yang adil, yang akan melaksanakan demokrasi yanag sebaik-baiknya, dan kemakmuran yang sebesar-besarnya. Sementara realita saat ini, pemerintah yang dalam perkembangannya kelihatan semakin jauh dari demokrasi yang sebenarnya.
Kemudian Bung Hatta melanjutkan di bagian lagi buku tersebut, “Apa yang terjadi sekarang adalah krisis demokrasi, atau demokrasi dalam krisis. Demokrasi yang tidak kenal batas kemerdekaannya, lupa syarat-syarat hidupnya, dan melulu menjadi anarki, lambat laun akan digantikan diktator. Ini adalah hukum besi sejarah dunia! Tindakan Soekarno yang begitu jauh menyimpang dari dasar-dasar konstitusi adalah akibat dari krisis demokrasi itu. Demokrasi dapat berjalan baik, apabila ada rasa tanggung jawab dan toleransi pada pemimpin-pemimpin politik. Inilah yang kurang pada pemimpin-pemimpin partai, seperti yang telah berkali-kali saya peringatkan.”
Dan Bung Hatta pun sangsi akan keberhasilan sistem Demokrasi Terpimpin ala Soekarno yang bermimpi NASAKOM nya akan menjadi konsepsi Indonesia yang bisa diterima dunia.
“Dan ini bukanlah hal yang salah di dalam suatu negara Demokrasi.
Malah menjadi paradoks negeri demokrasi jika kritikan dibalas dengan pemenjaraan oleh sebuah rezim atau pendukungnya. Karena pembungkaman kritik adalah cara-cara otoriter khas negeri Komunis.
Negeri ini dimerdekakan atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur oleh para Founding Fathers baik dari kalangan Ulama, Santri, dan segenap rakyat Indonesia.
Jadi tidak boleh ada golongan yang mengklaim bahwa negeri ini hanya milik Bung Karno saja. Tanpa mengurangi rasa hormat bisa kita katakan bahwa Soekarno adalah sepenuhnya milik Indonesia namun Indonesia bukanlah milik Soekarno seorang.
Sebagai seorang Muslim yang diajarkan untuk bersikap Tawasuth, pandangan kita kepada Bung karno haruslah adil.
Hitam putih jejak Soekarno adalah bagian dari sejarah bangsa ini. Dan harus diungkapkan secara fair.