Gotong Royong sebagai Jiwa Bangsa Kita

0
40
WhatsApp
Twitter

Bung Karno dalam pidatonya pernah menyatakan, bahwa Pancasila jika diperas dijadikan satu, maka didapat perkataan Indonesia tulen, yaitu “gotong royong”. Bangsa ini lahir dan merdeka karena seluruh elemen bangsa bergotong royong memperjuangkan kemerdekaan. Pada elemen masyarakat terkecil pun, aktualisasi gotong royong merupakan keniscayaan yang secara fitrah melekat dalam sikap dan perilaku. Seperti yang pernah kita lihat dan rasakan, masyarakat di desa setiap hari minggu mengadakan kerja bakti, yaitu membersihkan lingkungan bersama-sama. Kemudian, setiap perayaan hari raya, agama yang berbeda menunjukkan sikap toleransinya dengan menghormati dan menghargai agama lain, seperti memberikan ucapan, makanan, dan lainnya. Nilai gotong royong inilah yang menjadi inspirasi bagi bangsa ini agar terus menjadi jiwa atau karakter bangsa Indonesia.

Sepi ing pamrih, rame ing gawe merupakan peribahasa dalam bahasa Jawa yang memberikan isyarat kebersamaan dalam menyelesaikan pekerjaan yang harus dipikul bersama. Masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi untuk bersama-sama melakukan kegiatan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Ketika ada informasi mengenai pekerjaan yang harus diselesaikan secara bersama-sama yang menyangkut kepentingan masyarakat, warga berbondong-bondong membantu dan mengerjakannya secara bergotong royong, tanpa pamrih atau tidak mengharapkan imbalan jasa dari apa yang mereka lakukan.

Dalam ingatan kita, istilah gotong royong merupakan suatu istilah yang sangat tidak asing lagi, akrab dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Kita memiliki memori ingatan bahwa gotong royong, merupakan ciri khas dan kepribadian milik bangsa ini. Hal ini disebabkan karena gotong royong menjadi identitas bangsa, dan yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

Gotong royong identik dengan bekerja bersama antara individu satu dengan yang lain dalam kehidupan bermasyarakat, yang diikat oleh tali persaudaraan. Dalam konteks gotong royong, jika hanya satu atau segelintir orang saja, tentunya gotong royong tersebut tidak bisa muncul. Bahkan, ketika banyak orang pun, tetapi tidak ada ikatan persaudaraan antara satu dengan yang lain dalam masyarakat, gotong royong itu sendiri juga tidak bisa menjelma. Dengan begitu, gotong royong dapat terwujud, ketika adanya ikatan sosial dan dilakukan oleh sekelompok masyarakat tertentu yang sama-sama ingin melaksanakannya.

Pondasi kokoh yang harus dibangun untuk berdirinya umat manusia adalah rasa persaudaraan, saling menguatkan antara satu individu dengan yang lain dalam masyarakat. Tidak mencela dan memaki, tetapi saling meneguhkan untuk mendapatkan kesejahteraan dan kemuliaan di mata manusia, dan yang lebih penting di mata Tuhan Yang Maha Esa. Nilai tersebut sudah selayaknya tetap menjadi pondasi kehidupan dalam bermasyarakat dan bernegara.

Menurut pandangan Bung Karno, gotong royong adalah paham yang dinamis. “Lebiih dinamis dari kekeluargaan, Saudara-Saudara! Kekeluargaan adalah satu paham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan… Gotong royong adalah pembanting tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-Kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong royong!”

Saat ini, melemahnya sikap dan nilai-nilai gotong royong dalam masyarakat merupakan gejala yang perlu diantisipasi oleh kita sebagai warga negara Indonesia. Hal ini disebabkan oleh teknologi yang membuat seseorang lebih memedulikan komunikasi melalui media sosial, dibandingkan dunia nyata. Misalnya, ketika sedang berkumpul dengan teman, kita lebih fokus memainkan handphone dibandingkan mengobrol langsung.

Jika kita saja sudah tidak peduli dengan lingkungan sekitar, seperti teman dan tetangga, maka hal tersebut merupakan hal yang membahayakan bagi karakter bangsa dan negara kita, bahkan bisa menghancurkan pondasi berbangsa kita yang sudah dibangun oleh para pendiri bangsa sehingga revitalisasi nilai dan sikap gotong royong sebagai penguat rasa persaudaraan, harus dilakukan untuk menjaga keutuhan kehidupan bangsa ini.

Lalu, bagaimana mengaktualisasikan kembali gotong royong sekarang ini? Anak muda harus berperan dalam rangka menumbuhkan kembali rasa persaudaraan di lingkungan sekitar dengan cara menciptakan berbagai macam forum dan aktivitas yang dapat membangkitkan seluruh masyarakat untuk terlibat. Menciptakan komunitas-komunitas tertentu yang disukai masyarakat dalam konteks saat ini, membangkitkan kesenian dan kebudayaan tradisional atau modern dan berbagai macam kegiatan lainnya. Selain itu, dalam situasi pandemi ini menjadi sebuah momentum untuk menumbuhkan kembali semangat bergotong royong yaitu dengan cara membantu sesama agar bisa bertahan di tengah pandemi.

Dengan demikian, memudarnya gotong royong merupakan sebuah keniscayaan karena gempuran modernisasi dan produk-produknya yang cenderung menjadikan masyarakat lebih asik dengan dirinya sendiri, dibandingkan beraktivitas bersama dengan orang lain. Padahal, dalam sejarah bangsa Indonesia, rasa gotong royong dan kebersamaan ini terbukti sangat ampuh dalam menyelesaikan masalah bangsa, ketika memiliki masalah yang dihadapi oleh bangsa atau berhadapan dengan bangsa lain.

Maka dari itu, semuanya harus dimulai dari diri sendiri, belajar untuk menghargai waktu dan pertemuan. Semangat bergotong royong harus terus ditumbuhkan dengan cara mengimplementasikannya di kehidupan nyata dalam bermasyarakat dan bernegara agar gotong royong terus menjadi jiwa dan karakter bangsa kita.