Habib Rizieq Shihab (HRS) seakan menjadi isu timeless dalam pemberitaan media Tanah Air. Pasalnya, ia kerap mengemuka bersamaan dengan serba-serbi kontroversinya. Terhangat, ialah momen kepulangannya kemarin Selasa (10/11/2024) dari Arab Saudi setelah tiga tahun lebih bermukim di sana. Penyambutan yang dihadiri ribuan pendukungnya pun menyisakan banyak hal yang harus disesalkan.
Membludaknya massa penjemput, menyebabkan kerusakan beberapa fasilitas bandara serta ketertiban umum menjadi terganggu. Ruas jalan mengalami kemacetan dan ratusan penerbangan pun terhambat. Yang paling mengkhawatirkan adalah potensi terbentuknya cluster baru Covid-19.
Sebagai seorang yang mengaku imam besar, seharusnya HRS bisa menimbang potensi madharat yang akan terjadi ketika ia disambut di bandara. Terlebih di tengah situasi pandemi. Ia jelas memiliki suara untuk menghimbau bahkan melarang pendukungnya agar tidak perlu menemuinya di tempat yang menjadi fasilitas umum, demi kemaslahatan bersama.
Kalau boleh membandingkan. Mari ketengahkan satu preseden yang mencerminkan sikap seorang negarawan dan pemimpin sejati yang menghendaki kebaikan dan kemaslahatan umum. Yakni dalam peristiwa pelengseran Gus Dur dari jabatan presiden. Gus Dur lebih memilih menanggalkan jabatannya ketika ia mengetahui bahwa kondisi akar rumput yang terdiri dari berbagai elemen di daerah dan pusat kian memanas. Dan sangat berpotensi menimbulkan kerusuhan bahkan pertumpahan darah jika diteruskan. Seorang yang benar mencintai umat dan bangsa tentu akan mengambil opsi yang minim resiko bagi masyarakat luas. Dan berkenan menahan kepentingan pribadi.
Di kepulangannya ini, HRS membawa buah tangan berupa proyek “revolusi akhlak”. Menjadi sebuah paradoks ketika melihat rekam jejaknya disandingkan dengan jargon “revolusi akhlak” yang digemakannya. Tercatat ia masih mengantongi setumpuk kasus hukum sebelum hijrahnya ke Arab Saudi. Mulai dari dugaan penistaan terhadap agama lain, dugaan penodaan Pancasila, kasus pornografi, serta sederet kasus lainnya. HRS juga tak jarang terekam mengucapkan kata-kata yang tak layak diucapkan oleh seorang yang, sekali lagi, mengaku sebagai imam besar atau panutan masyarakat. Misalnya, ia pernah menyebut Gus Dur sebagai seorang yang buta mata dan buta hatinya. Sungguh disayangkan.
Adalah sebuah truisme bahwa kita harus mencintai dan menghormati semua manusia. Apalagi Ahlul Bait yang jelas disinggung mendapat hak istimewa dari Allah SWT berupa penghilangan keburukan serta penyucian dari kotoran, seperti kotoran yang menempel pada pelaku maksiat. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab [33]: 33.
Namun, kita harus berusaha adil, bahkan sejak dari pikiran. Apa yang coba diarus utamakan oleh HRS, yakni jargon “revolusi akhlak”, nyatanya tidak sinkron dengan tingkah laku yang selama ini ia tunjukkan di muka masyarakat. Atas dasar ini, alih-alih memiliki legitimasi sosial untuk promosi jargon tersebut, ia justru menjadi bahan guyonan publik.
Mengenai Ahlul Bait, para ulama berlainan pendapat atas tafsirannya. Boleh dibilang, yang paling populer Ahlul Bait diartikan sebagai keluarga Nabi yang terdiri dari Imam Ali bin Abi Thalib, Sayyidah Fatimah, serta kedua cucu Nabi; Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Karena merekalah yang secara jelas diselimuti dan didoakan oleh Nabi dalam peristiwa hadis kisa’.
Pada perjalanannya, garis keturunan Rasullullah SAW, salah satunya dikenal dengan predikat habib. Gelar ini tentu merupakan produk budaya di masyarakat, bukan title yang bersifat tauqifi (paket jadi) dari langit untuk tiap kerabat Nabi yang dapat menjaminnya suci. Dalam tradisi masyarakat, seorang yang berpredikat habib biasanya dinilai berilmu, memiliki peran penting bagi masyarakat, dan tentunya berbudi pekerti mulia penuh cinta. Artinya, sejatinya tidak semua orang yang diketahui sebagai keturunan Nabi berhak dianugerahi gelar habib.
Ahlul Bait memiliki kemulian tersendiri. Nabi menunjukkan perhatian besar kepada mereka, sekaligus menghimbau agar umatnya mengasihi dan mencintai kerabat beliau. Demikian pula ditegaskan dalam QS. Asy-Syura [42]: 23. Ahlul Bait, oleh Rasulullah SAW bahkan disandingkan dengan kitab Allah SAW dalam hal agar kita berpegang teguh kepadanya. Hadis ini jamak disebut dengan hadis tsaqalain.
Keistimewaan dan kemuliaan bagi keturunan Nabi harus dipahami secara proporsional. Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya al-Fushul al-‘Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hikamiyyah mengingatkan agar umat Muslim bersikap wajar dan tidak berlebihan dalam menampilkan penghormatan dan kecintaan kepada Ahlul Bait.
Lebih lanjut, Sayyid Abdullah al-Haddad menjelaskan, bahwa tidak menutup kemungkinan ada dari kalangan Ahlul Bait yang sikapnya tidak sejalan dengan ajaran agama. Untuk itu, evaluasi, nasihat, atau kritik sangat terbuka untuk disampaikan. Kemuliaan yang terabadikan dalam nash-nash agama atas keturunan Nabi, tidak membuatnya kebal kritik atau kebal hukum.
Pemilik gelar “habib”, yang berakar dari kata bahasa Arab yang berarti “cinta” ini, seharusnya menjadi duta yang lisan serta lakunya dipenuhi kasih dan cinta. Quraish Shihab menuturkan bahwa predikat ini berlaku bagi keturunan Nabi yang mencintai dan dicintai, bukan hanya orang yang ingin dicintai atau dimuliakan semata.
Terdapat indikasi adanya inflasi makna dari kata “habib”. Siapapun yang memiliki gelar itu hampir dianggap tidak mungkin bertindak amoral, karena kemuliaan nasabnya yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Padahal, hukum dasarnya adalah tak ada manusia yang imun terhadap kekeliruan, selain hanya Rasulullah SAW saja. Di samping itu, tidak tertutup kemungkinan pula jika si pemilik gelar mengambil untung dari privilege yang ia miliki demi tujuannya.
Di era disrupsi seperti sekarang, di mana hakikat kerap tak terlihat, kita harus benar-benar waspada dan jeli dalam membaca situasi. Jika tidak, kita hanya akan menjadi objek yang diayun-ayun oleh pihak yang berkepentingan.
Semua orang harus kita hormati dan kasihi, terlebih kerabat Nabi yang menyandang kemuliaan. Rasa hormat dan kritik bukan hal yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa disandingkan dalam satu kotak. Menyandang gelar Ahlul Bait secara otomatis memiliki beban moral lebih untuk menjadi teladan paripurna atas akhlak Rasulullah SAW. Karena kerabat sejati Nabi bukan sekadar perkara garis darah, tapi melampaui itu, yaitu perilaku. Sejatinya, predikat “habib” ialah milik Rasulullah SAW semata. Beliau adalah album semua akhlak mulia. Wallahu a’lam.