Kolom

NKRI Menolak Radikalisme, Titik

3 Mins read

Gerakan radikalisme tidak hanya mengatasnamakan agama, tetapi juga kian masif meliputi gerakan lainnya. Entah apa tujuan akhir, namun yang bisa dipastikan kelompok ini menglegitimasi sebagai gerakan pejuang agama tuhan.

Bak ibarat bahan bakar minyak, sehingga sangat sensitif yang mampu mengerakan orang-orang melakukan tindakan semena-mena dan main hakim sendiri. Di Indonesia, kejahatan mengatasnamkan agama dan pejuang agama dari tahun ketahun secara analisa pergerkan mengalami kenaikan, terutama di tahun 2014-2020. Dari kasus ecek-ecek hingga kasus kelas kakap tercatat oleh pihak kepolisian.

Baca Juga : Miskonsepsi Negara Islam ala Teroris
Bahaya Cyber Narcoterorism

Tercatat berbagai kasus terjadi di Indonesia di antaranya pergerkan kelompok terorisme Daesh, Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah. Dengan aksi teror di berbagai tempat seperti Surabaya, Jakarta, Medan, Lampung, Jawa Barat, dan beberapa wilayah di Indonesia. Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si dalam disertasinya yang berjudul : Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia (2007) mengatakan bahwa ada beberapa kelompok di Indonesia yang selalu getol melakukan perubahan secara radikal ketika menginstrumentalisasi keyakinannya.

Jika dikelompokan maka ada 3 kelompok yang getol merubah arah agama dan negara. Pertama, Kelompok yang memiliki legal-formal yang menuntut perubahan arah sistem negara dan hukum berbasis agama, kelompok ini biasanya akan bersembunyi dibalik partai atau organisasi. Kedua, kelompok yang tampil didepan umum secara blak-blakan mendoktrin bahwa agama dan praktik agama merupakan perintah yang mutlak dan tidak bisa dinegosiasikan, biasanya kelompok ini bersembunyi dibalik Organisasi Masyakat (Ormas) yang berjubah agama. Ketiga, kelompok yang bertindak secara militansi dan menghalalkan segala cara termasuk menghabisi nyawa orang lain ataupun nyawa sendiri, kelompok ini biasanya di sebut kelompok teroris serta separatis.

Paham radikalisme bergerak sesuai mementum dan perintah aktor dibalik layar, sehingga sangat rawan dikendalikan oleh pihak-pihak lainnya seperti kepentingan politik dan juga kepentingan kelompok ekstrem juga terorisme. Tidak menutup kemungkinan akan melakukkan aksi berjilid-jilid dan aksi besar-besaran di berbagai wilayah di Indonesia.

Membela agama dan berbagai ajarannya sebenarnya sudah dilakukan pula oleh kaum Farisi. Mereka merasa begitu mencintai Allah dan adat istiadat Yahudi. Nilai-nilai agama yang telah diyakini selama berabad-abad dan termasuk dalam Taurat harus di bela mati-matian. Namun, muncul pertanyaan besar yang dari dahulu hingga saat ini ‘Apakah agama harus dibela sedemikian rupa? Apakah Tuhan yang maha sempurna membutuhkan pembelaan yang maha rapuh seperti umatnya’?

Jika berkaca pada sejarah Tahun Gajah (عام الفيل `Âm al-Fîl) diperkirakan terjadi pada 570 Masehi & 52 tahun sebelum Hijriah. Abdul Mutalib sebagai penjaga ka’bah, lebih memilih menyerahkan urusan agama dan simbol agama kepada sang khalik yang maha perkasa.

Seperti didalam ayat berikut : Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (Al-Fiil:1-5).

Namun, agama bukan berarti tidak boleh dibela. Membela agama tidaklah perlu mengkafirkan, membunuh, melakukan aksi teror dan perusakan, sebagaimana yang kita lihat faktanya di Indonesia. Membela agama berarti memberikan pemahaman kepada orang tentang agama itu sendiri. Jika dilihat pada fakta yang terjadi sekarang, agama merupakan tempat yang empuk sebagai benteng untuk mengutuk, mengkafirkan, menglegematisi pergerakan, pembenaran, dan lainnya dari beberapa kelompok termasuk Ormas berbasis keagamaan, tak ada ubahnya seperti kelompok pereman pasar.

Baca Juga : Kenali Ciri-Ciri Teroris Lone Wolf
Mewaspadai Donasi Kemanusian Untuk Danai Terorisme

Di Indonesia, paham seperti ini subur ditengah-tengah masyarakat apalagi dibumbui dengan iming-iming agama serta surga. Selain itu paham radikalisme sudah menyasar media, media sosial, lembaga pendidikan, pemerintahan, dan juga tokoh-tokoh agama. Yang menjadi perhatian publik saat kasus Basuki Tjahaja Purnama, fenomena kekerasan atas nama agama semakin menjadi-jadi. Dari yang dewasa hingga anak-anak kecil seolah-olah agama mengajarkan kekerasan dan membunuh.

Indonesia sendiri dikenal sebagai negara yang ramah dan guyub dimata dunia, namun jika sudah bersingungan makna guyub dan ramah mungkin belum bisa disematkan pada masyarakatnya. Agama merupakan isu yang sangat sensitif apalagi sudah dikontaminasi oleh pergerkan kelompok radikalisme. Pendewasaan pemahaman tentang agama dan memehami agama bukan sekadar tekstual menjadi penting dalam mengikis peran kelom radikalisme di Indonesia. Dengan demikian, tagline ‘NKRI menolak radikalisme, titik’ bukan sekadar wacana dan impian siang bolong, untuk merubah negara yang ramah atas semua agama.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa dan Spirit Toleransi

Menjelang bulan suci Ramadhan, seringkali teror dan bom bunuh diri terjadi. Terakhir, terjadi bom bunuh diri di Gereja Katedral, Kota Makassar dan…
KolomNasihat

Sunnah Sahur

Sahur merupakan elemen penting dari puasa. Sahur merupakan waktu yang tepat mempersiapkan asupan yang cukup agar dapat berpuasa sepanjang hari. Namun, tidak…
Kolom

Indahnya Puasa Sambil Bertoleransi

Dalam kehidupan, saling menghargai antar sesama manusia sangat diperlukan, apalagi di saat bulan puasa. Bulan Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk menebar virus toleransi antar manusia. Karena toleransi atau kerukunan antar umat beragama menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan membangun perdamaian. Ketika berpuasa, kita diberi ujian untuk selalu bersabar dalam segala hal. Dengan adanya toleransi, kita dapat memperindah ibadah puasa yang akan kita jalani.

1 Comment