Menjadi Milenial Nasionalis

0
17
WhatsApp
Twitter

Beberapa minggu lalu, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Megawati Soekarnoputri, mempertanyakan perihal sumbangsih generasi milenial terhadap negara Indonesia. Pertanyaan itu merupakan sebuah pengingat, dan menjadi refleksi untuk para milenial yang memiliki peran besar terhadap masa depan bangsa ini. Milenial harus memiliki jiwa nasionalis agar dapat membangun kembali nasionalisme baru Indonesia untuk menuju negara yang maju, mandiri, dan berdaulat. Lantas, seperti apa sih milenial nasionalis itu?

Milenial adalah generasi yang hidup pada era globalisasi yang difasilitasi oleh akses kemajuan teknologi dan informasi yang tiada batas, sebagaimana pendapat Taylor dan Keeter (2010) yang dikutip oleh Turner (2013) mengatakan bahwa generasi milenial merupakan generasi pertama yang memiliki kontak rutin dengan seluruh informasi yang diakses melalui internet. Generasi ini menjadikan globalisasi sebagai referensi utama dalam menjawab isu kekinian, mengetahui fakta kekinian, serta mengetahui perkembangan video, film, lagu-lagu dan berita dalam waktu yang bersamaan.

Baca Juga : Membangun Nilai-nilai Kepahlawanan Pada Milenial
Pancasila sebagai Strategi Kebudayaan dan Pembudayaan

Kemunculan generasi milenial, merupakan bukti bahwa perubahan zaman mengarahkan generasi muda memiliki perubahan dalam aspek kehidupan. Namun, ciri khas dari bangsa ini tidak seharusnya memudar, karena tatanan budaya merupakan bagian dari identitas diri rakyatnya. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang keberadaannya telah menguat selama ini, memberikan ciri khas yang membedakan bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain.

Tren perkembangan milenial memunculkan anggapan bahwa kehidupan milenial, lebih mengarah pada pola pikir terbuka ala budaya barat. Oleh karena itu, milenial dikhawatirkan tidak memiliki rasa nasionalisme yang cukup tinggi, mengingat usia Indonesia telah mencapai 75 tahun kemerdekaan, namun belum optimal dalam mewujudkan kemajuan bangsa melalui kiprah pembangunan generasi saat ini.

Internet memang telah mengubah pola konsumsi generasi milenial terhadap nilai-nilai nasionalisme. Mereka dahulunya biasa mendapatkan materi nasionalisme dari bangku sekolah dan para tokoh masyarakat, tentunya kondisi sekarang sudah jauh berbeda, kini mereka berpindah ke berbagai media yang lebih instan yang kerap menyajikan konten yang mengarahkan pada perang opini, dan tidak adanya filter konten yang mungkin tidak sejalan dengan nilai-nilai di masyarakat, seperti cyber bullying, dan lain-lain.

Oleh karena itu, pola konsumsi milenial tehadap informasi wawasan kebangsaan yang berubah ini, harus direspons oleh seluruh masyarakat secara cepat dan tepat. Pola interaksi sosial dan pembicaraan mengenai nilai-nilai dan wawasan kebangsaan di ruang maya harus benar-benar dijaga.

Nasionalisme di Indonesia sendiri, tentunya tidak dapat dipisahkan dari prinsip-prinsip kehidupan yang diurai melalui nilai-nilai Pancasila. Salah satu sifat dari Pancasila, ialah fleksibel, yang mana Pancasila dapat mengikuti perkembangan zaman. Artinya, bagaimanapun perubahan besar pada globalisasi ini, Pancasila masih dapat diterapkan. Namun, kekhawatiran terhadap memudarnya rasa nasionalisme milenial semakin besar, karena semakin jauhnya Pancasila dari kehidupan milenial, salah satunya yakni pudarnya rasa persatuan karena penyebaran informasi yang salah, dan tidak berimbang yang berujung pada fitnah dan perpecahan.

Maka dari itu, rasa nasionalisme sangat penting sekali bagi milenial, untuk bisa menjadi bangsa yang maju, modern, aman, damai, adil, dan sejahtera di tengah arus globalisasi yang semakin hari semakin menantang negara ini. Semangat nasionalisme, dibutuhkan agar tetap eksisnya bangsa dan negara Indonesia. Nasionalisme yang tinggi dari milenial dapat membuat perilaku positif dan terbaik untuk bangsa dan negara.

Menjadi milenial nasionalis, yaitu dengan cara terus berpegang teguh kepada nilai-nilai Pancasila, dalam situasi dan kondisi apapun. Memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan keragaman budaya dan nilai Indonesia di dalam negara sendiri, juga negara luar sangat diperlukan.

Tentunya, milenial nasionalis bukan hanya menjadi konsumen sosial media yang dengan mudah menyerap apapun informasi yang dilihat dan dibacanya, tanpa memfilter dengan mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Namun, milenial nasionalis yakni anak muda cerdas yang tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang belum diketahui kebenarannya, ikut menjaga persatuan bangsa, serta mempunyai gagasan besar untuk masa depan bangsa, salah satunya dengan cara mengembangkan dan memperkenalkan keragaman yang dimiliki bangsa ini kepada bangsa lain. Hal itu memang bukan sesuatu yang mudah, tetapi kita tidak boleh menyerah. Milenial boleh saja kekinian, dengan syarat tidak melupkan jati diri bangsanya.