Literasi Nasionalisme, Pupuk Suburnya Benih Kebangsaan

0
44
WhatsApp
Twitter

Indonesia dianugerahi Tuhan sebagai bangsa yang kaya raya, sumber daya alam yang melimpah, dan tentu dengan subur tanahnya. Kesuburan negeri kita sudah terkenal sejak zaman dulu. Bahkan, pujangga masa lalu melukiskannya, gemah ripah loh jinawi. Kesuburan itu pula, yang dulu menjadi cikal bakal kita hidup dalam cengkraman penjajah. Penjajah yang menindas, mendiskriminasi, dan otoritarian terhadap pribumi.

Hebatnya, dan yang mesti disyukuri adalah saking melimpahnya kekayaan alam kita, ia tidak juga habis dilekang zaman walau dijajah selama tiga abad lebih. Hal ini pula yang kelak menyadarkan para pendiri bangsa kala itu, untuk bersatu-padu membangun kekuatan melawan kolonialisme dan imperialisme Barat. Merajut persatuan dan merebut kemerdekaan, hingga lestari sampai kini, ke ke-75 tahun. Namun, di balik perjuangan, kekayaan sumber daya alam, dan suburnya tanah kita itu, tidak malah menyuburkan rasa kecintaan kita terhadap Tanah Air. Literasi nasionalisme, perlahan dengan pasti mulai kabur dalam ingatan dan sanubari para generasi penerus bangsa, khususnya pemuda.

Padahal, semangat nasionalisme sebagai warisan para pendiri bangsa sangatlah vital keberadaanya sebagai pedoman dan acuan dalam menghadapi tantantangn-tantangan zaman yang semakin kompleks. Benedict Anderson (1935-2015), Indonesianis berkebangsaan Inggris menyatakan, bahwa gagasan nasionalis mereka sebagai zaman terbitnya cahaya. Nasionalisme kita adalah pionir kebebasan, cahaya yang membawa bangsa menuju hari-hari yang benderang “kemerdekaan”. Karena itu, memprihatinkan jika semangat itu mulai terkikis, kabur dikejar-kejar modernitas.

Kita (pemuda) merupakan barometer perubahan suatu bangsa. Benedict Anderson dalam REVOLOESI PEMOEDA: PENDUDUKAN JEPANG DAN PERLAWANAN DI JAWA 1944–1946 (1988), mengungkapkan bahwa pemuda Indonesia merupakan penggerak revolusi. Dengan begitu, kepeloporan pemuda dalam bingkai NKRI merupakan keniscayaan. Namun lagi-lagi, cukup disayangkan jika di era pandemi ini, pemuda acap kali terperangkap pada suatu imajinasi yang minim spirit kebangsaan. Alih-alih hadir sebagai sosok pahlawan bangsa, pemuda malah tersesat dalam era kebohongan. Terkungkung pada ilusi tanpa substansi, yang hanya sibuk menerjemahkan dirinya sebagai pemuda modern. Perangkap ini yang menjadi alasan, kenapa pemuda tidak lagi mampu berpikir kritis, tunaliterasi, latah peradaban, dan bahkan luput terhadap persoalan-persoalan bangsa.

Bukan tanpa akibat, tentu saja ini menjadi kabar buruk bagi kita. Padahal, dalam beberapa dekade kedepan Indonesia disinyalir menjadi negara yang siap menghadapi persaingan global dengan bonus demografinya yang di atas rata-rata. Seperti dilansir oleh BPS (badan pusat statistik) proyeksi penduduk tahun 2015-2045 hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 269,6 juta jiwa pada tahun 2020. Angka tersebut terdiri atas 135,34 jiwa laki-laki dan 134,27 jiwa perempuan. Jika dilihat dari kelompok umur posisi terkecil ada di kelompok umur 0-4 tahun (66,07 juta jiwa) disusul pada usia tidak produktif yaitu usia 65+ tahun (18,2 juta jiwa) dan terbesar berada pada usia 15-64 tahun (185,34 juta jiwa).

Melihat data di atas sangat jelas usia produktif lebih banyak, sehingga angka ketergantungan akan semakin kecil. Tingginya penduduk usia produktif akan mampu secara optimal berkontribusi dalam pembangunan nasional bangsa ini. Namun, yang menjadi harap-harap cemas adalah tatkala pertumbuhan angka usia yang produktif itu, tidak beriringan dengan produktifnya kualitas dan karakter kita sebagai generasi penerus bangsa. Dan kemungkinan buruknya, kita tidak akan mampu bersaing dengan bangsa lain dalam era globalisasi, dan tidak menutup kemungkinan berdampak pada disintegrasi bangsa.

Oleh sebab itu, dalam menangkal kemungkinan-kemungkinan demikian tidak ada jalan lain, selain menumbuhkan kembali benih-benih kebangsaan. Merajut puing-puing kebangsaan yang mulai terurai. Pemuda dalam hal ini adalah aktor utama sebagai nahkoda untuk membawa Indonesia berlayar dengan perkasa menghadapi badai-badai globalisasi. Pemuda sebagai tonggak masa depan bangsa, harus berdiri gagah dengan semangat kepemudaan dan kebangsaannya.

Benih-benih kebangsaan harus tumbuh subur di tanah yang masyhur dengan kesuburannya. Dan barang tentu, kebangsaan hanya dapat tumbuh jika ditanam dengan apik, bermodalkan literasi yang luas, dan dipupuk dengan jiwa nasionalisme yang besar. Karena, hanya dengan pupuk literasi nasionalisme benih-benih kebangsaan kita bisa tumbuh subur dan menyuburkan.