Penyelewengan nalar adalah ketika ajaran agama sudah dianggap membelenggu manusia. Padahal pada prinsip ketauhidan Islam, ajarannya menjunjung tinggi kebebasan umat, tetapi umat Islam masih tak banyak yang mengetahui ini. Dengan demikian, sifat manusia yang menuntut kebebasan dari banyak aturan hakikatnya mereka telah terkekang oleh dirinya sendiri karena bisikan nafsu yang tak berkesudahan, hanya saja mereka tak menyadari itu.
Pada kenyataannya, tak ada satu kebebasan pun yang dapat memuaskan seseorang. Dahulu pembebasan orang Afrika berkulit hitam oleh Islam menjadi pusat perhatian kalangan Vatikan. Makalah Kayhan al-‘Arabi yang berjudul Kekhawatiran Vatika terhadap Pertumbuhan Islam di Afrika (1990) mengisahkan, kendati agama Kristen membawa ajaran ke Afrika, orang-orang Eropa tetap bertahan atas superioritas kulit putihnya, ketimbang kulit hitam dan keengganannya berbaur dengan pribumi Afrika.
Hal ini pula, yang menjadikan orang Eropa tetap beribadah di gereja-gereja yang mereka dirikan sendiri. Lain halnya dengan Islam, keberhasilan ajarannya menempatkan manusia pada derajat yang sama. Semangat umat Islam dalam prinsip tauhidnya, berimplikasi pada pembebasan praktik rasisme. Bahkan umat Islam, berbaur dengan para pribumi Afrika dan mengajaknya pada agama Islam. Alhasil mereka bisa bersosialisasi layak, baik dalam kegiatan ibadah maupun aktivitas sehari-hari lainnya dengan sikap yang terbuka dan egaliter.
Ajaran tauhid atau monoteistik yang diajarkan Islam bersifat total. Totalitas tauhid terumus pada formulasi kalimat lailahaillallah (tiada tuhan selain Allah) dapat dimaknai sebagai pembebasan. Yakni menyakini hanya Allah adalah sebagai Tuhan yang Maha Esa, tentu mampu membebaskan manusia dari segala belenggu kesyirikan dan paganisme. Jika kesyirikan zaman dulu adalah penyembahan berhala, maka modern kini didasari pada sikap dan perilaku seseorang terhadap harta, tahta dan syahwat atau seks.
Ekspresi semangat tauhid yang membebaskan manusia adalah ketika seseorang sampai pada titik kekuatan mental tak ada lagi kebutuhan untuk dirinya, kecuali Allah SWT. Terlepas dari segala penyembahan sesuatu, manusia, materialistik, alam dan rasio, ia mampu terbebas dari semua belenggu hawa nafsu sekaligus penolakan thaghut, seperti yang dikatakan A. Hassan thaghut diartikan apa-apa yang melewati batas. Melalui kebebasan tauhid, seorang akan menemukan kebenaran, kiranya ia bisa menentukan dengan akal yang sehat, bahwa kebebasan yang berada dalam ketentuan Islam akan menyelamatkan manusia dari keburukan tiraninya.
Tauhid membebaskan kita untuk menentukan masa depan yang pelik, lagi fana. Sebab tauhid sejatinya, tidak membelenggu manusia yang hanya berharap-harap kebaikan Tuhan tanpa melakukan hal apapun, seperti yang dikatakan Karl Marx, teologi Barat meninabobokan manusia dari nasib buruknya agar bersabar dan bertahan akan penderitaan dan peperangan. Dengan dalih Tuhan akan memberikan balasan surga. Karl Marx mengkritik teologi Barat, agama hanya nina bobo belaka, sebab pihak gereja kala itu yang bersekongkol dengan penguasan Romawi agar bisa menindas, memperbudak dan pasti membelenggu rakyatnya, sementara pihak gereja mendapat keuntungan dari konspirasi terselubung yang mengatasnamakan Tuhan.
Perihal ketauhidan yang dimaksud Karl Marx di atas, tentu tidak memberi kebebasan karena perintahnya untuk bersabar dan bertahan. Sebab itu, semangat tauhid dalam Islam adalah mengajak umatnya dalam kebebasan. Menurut Asghar Ali Engineer dalam buku Islam dan Pembebasan, ia melihat ada tiga kebebasan dalam manusia, yaitu kebebasan dari praktik rasisme, pembebasan perempuan dari budaya patriarki yang tidak lagi mensubordinatkan perempuan, pembebasan dunia dari kapitalistik yang meneguhkan timpangan ekonomi dunia (2007:16).
Respons Asghar Ali, ketika kaum lemah dihadapkan pada ketidakadilan, kemiskinan, agama terkadang melegitimsi penguasa, dan justru institusi agama bersifat mandul. Ia pun tak mengelak jika hal ini termasuk ada dalam Islam, sebab satu sisi Islam masih banyak yang berbicara Tuhan ada dalam diri mereka dan persoalan eksaktologis. Meski di sisi lain, Islam mengukuhkan pembebasan yang lebih revolusioner dalam ajarannya. Yakni pembebasan budak, bebas melakukan perlawanan terhadap orang kafir ketika diserang, dan ayat pembebasan lainnya.
Oleh karena itu, tauhid yang membebaskan adalah tauhid yang ada dalam ajaran agama yang murni. Terlebih Islam, yang jelas dengan semangat tauhid dengan pembebasan revolusionernya, sudah semestinya umat Islam tidak merasa terbelenggu akibat kebebasan yang tidak bertanggung jawab karena kemusyrikan dan hawa nafsu saja. Bagi Nurcholish Madjid, kebebasan dan tanggung jawab itu ibarat dua keping mata uang. Tak ada kebebasan tanpa tanggung jawab dan tak ada tanggung jawab tanpa kebebasan (Islam doktrin dan peradaban: 2019).
Walhasil seluruh umat harus bisa menilai secara sadar, kebebasan yang berasal dari tauhid adalah kebebasan yang bertanggung jawab dan memberikan kemaslahatan. Kendati seseorang merasa terkekang karena aturan ajaran atau norma agama, boleh jadi kebebasan yang dituntutnya adalah tirani di luar kewajaran sebagaimana mestinya, dan menyusul pada kemudharatan.