Selasa pagi (10/11), akses jalan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, lumpuh total menjelang kedatangan pemimpin organisasi masyarakat Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab. Pasalnya, massa penjemput Rizieq sengaja memarkirkan kendaraannya di ruas jalan tol yang menyebabkan kepadatan sepanjang 7 Km dan melahirkan kerugian (mudharat) bagi banyak orang.
Tidak hanya pengusaha logistik yang dirugikan, puluhan penerbangan terlambat dan sejumlah fasilitas di bandara Soekarno-Hatta rusak usai membludaknya massa. Bahkan, kepadatan lalu lintas tersebut tidak hanya menimbulkan banyak keluhan dari pengendara jalan tol, melainkan juga dari para calon penumpang bandara.
Dilansir dari media liputan6.com, Hassan, seorang calon penumpang bersama seorang kawannya terpaksa mencari jalan alternatif, menenteng barang-barang bawaannya menuju terminal 2 dan 3, setelah sebelumnya harus turun di tengah jalan karena kemacetan luar biasa di Jalan Daan Mogot.
Tak dapat dipungkiri, aksi simpatisan Rizieq Shihab yang meninggalkan kendaraannya di ruas jalan tol demi menyambut dan melihat pemimpinnya ini justru melahirkan kemudharatan, bukan kemaslahatan umat. Ironisnya, polisi justru harus mencari-cari sopir pemilik kendaraan dahulu demi mengurai lalu lintas yang tersendat.
Lantas, apakah aksi tersebut sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW kepada umatnya? Bukankah umat Islam diajarkan untuk mengutamakan kemaslahatan manusia? Mengapa demi menyambut satu orang pemimpin saja harus menyusahkan dan merugikan ratusan, bahkan ribuan orang?
Sejalan dengan misi Rasulullah SAW sebagai rahmat semesta, kemaslahatan manusia adalah tujuan utama ajaran Islam. Mengedepankan kemaslahatan umat merupakan hal yang seharusnya dianut dan dipraktikkan umat Islam. Sayangnya, kemaslahatan itu kini dikesampingkan oleh sebagian masyarakat Muslim.
Faktanya, tindakan-tindakan yang menyusahkan orang lain sangat diwanti-wanti dan tidak dibolehkan oleh Nabi SAW, sebagaimana tertuang dalam hadis shahih, Jabir ibn Abdullah berkata, suatu waktu Mu’adz ibn Jabal shalat Isya berjamaah bersama kaumnya, lalu ia mengimami shalat dan membaca surah al-Baqarah. Namun, belum selesai jamaah tersebut, seorang laki-laki keluar (dari shaf), kemudian shalat munfarid (sendirian). Rupanya, ia merasa keberatan tatkala sang imam membaca surah panjang dalam shalatnya.
Seusai shalat, perilaku seseorang yang keluar dari jamaah itu terdengar oleh Muadz seraya berujar, “sesungguhnya dia adalah seorang munafik”. Ketika perkataan Muadz sampai pada laki-laki tersebut, laki-laki itu segera mendatangi Nabi SAW dan mengadu, “wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah kaum yang bekerja sebagai penyiram ladang, sedangkan semalam Muadz shalat mengimami kami dengan membaca surah al-Baqarah, hingga Aku yang merasa kelelahan keluar dari shaf, tetapi dia mengira Aku seorang munafik.
Rasulullah SAW bersabda, wahai Muadz apakah kamu hendak membuat fitnah? Beliau mengucapkannya tiga kali. Bacalah surah al-Syams, al-Dhuha, dan al-Ala atau yang serupa dengannya, sebab yang ikut shalat di belakangmu barangkali ada orang yang lanjut usia, orang yang lemah, atau orang yang mempunyai keperluan. [HR Bukhari dan Muslim]
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kemaslahatan umat harus diutamakan. Memudahkan urusan orang lain, bukan menyusahkannya. Kasus Muadz di atas sebagai seorang Imam adalah mengutamakan maslahat dengan cara meringankan bacaannya agar shalat jamaah itu tidak menimbulkan kemudharatan bagi para ma’mum-nya yang merasa kelelahan (lemah), lanjut usia, dan mereka yang mempunyai keperluan. Nabi SAW secara tegas mengajarkan untuk memudahkan urusan orang lain dengan cara yang sama-sama baik, bukan mempersulitnya.
Dalam persoalan ibadah yang mengandung interaksi antara manusia dan Tuhan, kemaslahatan manusia tetap diutamakan. Apalagi, interaksi antara manusia dengan manusia yang seharusnya lebih mementingkan kemaslahatan daripada kemudharatan. Bahkan, dalam kaidah fiqh disebutkan, al-dharar yuzal, kemudharatan itu harus dihilangkan.
Maka dari itu, alangkah baiknya jika HRS menghimbau para pengikutnya untuk tidak menyambut kepulangannya dengan arak-arakan massa bak seorang raja. Karena lagi-lagi, tindakan massa itu berbuah kerugian yang sangat jauh dari kemaslahatan umat, sehingga mencerminkan minimnya akhlak kepada khalayak.
Parahnya, kini masih banyak masyarakat Muslim yang cenderung melihat ulama hanya dari cashing (penampilan) dan gelarnya. Melihat kulit tanpa menengok isinya. Terpesona oleh kepiawaiannya berbicara tanpa memahami dan menilik substansi/isi ceramahnya, atau paling tidak, melihat akhlak yang dicerminkannya.
Apalah arti rangkaian kata-kata tanpa bukti nyata. Apalah arti ‘Revolusi Akhlak’ yang dilantunkan dan dibanggakan tanpa praktik dalam keseharian. Jika memang akhlak yang diutamakan dan dijunjung tinggi, maka buktikan dalam setiap kesempatan, bukan mengesampingkannya demi ketenaran dan kehormatan.
Dengan demikian, kerugian-kerugian yang ditanggung banyak orang akibat kemacetan yang ditimbulkan simpatisan HRS adalah bukti nyata kemudharatan yang seharusnya dihilangkan, karena kemaslahatan manusia adalah hal yang harus diutamakan, terutama dalam ranah sosial.