Bung Karno, Pemimpin yang Mengabdi pada Rakyat

0
65
WhatsApp
Twitter

Ajaran Bung Karno yang adiluhung tentang kebangsaan bermuara pada pembebasan umat manusia dari berbagai belenggu penjajahan terhadap kemanusiaan. Bung Karno hadir dengan segala keunikan yang mengiringinya. Salah satu pendiri bangsa ini, dikenal sebagai pemimpin yang mencintai dan dicintai oleh rakyatnya. Bukan tanpa sebab, hal ini tidak lain karena keinginan Bung Karno itu sendiri, sebagaimana ia pernah katakan dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965) karya Cindy Adama, “aku ingin berbaur dengan rakyatku. Itulah yang menjadi sifatku.”

Kebesaran namanya yang tidak kalah besar dengan bangsanya, tidak lantas mengindahkan Bung Karno sebagai pemimpin untuk tidak peduli dengan rakyatnya. Justru sebaliknya, Bung Karno adalah pemimpin pengayom wong cilik dan sangat dekat dengan rakyatnya. Dan hal ini ia praktikan jauh sebelum dinobatkan sebagai Presiden Indonesia. Dari interaksi dan pergaulannya bersama orang-orang cilik itu, yang kelak menjadi satu tekad Bung Karno untuk selalu memperhatikan dan memperjuangkan serta membela nasib rakyatnya yang miskin. Karena, bagi Bung Karno sebagaimana dalam Bung Karno dan Revolusi Mental (2017) karya Sigit Aris Prasetyo, mengatakan “pemimpin itu harus menjadi abdi rakyat”.

Baca juga: Meneladani Kezuhudan Bung Karno

Mental-mental demikian, yang dewasa ini sukar sekali kita temukan dalam jiwa-jiwa pemimpin kita. Sekarang, kita hanya menemukan banyak pemimpin yang mengumbar kemesraan dengan sesama pemimpin, bukan dengan rakyatnya. Tidak hanya dalam konteks pemerintahan, bahkan pemimpin dalam suatu kelompok tertentu. Seperti yang kita lihat bersama, baru-baru ini misalnya, seorang pemimpin salah satu ormas dengan serampangan bukan malah menjadi ikon perdamaian, keharmonisan, dan keberagaman, justru malah menjadi sumbu percikan dan bahkan perpecahan antar-sesama. Sebut saja, Habib Rizieq Shihab.

Padahal, Bung Karno dulu, walau di seantero negeri rakyat mencintainya, bahkan mengelu-ngelukan, tidak malah membuatnya jumawa. Ia malah menjadikan rakyat sebagai sahabatnya, mengajarkan keharmonisan, dan menolak hal-hal yang berbau perpecahan. Hal ini tidak lain, karena kesadaran Bung Karno sebagai abdi rakyat. Dalam kehidupan Bung Karno sebagai pemimpin, ia ingin selalu mengingat dan melindungi rakyat yang hidupnya termarjinalkan dan terjerat kemiskinan. Dikisahkan oleh Guntur Soekarno Putra dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku (2019), Bung Karno punya cara tersendiri untuk selalu mengingat dan merasa dekat dengan bangsa dan rakyatnya. Yakni, dengan memasang sebuah lukisan dua orang pengemis (ayah dan anaknya) di ruang makan keluarga. Kata Bung Karno kepada Guntur, “supaya Bapak waktu makan akan selalu ingat pada Tuhan yang memberi rezeki pada Bapak dan selalu ingat rakyat Indonesia yang masih melarat.”

Bung Karno ingin melebur, menyatu, dan menjadi satu bagian dari rakat-rakyat kecil yang dipimpinnya. Sebagai pemimpin, ia tidak ingin terlihat beda dengan menciptakan pembatas terhadap rakyatnya. Karena bagi Bung Karno, sebagaimana dalam wawancaranya dengan Cindy Adama mengatakan, “seorang pemimpin harus memahami dan merasakan langsung kehidupan rakyatnya”. Hal demikian, yang ia sering lakukan dalam waktu senggang di balik kesibukannya menjadi pemimpin. Seperti dikisahkan oleh Eddi Elison dalam Membaca Sukarno dari Jarak Paling Dekat (2019), Bung Karno sering blusukan memantau rakyatnya baik malam, ataupun siang hari.

Baca juga: Pesan Bung Karno kepada Pemuda

Dengan demikian jelas, ketaladanan pemimpin dan semestinya dapat diteladani oleh pemimpin-pemimpin masa kini, dapat kita lihat dalam diri Bung Karno. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat merasakan keringat rakyatnya. Pemimpin yang baik bagi Bung Karno adalah yang mengabdi pada rakyat. Mencintai dan dicintai rakyatnya, menjadi teladan merajut keharmonisan, perdamaian, dan hidup dalam keberagaman, bukan menciptakan perpecahan.

Pendek kata, pemimpin sebagai abdi rakyat harus mampu melayani, bukan malah meminta dilayani oleh rakyatnya. Seorang pemimpin harus dapat memikirkan kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya, mencurahkan pikiran, tenaga, dan keringat untuk kepentingan rakyat, bukan kelompoknya.