Peta Terbaru Kelompok Teroris di ASEAN

0
122
WhatsApp
Twitter

Pergerakan kelompok teroris seperti Islamic State Iraq and Syria (ISIS) maupun Al-Qaeda pasca-kekalahan sangatlah minim. Mengingat para pemimpin dan amirnya tertangkap atau tewas di medan perang (central of gravity), beberapa anggota kelompok tersebut berusaha keluar dari wilayah yang telah ditaklukan oleh tentara sekutu.

Setelah tewasnya Abu Bakar Al Baghdadi dan Osama Bin Laden, membuat simpatisan meningalkan pusat wilayah kekuasaan dua kelompok teroris tersebut, ada yang kembali negaranya masing-masing. Namun, ada juga yang bergabung kedalam kelompok-kelompok teroris di negara lainnya. Hal ini menimbulkan kewaspadaan setiap negara, mengingat berbahayanya anggota kelompok teroris tersebut.

Bagaimana dengan negara-negara ASEAN? Sebagai negara penyumbang simpatisan terbesar dalam kelompok ISIS dan Al-Qaeda, tentunya memiliki pengaruh besar dalam teror global. Ini dibuktikan bahwa hampir 40 persen simpatisan berasal dari negara ini dan kelompok teroris yang paling aktif dalam beberapa aksi teror serta penculikan yang menjadi perbincangan dunia internasional.

Peta pergerakan kelompok teroris di ASEAN, masih didominasi oleh kelompok seperti Moro Islamic Liberation Front (MILF), Abu Sayyaf Group (ASG), Laskar Jundullah Indonesia. Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM) Malasiya, Jemmah Salafiyah Thailand, Arakan Rohingya Nationalist Organization (ARNO), Rohingya Solidarity Organization (RSO) Myanmar dan Bangladesh, Communist Party of the Philippines/New People’s Army (CPP/NPA), Jemaah Islamiyah (JI) yang memiliki simpatisan di negara-negara ASEAN.

Namun dari kelompok tersebut, kelompok Abu Sayyaf Group (ASG) dan Jemaah Islamiyah (JI) pimpinan Abu Bakar Baasyir, masih terlibat aktif baik melakukan teror, penculikan, pelatihan, pembaitan, dan persiapan aksi bom bunuh diri ataupun melakukan indoktrinisasi secara diam-diam. Berbeda kelompok maute yang secara langsung bermitra dan terafiliasi langsung pada NIIS atau lebih dikenal dengan ISIS, lebih memilih melakukan pertempuran di Filipina yang bermula pada 23 Mei 2017 hingga saat ini.

Marawi dan Filipina mengalami kriris yang sangat parah, dimana pertempuran selama 5 bulan menghancurkan fasilitas umum dan tempat peribatan. Selain itu selama bentrokan bersenjata antara kelompok maute dan angkatan bersenjata Filipina (AFF) Sandatahang Lakas ng Pilipinas, ekonomi dan akses kesehatan mengalami masa yang paling buruk dalam sejarah kota Marawi.

Pertempuran bermuara pada penangkapan Isnilon Hapilon, Ia merupakan pimpinan kelompok Abu Sayyap, akhirnya militan kelompok Maute menyerang Kamp Ranao dan menduduki beberapa bangunan di kota tersebut, termasuk Balai Kota Marawi, Universitas Negeri Mindanao, sebuah rumah sakit, dan penjara kota dapat diambil alih oleh kelompok tersebut dalam waktu yang sangat singkat. Selain itu kelompok muate membakar Gereja Santa Maria, Sekolah Ninoy Aquino, dan Perguruan Tinggi Dansalan, yang dikelola oleh Gereja Serikat Kristus di Filipina (UCCP) serta menyandera seorang pastor dan jamaat gereja tersebut.

Filipina sendiri diperediksi menjadi ruang yang yaman bagi kelompok teroris dan simpatisan yang dideportasi oleh Irak, mengingat retruneer sangat sulit meningalkan ideologi yang dianut dan diakui sebagai ideologi yang maha benar, dan lebih memilih bergabung kembali pada kelompok teroris seperti kelompok Abu Sayyap yang memiliki ideologi yang sama yaitu khilafah Islamiyah. Dalam buku Wajah Baru Terorisme, yang ditulis oleh Irjen Pol Hamidin Aji Amin, Ia menulis bahwa memprediksi bahwa Burma menjadi ancaman baru setelah Filipina.

Meskipun demikian, kelompok teroris di ASEAN dan simpatisan retruneer bisa kita pandang sebelah mata. Ancaman kelompok teroris seperti api dalam sekam, yang mampu menghancurkan sebuah negara apabila kelompok-kelompok tersebut bersatu. Dengan demikian, budaya berpikir kritis menjadi kunci membantengi diri dan negara terhadap pergerakan kelompok teroris di ASEAN maupun global.