‘’..Sekiranya kecintaanku kepada keluarga Nabi Muhammad SAW itu sebagai penyimpangan, maka demi persaksian dunia, biar saja aku dianggap sebagai orang yang menyimpang. Sekiranya hanya disebabkan mencintai Ahlul Bait Muhammad dikatagorikan sebagai Rafidhi, maka saksikanlah dengan kecintaanku pada Ahlul Bait, maka aku adalah Syiah Rafidhi.
Wahai keluarga Rasul, mencintai tuan adalah kewajiban yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, cukuplah sebagai bukti keagungan tuan, kiranya tidak dianggap sah sholat seseorang yang tak bersholawat kepada Rasulullah SAW.’’ demikianlah Imam Syafii begitu memuliakan para Ahlul Bait melalui syair-syarirnya.
Wahai keluarga Rasul, Habib Rizieq Syihab, yang dengan kemuliaan datukmu kami memuliakan anda. Yang atas garis keturunanmu yang bersambung pada Nabi Muhmmad SAW kami menghormati dan mencintaimu. Namun tiadalah bentuk hormat dan cinta kami tetap membiarkan anda terjerumus dalam lingkaran kaum yang membuat kerusuhan di bumi pertiwi.
Anda sudah mulia dengan garis keturunanmu, hendaklah jangan sesekali melukai hati Rasulullah dengan menjadi musuh bagi sebagian bangsa Indonesia, sebab bangsa ini telah damai dengan Pancasila dan keberagamannya.
Wahai keluarga Nabi, Habib Rizieq Syihab, kabarnya Habib tanggal 10 November 2020nhendak bertolak ke Tanah Air, maka datanglah dengan membawa kedamaian pula, dengan akhlak yang baik, sebagaimana akhlak datukmu. Kami akan sambut baik apabila engkau datang dengan membawa kebaikan pula. Namun, apabila engkau pulang ke Tanah Air hanya akan membuat kegaduhan, maka ingatlah Bib, ini negara hukum, tak segan pihak berwenang akan bertindak. Tidak ada yang kebal hukum di negeri ini. Saya tegaskan, ini bukan ancaman, hanya peringatan.
Wahai Habib Rizieq yang terhormat, bangsa ini masih berkutat dengan pandemi covid-19 yang tak kunjung usai. Engkau tau Bib, kondisi ini semakin melemahkan kondisi perekononomian kita, berkurangnya pendapatan, dan banyak masalah yang mesti kita selesaikan bersama. Tak elok dan kurang pantas rasanya, jika kehadiran Habib nanti hanya mengolok-olok pemerintah, menggemakan revolusi-revolusi tak jelas itu.
Daripada menggemborkan revolusi-revolusi, mengapa anda tak selesaikan dahulu kasus-kasus yang tengah menjerat anda Bib? Saya ingatkan kembali Bib, setidaknya ada tujuh kasus yang belum tuntas menimpa anda, pertama anda terlibat dugaan chat mengandung pornografi dengan Firza Husain (2017). Kedua, kasus penghinaan simbol negara, Pancasila (2016). Ketiga, anda melakukan penghinaan terhadap budaya Sunda, yakni memplesetkan salam “Sampurasun” (2016). Keempat, kasus penguasaan tanah ilegal di Megamendung. Kelima, penghinaan terhadap agam Kristen (2016). Keenam, penghinaan agama, anda dilaporkan oleh Forum Mahasiswa pemuda lintas Agama pada 8 Januari 2017. Ketujuh, kasus logo komunis (palu-arit) pada mata uang pecahan 100 ribu juga di tahun 2017.
Sebagai orang awam, saya kemudian bertanya-tanya, bagaimana seorang yang terjerat kasus hukum melakukan revolusi? Apa yang akan di revolusi? Atau mungkin maksud anda, mental anda yang perlu direvolusi? Entahlah, yang jelas, rakyat Indonesia tak ingin ada kerusuhan-kerusuhan lain yang akan hadir ketika anda pulang .
Mengenai kasus penghinaan terhadap Rasulullah di Prancis, tolok ukur yang seyogyanya kita contoh, kita jadikan rujukan, semestinya adalah pembawa Islam itu sendiri, yakni Rasulullah SAW. Bagaimana sang Nabi merespon penghinaan atau ejekan yang dialamatkan pada dirinya. Memang, sejatinya tak hanya Nabi Muhammad SAW yang pernah di hina, semua Nabi dan Rasul yang datang ke dunia ini tak lepas dari penghinaan, ejekan, bahkan upaya pembunuhan, kisah-kisah ini pastinya engkau lebih tau.
