Revolusi digital, dewasa ini, seakan sudah menjadi barometer dunia memasuki zaman peralihan yang sukar untuk dikatakan kemunduran. Pasalnya, revolusi digital bersamaan dengan keterbukaan globalisasi telah membawa dunia pada satu tatanan yang baru. Percepatan, keterbukaan informasi, budaya, dan ideologi-ideologi transnasional.
Namun, bukan tanpa persoalan di balik semua kemajuan itu. Di samping kita dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas modernitas, pun kita juga dihadapkan pada satu permasalahan yang tidak dapat kita katakan, remeh, yakni disintegrasi bangsa. Media sosial yang merupakan anak kandung globalisasi hasil persilangan dengan revolusi digital telah menjadi lumbung tumbuh suburnya jamur-jamur perpecahan. Disintegrasi dalam dunia permedsosan telah menjelma momok yang menakutkan untuk masa depan bangsa-bangsa, menggerus eksistensi nasionalisme kita, tak terkecuali Indonesia.
Nasionalisme yang telah berpuluh-puluh tahun kokoh menjadi pionir jati diri bangsa, kini mulai memperlihatkan keruntuhannya. Asas persamaan digerogoti oleh ketidakadilan, ditumbangkan oleh paham-paham transnasional yang fundamental, dan sedikit secara pasti digerus oleh budaya luar. Mirisnya, tindak-tanduk demikian tidak hanya disuburkan oleh masyarakat awam, tetapi juga oleh para terpelajar, cendekia, dan para elite.
Elemen masyarakat Indonesia yang beragam, yang mestinya menjadi alasan persatuan dan menjunjung tinggi keadilan serta kesejahteraan, nampaknya dialpakan. Media sosial yang sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat kita, seakan menjadi dewa penyampai kebenaran, membawa kabar-kabar angin yang serampangan dan incredible. Ironinya, hal ini malah dijadikan ajang saling menghujat, membenci, dan mengkritik tanpa alasan. Mengumbar aib pribadi, melucuti keburukan teman, pemerintah, dan lawan tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya.
Mengingat Aristoteles, ia pernah mengatakan persoalan asas kesejahteraan yang terlalu diumbar, merupakan salah satu sebab ancaman disintegrasi bangsa. Di samping instabilitas yang diakibatkan oleh para elite dan pelaku politik yang tidak lagi bersikap netral, pun karena campur-tangan masyarakat kita yang awam tanpa landasan. Meskipun, barangkali filosofi politik klasik Aristoteles dianggap usang, tetapi jika dilihat dalam konteks masa kini, orientasinya tetap bisa dijadikan sebagai acuan. Paling tidak untuk melihat sebab-sebab munculnya disintegrasi bangsa.
Setidaknya, ada tiga hal yang menyebabkan disintegrasi bangsa di media sosial. Pertama, menjamurnya berita hoaks. Kedua, masif masuknya arus paham-paham transnasional. Ketiga, ujaran kebencian yang tidak juga surut. Jelas, hal-hal demikian nyata adanya dan dapat disaksikan oleh umat manusia di belahan dunia. Media sosial dengan persoalan-persoalannya yang kompleks telah membawa percikan disintegrasi bangsa.
Namun, melihat semua bahaya itu, bukan berarti kita mesti memboikot media sosial, meninggalkannya jauh-jauh dari kehidupan kita, dan menjadikannya satu barang yang hanya pantas ditempatkan di museum. Justru, kita mesti hadir di antara semua itu. Kita mesti menjadi satu bagian kecil dari pembawa pembaharuan. Menjunjung tinggi keberagaman, melestarikan semangat kemerdekaan, dan kebangsaan. Karena, kebangsaan kita, Benedict Anderson menafsirkannya sebagai imagind communities. Suatu kesadaraan satu, merasa bersaudara, dan menyatu satu sama lain, walau tanpa dan tidak pernah saling bertemu. Karena persamaan rasa dan budaya.
Indonesia lahir dari semangat nasionalisme yang tinggi dan pergumulan imajinasi persatuan, tanpa melihat perbedaan. Grosby, S. (2011) dalam bukunya Sejarah Nasionalisme, Asal-usul Bangsa dan Tanah Air mengatakan, bangsa satu adalah suatu wilayah komunitas dari tanah kelahiran, seorang dilahirkan ke dalam suatu bangsa yang bercirikan pada fakta biologis ke dalam sejarah, struktural, teritorial dari komunitas kebudayaan. Karena itu, persatuan yang telah ditempa dari pergumulan perbedaan gagasan, etnis, bahasa, agama, dan budaya tidak boleh luntur dan lekang dimakan zaman.
Media sosial, tidak boleh menjadi momok dan ancaman berbahaya disintegrasi bangsa. Sebaliknya, media sosial harus menjadi satu wadah merajut persatuan bangsa kita, yang terpisah oleh pulau dan lautan.