28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Yang mana, 92 tahun silam, para pemuda bersumpah untuk tetap mempersatukan Tanah Air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka, para pemuda mengobarkan dan menggelorakan, serta menyuarakan tekad bulat dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Selain kita mengingat sejarah bagaimana perjuangan para pemuda di masa lalu, pemuda hari ini memiliki tugas besar untuk membumikan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa, yang harus terus dirawat dan diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan sejarah gerakan pemuda dan mimpi membangun sebuah negeri. Mimpi itu bukan sekadar angan-angan belaka, terbukti pada 17 Agustus 1945, mimpi itu terwujud menjadi nyata. Keharuan menyelimuti batin anak-anak muda yang seakan tidak percaya, teriakan “Indonesia Merdeka” kala itu, menjadi sebuah kenyataan. kemerdekaan ini adalah hasil dari semangat persatuan dan perjuangan yang tanpa henti.
Perjuangan dalam membangun Indonesia pun tak berhenti. Para pemuda kembali menguras tenaga untuk memikirkan platform bersama agar terbangunnya Indonesia yang dapat mengayomi perbedaan. Meskipun perbedaan pemikiran selalu bermunculan, namun semangat keinginan merdeka dan bersatu selalu dapat mengalahkan egoisme dan kepentingan sektoral. Pancasila disepakati sebagai penengah yang dapat merangkul berbagai identitas, pandangan, dan pemikiran.
Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil penggalian terhadap kepercayaan, kepribadian, dan wawasan kebangsaan yang telah mengakar dalam kultur kehidupan masyarakat. Pancasila adalah ideologi yang lahir sebagai representasi jati diri bangsa Indonesia, yang bercita membentuk tatanan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera, dibungkus dengan semangat persatuan.
Pancasila adalah karya bersama, yang merupakan hasil dari pergulatan gagasan dari tokoh pendiri bangsa dengan mengambil nilai luhur dalam lintas sejarah bangsa Indonesia. Pancasila bukan milik segelintir kelompok, melainkan milik bersama, seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dengan Pancasila, negara yang besar dan memiliki keanekaragaman ini, mampu dipersatukan.
Namun, melihat realitas saat ini, berbagai gejala intoleransi sering kali mencuat ke permukaan. Hal ini disebabkan oleh pemahaman terhadap Pancasila yang masih tekstual, dan tidak sampai pada level kontekstual apalagi aktualisasinya. Menurut Yudi Latif dalam bukunya yang berjudul Wawasan Pancasila: Bintang Penuntun Untuk Pembudayaan, dikatakan bahwa perlunya penyegaran pemahaman dan aktualisasi nilai-nilai Pancasila untuk menangkal berjangkitnya beragam ancaman ekstremisme dan eksklusi sosial. Dengan menguatkan nilai-nilai Pancasila, Indonesia diharapkan mampu menghadapi perkembangan baru dengan suatu visi global yang berkearifan lokal.
Upaya menguatkan pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila merupakan hal yang sangat penting. Pemuda menjadi pelaku sekaligus sasaran dari upaya pembumian nilai Pancasila. pemuda selain sebagai agent of change juga merupakan iron stock, yaitu generasi penerus untuk memimpin bangsa ini nantinya. Oleh karena itu, menjadi penting untuk melibatkan dan menyasar para pemuda. Jika tidak dilakukan, maka negara dapat kehilangan calon pemimpin yang mengenal jati diri bangsanya.
Dengan demikian, pemuda menjadi sangat penting untuk membumikan Pancasila sebagai nilai dan narasi besar. Pemuda diharapkan mampu membumikan Pancasila dengan cara menginternalisasi nilai-nilai Pancasila secara menyeluruh dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, baik itu dalam ekonomi, politik, pendidikan, maupun hukum. Tentunya, ini menjadi tugas bersama untuk membumikan nilai-nilai Pancasila sembari terus mengupayakan pencegahan terjadinya perpecahan. Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh pemuda?
Pertama, pemuda harus mulai merubah mindset. Pancasila selain dipahami sebagai ideologi statis yang dapat mempersatukan, juga harus dipahami sebagai ideologi dinamis yang dapat menuntun bangsa dalam mencapai tujuannya, sehingga Pancasila dapat menemukan urgensinya sebagai sumber jati diri, kepribadian, moralitas sekaligus haluan pengarah pada kesejahteraan dan keadilan bagi segenap rakyat Indonesia.
Kedua, melakukan aktualisasi nilai-nilai Pancasila dengan cara-cara yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, menunjukkan sikap saling menghargai baik antar individu, komunitas, maupun antar agama, serta saling mendukung dan menguatkan dalam kegiatan-kegiatan yang positif.
Ketiga, membangun relasi baik dengan sesama pemuda maupun komunitas yang konsisten dan komitmen mempertahankan Pancasila, komitmen memperjuangkan cita-cita kebangsaan. Relasi ini diperlukan untuk menggalang kekuatan agar menghalau segala hal yang dapat melemahkan bangsa. Jika sudah satu visi, pemuda dapat bekerjasama dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada penguatan Pancasila, seperti membuat ruang-ruang diskusi mengenai Pancasila, membuat media yang bertujuan mengisi ruang publik dengan tulisan-tulisan, membuat kegiatan pagelaran budaya yang berisikan nilai-nilai Pancasila di dalamnya.
Maka dari itu, dengan cara-cara tersebut, pemuda dapat berkontribusi dalam pembumian nilai-nilai Pancasila. Pemuda hari ini, esok, dan seterusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa dengan cara merawat dan membumikan ideologi Pancasila.