Di tengah momen kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) ke Indonesia, beredar video lama yang di dalamnya terdapat narasi penghinaan HRS terhadap personal Gus Dur. Terlihat dalam video tersebut HRS sedang melakukan telekonferensi di salah satu stasiun televisi lokal. Di tengah pembicaraannya, terlontar kalimat yang tidak mengenakkan. Ia menyebut Gus Dur sebagai seorang yang buta mata dan buta hati.
Dalam bayangan penulis, sekesal apapun Gus Dur dan simpatisannya, Gus Dur hanya akan mengolah ucapan tersebut sebagai humor. Bukan membalas dengan aksi destruktif. Sebenarnya, bukan hanya dalam momen tersebut HRS memakai bahasa yang menyiratkan hinaan terhadap pribadi Gus Dur. Masih ada yang lain.
Faktanya memang tidak ada upaya anarkis dari pihak Gus Dur. Dilansir dari Kompas.com (03/06/2024), Yenny Wahid, putri kedua Gus Dur, diketahui menggelar aksi dialog dengan FPI (Ormas binaan HRS) di seluruh daerah Indonesia ketika itu. Sebagai bentuk respons dari ucapan HRS dalam acara TV tersebut.
HRS dan karakter kontroversialnya, barangkali itu yang membuat massa tergelitik untuk kembali mengungkit memori lama. Bukan apa-apa. Dengan melihat rapor lampau, mungkin masyarakat hendak mengevaluasi, adakah yang berubah dari HRS setelah sekian lama tak mengudara di Indonesia? Ternyata masih sama saja. HRS masih HRS yang dulu; seorang katalisator ‘dinamika’ masyarakat Indonesia. Pertanda musim dingin telah tiba.
Nampaknya belum banyak yang tahu bahwa nasab Gus Dur juga bersambung kepada baginda Rasulullah SAW. Ia juga seorang habib. Kehabiban-nya terbukti dari kontribusi dan cintanya pada manusia. Gus Dur merupakan keturunan ke-34 dari Nabi. Perihal ini dijelaskan dalam kitab Talkhish karya Abdullah bin Umar al-Syathiri. Dan hal ini pun telah diakui oleh para habib lainnya. Tapi, seperti kita tahu. Gus Dur tidak menyematkan gelar itu, ia menyerahkan kepada sejarah untuk membuktikan makna predikat habibnya.
Gus Dur dengan segala ceplas-ceplos dan kontroversinya, ia telah meninggalkan legacy bagi bangsa ini. Ia dikenang sebagai pahlawan kemanusiaan. Memiliki perhatian pada kalangan minoritas tertindas. Mencita-citakan perdamaian bagi umat manusia. Kiprah dan kontribusi Gus Dur dapat diketahui, baik dari sumber lisan maupun tulisan.
“Habib” adalah satu predikat terhormat yang maknanya harus diartikulasikan dalam bahasa perbuatan. Bukan sekadar embel-embel kebesaran untuk menjaga gawang. Sebagai pewaris darah Nabi, secara tidak langsung para habib memikul tanggung jawab moral lebih untuk senantiasa berupaya menampilkan akhlak Nabi.
Sepenggal cerita tentang ujaran HRS kepada Gus Dur di atas hanya sejumput gambaran dari pola komunikasi HRS. Telah menjadi pengetahuan bersama, bahwa harakah dakwah FPI pun cenderung keras dan kurang kompromistis. Jejak digital juga membuktikan bahwa HRS tidak segan berdakwah dengan kalimat-kalimat yang tidak meneduhkan, sebagaimana sepatutnya dilakukan ulama.
Jika dicermati, orasi HRS umumnya sarat dengan muatan propagandis dan provokatif. Retorikanya amat meyakinkan, sehingga memang kadang tak mudah membaca maksud lain dari ucapannya. Orientasi dakwah HRS terlihat selalu berupaya membenturkan publik dengan pemerintahan. Tak jarang ia mengangkat kesan bahwa para ulama dizalimi atau dikriminalisasi lalu mengajak serta masyarakat untuk revolusi. Output dari ceramahnya adalah kubu aku dan kamu, karena yang ia tawarkan pada masyarakat adalah pilihan hitam dan putih.
Ada cita rasa fundamentalis dalam dakwah HRS. Terlalu kaku dalam membaca teks agama, sehingga lupa menyentuh jantung permasalahan umat dalam misi syiarnya. HRS kurang mengedepankan pendekatan emansipatoris-antroposentris di mana persoalan kemanusiaan menjadi lokusnya.
Baru juga pulang. Terpantau melalui kanal Youtube-nya: Front TV, HRS mengadakan sarasehan dengan tajuk rekonsiliasi. Diunggah pada Rabu, (11/11/2024). Seperti biasa, ia menyampaikan orasi dengan penuh semangat di hadapan jemaahnya. Mengajak umat untuk perhatian dengan upaya penegakan keadilan. Isu kriminalisasi ulama masih menjadi topiknya. Tidak ada yang salah, bagus malah. Ia juga menuturkan, bahwa siapapun yang bersalah harus diproses hukum. Namun, tertangkap dalam narasinya bahwa ia merasa tak memiliki kasus hukum untuk diselesaikan. Padahal berkas pemeriksaan menantinya. Bukankah ini sebentuk upaya non-kooperatif warga negara di mata hukum. Sekaligus mengingkari apa yang ia ucapkan sendiri, di mana tak ada satu warga negara pun yang kebal hukum.
Kita harus memekarkan cara berpikir. Memang tak ada siapapun yang bisa mengetahui isi hati orang lain. Namun, kita punya nurani dan akal sehat untuk dioperasikan. Bila mengacu pada rekam jejak kedua habib ini, sepatutnya kita bisa mengambil pelajaran dan membedakan, bagaimana ulama yang membidik maslahat, dan mana ulama yang cenderung menyebabkan segregasi umat.
Kedua cucu Nabi ini sama-sama kontroversial dengan caranya masing-masing. Gus Dur bukan hanya sekali dihina. Ia juga juga tak jarang dikritik. Pun demikian, HRS dengan segala rekam jejaknya perlu evaluasi dan kritikan. Dan itu sah untuk dilakukan, kepada keturunan Nabi sekalipun. Kita kerap beranggapan bahwa yang terdeteksi sebagai keluarga Nabi selalu benar. Mengambil perbandingan antara keduanya ialah sarana kita untuk belajar menerima kenyataan, bukan untuk menebar kebencian. Habib itu menebar cinta, jika tidak demikian, jangan ragu untuk mengajukan tanya. Wallahu a’lam.