Kolom

Rizieq di Arab Saudi, Indonesia Fine Kok

4 Mins read

Kabar kepulangan pentolan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab, kembali mencuat ke publik. Berbagai laman media sosial dan media maenstream sedang dibuat ramai akan kepulangannya. Pasalnya, bukan kali pertama Rizieq Syihab mengutarakan keinginannya untuk pulang ke Tanah Air, tercatat sudah 6 kali Rizieq mengumumkan kabar kepulangannya melalui unggahan Youtube FrontTV.

Melalui siaran Youtube chanel FrontTV, Rizieq mengumumkan akan bertolak dari Bandara Kota Jeddah pada Senin (9/11/2024) pukul 19.30 waktu Saudi dengan pesawat Saudi Airlines, SV 816 dan akan tiba di Bandara Cengkareng pada Selasa (10/11/2024) pukul 9 pagi, waktu Jakarta. Selain itu, ia juga menjelaskan akan menghadiri sejumlah agenda yang telah direncanakan ketika di Saudi, diantaranya, menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW di kediaman sang guru, Sayyidil Walid Al Habib Ali bin Abdurahman Assegaf di Tebet, Jakarta selatan dan menikahkan putri keempatnya Syarifah Najwa Syihab di Petamburan, yang mana itu adalah markas FPI.

Menurut analisis saya, serangkaian acara yang akan dilakoni Rizieq setelah kepulangannya, menunjukan Rizieq sebagai warga negara yang tidak patuh aturan. Kita semua tau, bangsa ini dan bangsa lain pun masih bergulat dengan covid-19. Bagaimana mungkin seorang WNI yang lepas dari luar negri dengan leluasa menjalankan aktitas diluar rumah dalam waktu secepat itu. Padahal, aturan Menteri Kesehatan dalam Surat Edaran benomor HK.02.01/Menkes/313/2020 tentang Protokol Kesehatan Penanganan Kepulangan WNI, mengharuskan melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Agenda penyambutan pun diyakini menarik banyak massa dari pengikutnya. Resiko melanggar protokol kesehatan dan potensi membuat klaster baru penyebaran covid-19 rasanya sulit terhindarkan. Bukan tanpa alasan, posisi Rizieq sebagai panutan ormas FPI, memang mempunyai cukup banyak basis masa militan.

Berbicara FPI memang tak bisa lepas dari Rizieq Syihab, karena ia memang sebagai pendiri dari ormas tersebut. Sejak berdirinya pada 17 Agustus 1998, FPI dan Rizieq Syihab terus menjadi sorotan. Hal ini ditengarai karena FPI sebagai ormas keagamaan yang kontroversial berkat aksi-aksinya yang lebih mengedepankan kekerasan dalam menghadapi banyak perkara.

Padahal, sebagai ormas dengan embel-embel Islam, seharusnya banyak menyebarkan pesan damai, bukan sebaliknya. Terlebih di negara yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman ini. Islam jelas agama yang damai dan mencintai kedamaian, sebagaimana Allah jelaskan dalam al-Quran surat al-Anfal, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengan lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Alfal:61). Dalam ayat ini menujunjukkan, bahwa Islam adalah ajaran yang condong pada kedamaian, bukan justru memecah belah dan membuat konflik berkepenjangan.

Tak beda jauh dengan FPI sebagai ormas yang dipimpinnya, Rizieq Syihab selaku individu, pun tak luput dari membuat kontroversi-kontroversi yang menyeretnya ke ranah hukum. Beberapa kasus mulai dari kasus pornografi, penghinaan Pancasila, dan pencemaran nama baik Soekarno, hingga kasus ujaran kebencian. Namun memang, ada dua kasus yang dihentikan Polri, disebabkan kurangnya bukti dan alasan HAM tersangka.

Pasca kekalahan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Rizieq Syihab bersama keluarganya menunaikan nazarnya untuk umrah ke Tanah Suci Makkah. Beredar isu, kepergianya hanya pelarian dari hukum atas kasus yang tengah menimpanya, yakni kasus chat syur dengan tersangka makar Firza Husain. Dan sudah hampir 3,5 tahun sejak kepergiannya, 26 April 2017, kini sang Habib berencana balik ke Indonesia 10 November 2024 esok.

Kabar inipun disambut dengan antusias oleh para pengikutnya, pasalnya, semenjak kepergian sang Habib ke Arab Saudi, ormas FPI seperti kehilangan taring, ditambah surat izin FPI hingga kini belum juga diperpanjang oleh Mendagri.

Rizieq Syihab barangkali menjadi sosok yang begitu diburu saat ini oleh sebagian kelompok orang dan media, setelah sekian tahun menetap di Arab Saudi. Rizieq memang bukan orang baru dalam paradigma kalangan pengamat sosial maupun masyarakat. Sebelum terjerat bermacam kasus, dia dianggap mewakili kalangan Islam fundamental paling lantang waktu itu.