Syahdan, ketika Nabi Muhammad SAW berada di Thaif, beliau tidak hanya dicaci dan di hina, namun diusur dan dilempari batu. Darah mengucur dari kepala Nabi. Melihat kondisi Nabi, malaikat Jibril as menghampiri Nabi dan menawarkan untuk menimpakan gunung kepada para penganiaya di Thaif yang kejam itu. Alih-alih menyetujui usulan Jibril, Nabi justru memilih mendoakan mereka agar mendapat hidayah dan keturunan mereka dikaruniai nikmat Islam.
Doa Rasulullah kepada Allah SWT: “Wahai Allah, saya mengharapkan dari keturunan mereka itu akan lahir orang-orang yang beribadah kepada Engkau. Dan wahai Allah, saya memohon kepada Engkau agar doa saya ini Engkau kabulkan.
Anda juga pasti tau, Rasulullah lahir kedunia tak lain untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya aku (Muhammad SAW) diutus untuk menyempurnakan akhlak. (HR. Ahmad)
Wahai Habibana Rizieq Syihab, sebagai orang yang berilmu, mengapa anda pula tidak menasehati menantu anda, Habib Hanif Al Athos, yang membenarkan bahkan menghalalkan membunuh penghina Rasulullah? Seolah beliau yang paling tahu hukum Allah bagaimana, sedang Allah sendiri Maha pemaaf, sebagaimana firmannya dalam surat Az-Zummar: “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zummar:53)
Apakah anda sadar, semakin kita keras dan membabi buta menyikapi penghina Rasulullah, semakin menyudutkan Islam sendiri. Semakin orang melihat Islam adalah agama yang menakutkan, akibatnya, timbulah Islamphobia.
Sekali lagi, mengapa tidak pesan-pesan damai yang meneduhkan bangsa Bib, yang engkau dan kelompokmu serukan? Tengoklah Al Habib Ali Al-Jufri, seorang keturunan Rasulullah yang lain, yang menuturkan dengan lembut pandangannya mengenai penghina Rasulullah, beliau berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang bodoh yang mengambarmu sejatinya bukan menggambarmu, Melainkan menggambar apa yang mereka lihat pada diri kami, yang bertentangan dengan ajaran yang engkau bawa”
Atau kalam yang meneduhkan dari Ahlul Bait yang lain, semisal Al Habib Jamal bin Toha Ba’agil, “Saat ini aku marah, sedih, kecewa, tak rela atas hinaan yang ditujukan kepada kekasihku Sayyidina Muhammad! Tapi aku juga tak akan luapkan emosiku dan marahku dengan cara yang justru membuat sedih kekasihku Muhammad! Aku tak boleh mencaci, aku tak boleh melaknat, aku tak boleh keluar dari akhlak kekasihku Sayyidina Muhammad! Maaf wahai kekasihku Muhammad. Mereka mungkin mencacimu karena melihat kami yang tak sesuai dengan tuntunan akhlakmu”
Wahai Habib Rizieq, sungguh manusiawi dan wajar jika kaum muslimin merasa terluka dan perih menyaksikan junjungan kita Rasulullah SAW dihina dan diejek. Namun kita tak pernah diijinkan untuk membalas hinaan dengan hinaan lagi. Tujukkanlah perilkau dan akhlak yang tinggi dalam setiap kondisi. Lebih-lebih al-Quran dengan tegas melarang kita menghina sesembahan lain.
“Dan janganlah kalian memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah sekain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampui batas, tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah, mereka kembali, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-AN’am 6:110)
Inilah perintah Islam yang saya pahami, yaitu untuk menegakkan kedamaian dan keselematan dalam masyarakat di seluruh dunia. Menjawab setiap cacian kotor dengan cacian lagi, adalah merupakan hal sama dengan menumpahkan kekotoran pada diri sendiri. Kita membenci perbuatan kaum kafir, namun tidak boleh melebihkan dan meninggalkan asas keadilan di dalamnya.
Demikianlah, wahai Habib Rizieq Syihab, secuil goresan pena dari saya. Semoga bisa menjadi renungan bagi anda. Kita semua ingin bangsa Indonesia tetap aman, damai, makmur, dan maju, maka pulanglah dengan dengan membawa kedamaian pula. Tabik