Umat Islam sebagai mayoritas warga negara ini tentunya mempunyai inisiatif lebih banyak terkait masa depan bangsa ini. Dimana kemajuan dan persaingan dengan bangsa lain merupakan masalah krusial sebenarnya. Disaat seharusnya bangsa ini harus berenjak dari kebiasaan mudah tersinggung oleh bahasa agama menuju dunia, persaingan kita tidak dapat memikirkannya lebih luas.

Jutaan masa membanjiri Jakarta pada 2 November 2024 lalu menjadi saksi betapa mantra Rizieq Syihab begitu kuat. Jarang sekali ditemukan sosok Solidarity Maker sekaligus demagogis ulung sepertinya. Disaat modernisasi lebih menempatkan pada individualis sempit, dia menjawabnya dengan massa yang luar biasa.

Ada seruan jihad dan takbir bersamaan sampai long march massa aksi dari Garut menuju Jakarta. Tetapi setelah aksi kita bertanya, Islam siapa yang diselamatkan? Atau lebih jauhnya, muslim mana yang terselamatkan? Bukankah Islam yang maju Islam yang membebaskan? Tidak kecil dana yang digunakan dalam aksi bela Islam berjilid-jilid itu. Jika yang dikejar itu jihad, bukankah mensedekahkan dana pada panti asuhan atau lembaga pendidikan Islam yang masih belum baik kondisinya jauh lebih besar hasilnya? Mayoritas miskin di negeri ini pastilah muslim, dan itu tak usah memakai metode matematika baku.

Lantas, apakah kepulangan Rizieq Syihab sebuah kabar baik bagi bangsa ini? Jawabnya bisa iya, bisa tidak. Menjadi kabar baik karena Rizieq Syihab, bagaimanapun masih menjadi warga negara Indonesia. Kemudian menjadi tidak baik atas dasar rekam jejak sang Habib yang suram di negeri ini. Hasil survai Parameter Politik Indonesia, seperti dipaparkan Adi Prayitno selaku Direktur Esekutif Jum’at (29/11/2024), sebanyak 19,5 persen menolak kepulangan punggawa FPI tersebut. Dengan 24,6 persen setuju dan 45,9 sisanya tidak menjawab.

Ada sejumlah alasan mendasar yang dikemukakan kenapa masyarakat banyak menginginkan Rizieq Syihab tidak pulang ke Indonesia dan tetap di Arab Saudi. Namun alasan yang paling utama dan sering disampaikan oleh mereka adalah masalah kedamaian, keamanan, ketenangan, ketentraman, dan kenyamanan.

Menurut mereka, sejak ditinggal Rizieq, Indonesia menjadi lebih aman, tenang, damai, tentram, dan nyaman. Oleh sebagian masyarakat yang tak setuju Rizieq pulang, Rizieq dianggap sebagai “biang kerok” kegaduhan, kekerasan, ketidaknyamanan, rasisme, etnosentrisme, dan intoleransi. Masyarakat sepertinya sangat gerah dan muak dengan ulah Rizieq Syihab selama ini yang sok moralis, sering demo, mengumbar makian dan hujatan, serta melakukan berbagai aksi kekerasan, sehingga mereka merelakan Imam Besar FPI itu pergi dari Indonesia untuk selamanya.

Dipihak lain, seperti aktivis Jaringan Gusdurian Syafiq Alielha juga menuturkan pendapatnya. Menurutnya, Indonesia lebih baik tanpa Rizieq Syihab. Alasannya, FPI seringkali melakukan tindakan kekerasan dan intimidasi yang meresahkan. Dan juga, Rizieq sendiri pernah dua kali dipenjara karena tindak kekerasan.

Pada akhirnya, bagaimanapun efek yang ditimbulkan oleh polemik kepulangan Rizieq Syihab adalah masyarakat itu sendiri yang merasakannya. Kita mesti jujur, betapapun kita menginginkan tidak adanya tindak-tindak kejahatan dalam konstitusi dan dalam masyarakat kita, cara-cara penyelesaian dengan kekerasan dan anarkis seperti yang sering di lakukan Rizieq Syihab dan FPI bukan cara yang kita ingini. Negeri ini telah mempunyai nilai-nilai luhur yang harus kita bumikan. Keberagaman, gotong royong dan toleransi adalah identitas kita, maka kiranya Indonesia akan baik-baik saja tanpa kehadiran Rizieq Syihab di bumi pertiwi.

Related posts
Kolom

Fatwa MUI Hambat Vaksinasi

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa mengenai vaksin AstraZeneca. Hasilnya, vaksin tersebut dinyatakan mengandung tripisin babi. Namun MUI menyatakan tetap boleh…
Dunia IslamKolomNasihat

Media Sosial, Sarana Dakwah Untuk Milenial

Seiring berkembangnya sains dan teknologi, perilaku manusia pun ikut berubah. Masyarakat kini lebih sering menghabiskan waktu berinteraksi dengan orang lain secara daring…
BeritaKolom

Peran Keluarga Mencegah Radikalisme dan Terorisme

Merebaknya aksi radikalisme hingga terorisme terus terjadi di Indonesia. Bahkan, setiap aksi yang dilakukan oleh kelompok ini, baik pengeboman maupun perekrutan dilegitimasi…